Pengantar Surat Al-Hijr
Surat Al-Hijr adalah salah satu surat Makkiyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran tauhid, kisah-kisah para nabi, dan peringatan keras bagi mereka yang ingkar. Meskipun seringkali ayat-ayatnya berbicara tentang azab bagi kaum yang membangkang, terselip di dalamnya petunjuk-petunjuk kelembutan dan strategi ilahi dalam menghadapi tantangan dakwah. Di antara ayat-ayat yang memiliki makna mendalam adalah ayat ke-88.
لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
"Janganlah sekali-kali kamu arahkan pandanganmu kepada kesenangan duniawi yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan mereka, dan jangan pula kamu bersedih hati terhadap mereka dan rendahkanlah sayapmu bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Hijr: 88)Larangan Membandingkan Kenikmatan Duniawi
Ayat 88 dibuka dengan perintah tegas dari Allah SWT kepada Rasulullah ﷺ: "Janganlah sekali-kali kamu arahkan pandanganmu kepada kesenangan duniawi yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan mereka...". Kata kunci di sini adalah "kesenangan duniawi" (مَتَّعْنَا بِهِ). Ayat ini mengingatkan bahwa apa yang dinikmati oleh orang-orang kafir atau musyrik—baik itu kekayaan, jabatan, atau kemewahan—adalah bentuk kenikmatan sesaat (istidraj) yang diberikan Allah, dan bukan tanda keridhaan-Nya.
Bagi seorang Nabi dan juga umatnya, memandang dengan iri atau kagum terhadap kemewahan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah adalah bahaya yang nyata. Hal ini dapat menggerogoti fokus utama seorang mukmin, yaitu mencari keridhaan akhirat. Iri hati terhadap harta dunia orang lain, terlepas dari kedudukan moral mereka, dapat merusak ketenangan batin dan keikhlasan dalam beribadah. Allah mengajarkan bahwa standar keberhasilan sejati bukanlah apa yang terlihat di permukaan dunia, melainkan bekal yang dibawa menuju akhirat.
Beban Kesedihan Seorang Da'i
Perintah kedua adalah, "...dan jangan pula kamu bersedih hati terhadap mereka...". Rasulullah ﷺ, dengan sifat kasih sayang yang tinggi, seringkali merasa sedih dan berduka atas penolakan kaumnya terhadap kebenaran. Kesedihan ini timbul dari kecintaan beliau terhadap umatnya. Namun, Allah melarang kesedihan yang berlarut-larut atau kesedihan yang menyebabkan keputusasaan.
Kesedihan yang tidak produktif hanya akan menghabiskan energi dakwah. Setelah menyampaikan risalah dengan sejelas-jelasnya, tugas seorang da'i adalah menyerahkan hasilnya kepada Allah. Peringatan ini berlaku bagi setiap Muslim yang menyeru kepada kebaikan: sampaikanlah dengan hikmah, dan jika mereka menolak, jangan biarkan kesedihan itu menghalangi langkah dakwah Anda selanjutnya. Fokus harus dialihkan kepada mereka yang menerima petunjuk.
Mempererat Barisan Mukminin
Ayat ini ditutup dengan perintah yang paling membahagiakan bagi komunitas beriman: "...dan rendahkanlah sayapmu bagi orang-orang yang beriman.". Ungkapan "merendahkan sayap" (اِخْفِضْ جَنَاحَكَ) adalah metafora kelembutan, kasih sayang, kerendahan hati, dan perlindungan, sebagaimana induk burung melindungi anaknya dengan sayapnya.
Setelah diperintahkan untuk mengabaikan kesenangan orang kafir dan melepaskan kesedihan atas penolakan mereka, fokus diarahkan penuh kepada jamaah yang sudah berada di jalan kebenaran. Kelembutan dan kerendahan hati kepada sesama mukmin adalah kunci persatuan dan kekuatan komunitas. Ketika umat saling menyayangi dan merendah di hadapan saudaranya, maka mereka akan menjadi barisan yang kokoh, tidak terpengaruh oleh godaan atau penolakan dari luar.
Pelajaran Praktis dari Ayat 88
Al-Hijr ayat 88 adalah panduan manajemen spiritual bagi Nabi dan umatnya. Pertama, **fokus pada prioritas**: Jangan terpesona oleh gemerlap dunia yang rapuh. Kedua, **keseimbangan emosi**: Bersabar dalam dakwah tanpa tenggelam dalam kesedihan atas penolakan. Ketiga, **penguatan internal**: Prioritaskan kasih sayang, kerendahan hati, dan keharmonisan di antara barisan orang-orang beriman.
Ayat ini menegaskan bahwa kesuksesan sejati seorang mukmin terletak pada konsistensinya mengikuti petunjuk Ilahi, bukan pada perbandingan material dengan mereka yang memilih jalan kesesatan. Dengan menjaga hati tetap bersih dari iri dan memelihara ukhuwah yang kuat, seorang mukmin akan menemukan ketenangan sejati, yang jauh lebih berharga daripada kenikmatan duniawi sesaat.