Memahami Janji dan Peringatan: Al-Isra Ayat 68

Simbol Perlindungan dan Jalan Gambar abstrak yang menunjukkan dua jalan: satu terang dan satu gelap, dengan tangan memegang kompas di tengah. Rahmat Ujian Pilihan

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, mengandung banyak pelajaran penting mengenai tauhid, moralitas, dan konsekuensi dari perbuatan manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi bahan renungan mendalam adalah ayat ke-68. Ayat ini berbicara langsung mengenai kekuatan dan kehendak mutlak Allah SWT, khususnya dalam konteks memberikan pertolongan dan menghadapi kesulitan.

"Maka apakah orang-orang yang aman dari azab Allah (lantaran mereka tidak menyangka akan ditimpa azab itu)? Kecuali kaum yang merugi (yaitu kaum yang dihancurkan)."

(Al-Isra: 68)

Konteks Ayat dan Makna Dasar

Ayat 68 dari Surat Al-Isra ini seringkali dilihat sebagai bagian dari rangkaian ayat yang membahas bagaimana Allah menguji hamba-hamba-Nya. Ayat-ayat sebelumnya memberikan peringatan keras kepada mereka yang berpaling dari rahmat dan petunjuk ilahi. Ayat 68 berfungsi sebagai penekanan tegas bahwa keselamatan bukanlah hak yang otomatis, melainkan karunia yang harus dijaga melalui ketaatan.

Secara harfiah, ayat ini mengajukan pertanyaan retoris yang menyiratkan sebuah kepastian. Pertanyaan utamanya adalah: "Apakah ada yang merasa aman dari rencana atau ketetapan Allah?" Jawabannya tersirat jelas: tidak ada yang benar-benar aman dari siksaan atau ujian Allah, kecuali jika orang tersebut berada dalam naungan rahmat-Nya yang khusus. Namun, ayat ini menambahkan kualifikasi penting: "Kecuali kaum yang merugi."

Siapakah "Kaum yang Merugi"?

Penafsiran mengenai "kaum yang merugi" (الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ) dalam konteks ini memiliki kedalaman. Beberapa ulama menafsirkannya sebagai mereka yang telah menerima peringatan tetapi tetap memilih untuk tidak beriman atau berbuat maksiat. Mereka merasa aman—bahkan mungkin menikmati kesenangan duniawi—tetapi keamanan mereka hanyalah ilusi sesaat. Keamanan mereka didasarkan pada kelalaian, bukan atas dasar janji ilahi yang pasti.

Dalam pandangan lain, ayat ini mengingatkan kita bahwa rasa aman yang palsu adalah salah satu bentuk kerugian terbesar. Seseorang bisa saja selamat dari bencana fisik di dunia, namun jika ia kehilangan keimanan dan amal salehnya, ia telah merugi di akhirat. Ayat ini mengajarkan bahwa tolok ukur "keamanan" sejati bukanlah terhindar dari cobaan sementara, melainkan terhindar dari kerugian abadi di hari perhitungan.

Pelajaran Tentang Rasa Takut yang Bermanfaat (Khauf)

Al-Isra ayat 68 ini mendorong seorang mukmin untuk senantiasa menanamkan rasa takut (khauf) kepada Allah. Khauf yang dimaksud di sini bukanlah keputusasaan, melainkan kesadaran bahwa kekuasaan Allah meliputi segalanya, dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat menjamin keselamatan kita sepenuhnya selain dengan izin-Nya. Rasa aman yang sejati datang dari ketaatan total dan penyerahan diri, bukan dari kesombongan atau optimisme buta terhadap nasib baik tanpa usaha spiritual.

Ini berbeda dengan rasa aman yang dimiliki oleh orang-orang yang lalai. Mereka mungkin merasa aman karena kekayaan, kekuatan, atau jumlah pengikut yang banyak. Namun, Al-Qur'an berulang kali menegaskan bahwa semua atribut duniawi itu tidak berarti di hadapan kehendak Ilahi. Ketika azab datang, harta dan kekuasaan tidak akan mampu membeli pembebasan.

Implikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Pesan dari ayat ini sangat relevan untuk memoderasi perilaku kita. Kita dianjurkan untuk selalu waspada terhadap godaan untuk merasa nyaman dalam maksiat. Jika kita melakukan kesalahan, kita harus segera bertaubat, karena rasa aman yang berkepanjangan setelah berbuat dosa adalah tanda bahaya yang sesungguhnya.

Sebaliknya, bagi mereka yang sedang berjuang dalam ketaatan, ayat ini memberikan motivasi. Meskipun diuji, mereka tidak termasuk dalam golongan yang "merugi" jika hati mereka tetap teguh pada janji Allah. Mereka mungkin menghadapi kesulitan duniawi, tetapi mereka memegang kunci keselamatan hakiki. Keamanan mereka adalah keamanan yang bersandar pada janji Allah bahwa pertolongan akan datang bagi mereka yang bersabar dan bertakwa. Oleh karena itu, ayat 68 Al-Isra adalah pengingat konstan: jadikanlah ketaatan sebagai benteng, dan jangan pernah menganggap remeh kekuatan dan keadilan Ilahi.

🏠 Homepage