Surah Al-Hijr, surah ke-15 dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak pelajaran berharga mengenai tauhid, kerasulan, dan konsekuensi dari pembangkangan. Di antara ayat-ayatnya yang kuat, terdapat satu ayat yang memberikan peringatan keras dan tegas mengenai akibat dari perbuatan kaum yang menentang rasul. Ayat yang dimaksud adalah Al-Hijr ayat 95.
(Wa lā takūnū kal-ladhīna kadhdhabū bi-āyātinā fa-yushībahumul-ʿadzāb)
Terjemahan bebas dari ayat ini adalah: "Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka ditimpa azab." Ayat ini mengandung perintah larangan yang sangat jelas, yaitu larangan untuk meniru perilaku umat terdahulu yang telah diazab karena kekafiran dan pendustaan mereka terhadap wahyu Allah.
Larangan Menyerupai Pendusta Ayat Allah
Inti dari Al-Hijr 95 adalah nasihat untuk mengambil pelajaran historis. Sejarah kenabian dipenuhi dengan kisah kaum-kaum yang mendapat kesempatan untuk beriman, namun mereka memilih untuk menolak kebenaran yang dibawa oleh para utusan Allah. Contohnya adalah kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Luth, kaum Fir'aun, dan kaum Tsamud.
Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan umatnya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kata kunci dalam ayat ini adalah "mendustakan ayat-ayat Kami" (kadhdhabū bi-āyātinā). Pendustaan ini bukan sekadar ketidakpercayaan, melainkan penolakan aktif, pengingkaran, dan bahkan ejekan terhadap bukti-bukti keesaan Allah yang telah disajikan melalui wahyu dan mukjizat.
Konsekuensi yang Dijanjikan: Azab yang Menimpa
Peringatan dalam ayat ini diperkuat dengan penyebutan konsekuensi yang tak terhindarkan: "fa-yushībahumul-ʿadzāb" (lalu mereka ditimpa azab). Azab di sini bersifat umum, mencakup berbagai bentuk hukuman, baik di dunia maupun di akhirat. Bagi umat terdahulu, azab itu seringkali terlihat jelas: banjir besar, gempa bumi, petir yang membinasakan, atau penenggelaman.
Ayat ini berfungsi sebagai pengingat bahwa keadilan ilahi pasti berlaku. Jika manusia secara sengaja dan terus-menerus mendustakan kebenaran setelah penjelasan yang gamblang, maka konsekuensi berat adalah hasil yang logis dari pilihan mereka sendiri.
Relevansi Al-Hijr Ayat 95 di Era Modern
Di masa kini, tantangan untuk tidak menjadi seperti kaum pendusta ayat tetap relevan. Meskipun bentuk pendustaan mungkin berbeda—bisa berupa penolakan terhadap nilai-nilai etika Qur'ani, mengabaikan hukum syariat secara sengaja, atau meremehkan kebenaran yang disampaikan melalui ayat-ayat Allah dalam konteks kehidupan modern—prinsip dasarnya tetap sama.
Seorang muslim harus senantiasa waspada agar tidak terjerumus dalam sikap arogansi intelektual atau kesombongan yang mendorongnya untuk mendustakan atau meremehkan petunjuk Ilahi. Sikap rendah hati dalam menerima kebenaran adalah benteng pertahanan utama. Ayat ini mendorong refleksi diri: Apakah kita sudah sepenuhnya tunduk pada wahyu, atau masih ada celah kecil di hati yang menolak sebagian kebenaran karena mengikuti hawa nafsu atau tren zaman?
Pesan Keselamatan dan Jalan Keluar
Meskipun ayat ini berisi ancaman bagi pendusta, ia juga mengandung solusi dan jalan keselamatan. Jika larangan untuk menjadi seperti pendusta adalah larangan, maka perintah implisitnya adalah: Berimanlah, benarkanlah ayat-ayat Allah, ikuti petunjuk-Nya, dan jauhi segala bentuk kedustaan terhadap syariat.
Dengan memahami Al-Hijr ayat 95, seorang mukmin diingatkan bahwa iman yang teguh memerlukan tindakan nyata berupa ketaatan, bukan sekadar pengakuan lisan. Mengingat kisah-kisah azab kaum terdahulu seharusnya memicu rasa takut (khauf) yang sehat kepada Allah SWT, yang pada akhirnya akan mendorong kita untuk senantiasa berada di jalan yang diridhai-Nya, demi menghindari azab pedih yang dijanjikan bagi mereka yang mendustakan kebenaran-Nya.