Kalimantan Selatan, sering disingkat Kalsel, merupakan salah satu provinsi di Pulau Kalimantan yang memiliki karakteristik geografis, budaya, dan historis yang sangat khas. Provinsi ini dikenal sebagai "Bumi Lambung Mangkurat" dan ibu kotanya, Banjarbaru, bersama kota utamanya, Banjarmasin, menjadi pusat kegiatan ekonomi dan administrasi. Pertanyaan mengenai struktur administrasi wilayah, khususnya berapa kabupaten di Kalsel, menjadi kunci untuk memahami keragaman dan pembagian wilayah yang telah berkembang seiring waktu.
Secara definitif, Kalimantan Selatan terdiri dari 13 (tiga belas) wilayah administrasi. Struktur ini terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu Kabupaten (tingkat II) dan Kota. Pembagian yang rigid dan terstruktur ini memungkinkan pengelolaan sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, dan pelayanan publik dapat dilakukan secara lebih merata dan fokus di setiap penjuru provinsi.
Visualisasi sederhana pembagian administratif Kalsel.
Struktur pembagian wilayah ini merupakan hasil dari proses pemekaran yang panjang, khususnya pasca reformasi, untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan mempercepat pembangunan di daerah terpencil. Dari total 13 daerah tersebut, 11 di antaranya berstatus Kabupaten dan 2 lainnya adalah Kota. Kedua kota ini memegang peran strategis sebagai pusat pemerintahan dan niaga.
Berikut adalah daftar terperinci mengenai 11 Kabupaten dan 2 Kota yang membentuk Provinsi Kalimantan Selatan:
Untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang dinamika Kalsel, penting untuk menelusuri karakteristik unik dari setiap wilayah ini, mulai dari kekayaan alam, budaya masyarakat Banjar dan Dayak, hingga sektor ekonomi yang menjadi tulang punggung masing-masing daerah.
Masing-masing kabupaten di Kalsel memiliki identitas geografis dan sosio-ekonomi yang unik. Meskipun Provinsi ini secara keseluruhan didominasi oleh budaya Banjar, nuansa sub-etnis Banjar (seperti Banjar Pahuluan, Banjar Kuala, dan Banjar Batang Banyu) serta keberadaan komunitas Dayak dan migran menciptakan mozaik kultural yang kaya di setiap wilayah.
Kabupaten Balangan merupakan salah satu kabupaten termuda, hasil pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara. Wilayah ini terletak di bagian utara Kalsel dan dikenal memiliki kekayaan alam, terutama batu bara, yang menjadi sektor utama perekonomian. Topografi Balangan didominasi oleh perbukitan di timur yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus, serta dataran rendah yang subur di bagian barat yang dialiri oleh anak-anak Sungai Balangan. Jarak Balangan dari ibu kota provinsi menunjukkan lokasinya yang strategis, menghubungkan wilayah utara Kalsel dengan provinsi tetangga.
Selain pertambangan, masyarakat Balangan juga sangat bergantung pada sektor pertanian, khususnya karet dan sawit. Budaya di Balangan sangat kental dengan tradisi Banjar Pahuluan (pedalaman). Keindahan alam seperti Goa Berangin dan beberapa air terjun menjadi potensi ekowisata yang mulai dikembangkan. Perannya sebagai daerah penyangga energi Kalimantan menjadikannya pusat perhatian dalam isu lingkungan dan tata ruang provinsi.
Fokus Geografis dan Ekonomi: Dikenal sebagai daerah Hulu Sungai yang kaya akan mineral. Upaya diversifikasi ekonomi menuju sektor agribisnis dan peternakan terus digalakkan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya tak terbarukan. Balangan juga dikenal memiliki kearifan lokal dalam pengelolaan hutan Meratus.
Kabupaten Banjar adalah jantung spiritual dan budaya Kalimantan Selatan. Martapura, ibu kotanya, dikenal luas sebagai 'Kota Serambi Mekkah' Kalsel karena merupakan pusat pendidikan agama Islam tradisional. Ulama besar seperti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kelampayan) berasal dari wilayah ini, dan Haul Guru Sekumpul merupakan acara keagamaan tahunan terbesar di Indonesia.
Kabupaten Banjar mengelilingi Kota Banjarbaru (sebelumnya Martapura menjadi ibu kota provinsi). Secara geografis, wilayahnya mencakup dataran rendah yang dialiri Sungai Martapura dan dataran tinggi Meratus. Perekonomian didorong oleh perdagangan, kerajinan tangan (khususnya intan Martapura yang terkenal), dan pertanian. Pertambangan intan Martapura, meskipun tradisional, tetap menjadi ikon ekonomi lokal.
Ciri Khas Budaya: Kabupaten Banjar adalah pusat dialek Banjar Kuala dan Banjar Batang Banyu. Selain intan, kerajinan kain sasirangan juga banyak diproduksi di sini. Keberadaan Pasar Terapung Lokbaintan yang ikonik juga menjadi daya tarik budaya yang kuat, meskipun kini perlahan tergeser oleh perkembangan daratan.
Barito Kuala (Batola) adalah wilayah yang terletak di delta Sungai Barito, menjadikannya daerah perairan dan rawa yang sangat luas. Namanya sendiri menunjukkan lokasinya di muara Sungai Barito. Geografi Batola adalah kunci utama identitasnya; sebagian besar penduduk hidup di sepanjang sungai dan kanal (anjir).
Batola dikenal sebagai lumbung pangan Kalsel, terutama untuk produksi beras jenis Padi Siam yang tumbuh subur di lahan pasang surut. Sistem irigasi tradisional dan modern sangat vital di sini. Selain pertanian, sektor perikanan darat dan budidaya kelapa sawit juga dominan. Ibu kotanya, Marabahan, adalah kota pelabuhan kecil yang menghubungkan aktivitas perdagangan ke pedalaman dan laut.
Fokus Pertanian Maritim: Masyarakat Batola adalah ahli dalam adaptasi lahan pasang surut. Mereka memiliki pengetahuan turun-temurun tentang sistem anjir (kanal buatan Belanda) yang berfungsi untuk mengeringkan lahan rawa dan menanggulangi intrusi air laut. Desa Wisata Pulau Kembang, yang merupakan habitat kera ekor panjang, menjadi aset wisata penting.
Hulu Sungai Selatan (HSS) terletak di tengah-tengah wilayah Hulu Sungai. Kandangan, ibu kotanya, terkenal karena kuliner khasnya: dodol Kandangan dan katupat kandangan. Secara geografis, HSS memiliki kombinasi antara Pegunungan Meratus di timur dan dataran aluvial yang subur di barat.
Sektor ekonomi utama meliputi pertanian, peternakan, dan kehutanan. HSS dikenal sebagai salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi pertanian subsisten yang kuat. Keberadaan Meratus menjadikan HSS memiliki potensi ekowisata, seperti Loksado, yang dikenal dengan arung jeram menggunakan rakit bambu tradisional (balanting pambalah).
Ciri Khas Loksado: Loksado merupakan daerah pegunungan yang dihuni oleh komunitas Dayak Meratus. Interaksi antara budaya Banjar dan Dayak di HSS sangat unik, terutama terlihat dalam seni ukir dan ritual adat. Upaya konservasi hutan Meratus menjadi isu sentral di kabupaten ini.
Hulu Sungai Tengah (HST), dengan ibu kota Barabai, sering disebut sebagai jantungnya Banjar Pahuluan. Kabupaten ini memainkan peran vital dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Kalimantan. Barabai adalah pusat perdagangan penting yang menghubungkan wilayah utara dan selatan Kalsel.
HST memiliki wilayah yang subur. Sungai Barabai menjadi arteri kehidupan. Perekonomian didominasi oleh pertanian (padi, sayuran) dan perkebunan (karet). Berbeda dengan beberapa kabupaten tetangga, HST relatif tidak memiliki pertambangan besar, sehingga fokus pembangunan lebih diarahkan pada sektor hijau dan UMKM.
Aspek Historis dan Konservasi: HST memiliki zona penting konservasi di Pegunungan Meratus yang dikenal sebagai Kawasan Lindung Meratus. Masyarakat lokal, termasuk masyarakat adat Dayak, memegang teguh tradisi menjaga hutan. HST juga dikenal dengan julukan "Bumi Murakata," mencerminkan upaya masyarakatnya untuk hidup dalam harmoni dan kemakmuran.
Hulu Sungai Utara (HSU) berpusat di Amuntai, sebuah kota yang sarat sejarah. Amuntai merupakan lokasi Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Negara Daha pada masa lampau, menjadikannya salah satu kawasan paling tua peradabannya di Kalsel. Geografi HSU didominasi oleh perairan, rawa, dan danau, termasuk Danau Panggang dan Danau Biru.
Sektor perikanan air tawar adalah tulang punggung HSU, menjadikannya produsen ikan gabus (haruan) dan ikan patin terbesar. Selain itu, HSU terkenal sebagai pusat kerajinan anyaman purun. Masyarakat memanfaatkan ekosistem rawa secara optimal. Transportasi air (kelotok) masih sangat umum digunakan sebagai penghubung antar desa.
Ekowisata Rawa: HSU memiliki ekosistem rawa yang unik, termasuk keberadaan fauna endemik seperti itik Alabio. Pusat kerajinan anyaman purun yang dikelola secara tradisional menunjukkan adaptasi budaya terhadap lingkungan basah. Amuntai juga merupakan pusat pendidikan Islam yang penting di wilayah Hulu Sungai.
Kabupaten Kotabaru adalah wilayah terluas kedua di Kalsel dan merupakan kabupaten kepulauan, terletak di bagian paling timur provinsi. Ibu kotanya, Kotabaru, berada di Pulau Laut, pulau terbesar di Kalsel. Lokasinya yang terpisah dari daratan utama (Pulau Kalimantan) memberikan ciri khas maritim yang kental.
Perekonomian Kotabaru sangat bergantung pada sektor pertambangan batu bara, minyak, dan gas, serta perikanan tangkap. Sektor pariwisata bahari sangat potensial, dengan pulau-pulau eksotis seperti Pulau Sebuku dan Pulau Samber Gelap. Keindahan pegunungan di Pulau Laut juga memberikan lanskap yang berbeda dari kabupaten-kabupaten lainnya.
Aspek Maritim: Kotabaru dijuluki 'Sayap Kalsel' karena posisi geografisnya yang memanjang ke timur. Budaya maritim, seperti tradisi melaut dan festival perahu, sangat dominan. Infrastruktur pelabuhan memegang peranan krusial untuk kegiatan ekspor hasil tambang dan hasil laut. Wilayah ini menjadi perbatasan alam antara Kalsel dan perairan Sulawesi.
Tabalong terletak di ujung utara Kalsel, berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Posisi ini menjadikan Tabalong gerbang strategis utara. Tabalong adalah wilayah kaya sumber daya alam, terutama minyak dan gas bumi serta batu bara, yang telah dieksploitasi sejak era kolonial Belanda.
Tanjung, ibu kotanya, berkembang pesat sebagai kota industri dan perdagangan. Selain energi, sektor pertanian karet dan sawit juga memberikan kontribusi besar. Tabalong dikenal sebagai Bumi Saraba Kawa (Daerah Serba Mampu) karena kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah.
Keragaman Etnis: Karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan provinsi lain dan statusnya sebagai daerah industri, Tabalong memiliki komposisi penduduk yang sangat heterogen. Selain Banjar, terdapat komunitas Dayak Deah dan Melayu, serta banyak pendatang dari Jawa dan Sumatera yang bekerja di sektor pertambangan. Upaya pelestarian budaya Dayak, terutama melalui ritual Aruh Baharin, menjadi fokus di wilayah ini.
Tanah Bumbu (Tanbu) adalah kabupaten hasil pemekaran yang relatif baru, dibentuk untuk mempercepat pembangunan di wilayah tenggara Kalsel. Ibu kotanya, Batulicin, merupakan pusat aktivitas pelabuhan dan industri yang sangat sibuk, berhadapan langsung dengan Selat Makassar.
Ekonomi Tanbu adalah salah satu yang paling cepat tumbuh di Kalsel, didominasi oleh pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit skala besar. Wilayah ini memiliki pelabuhan khusus batu bara yang sangat besar, menjadikannya salah satu produsen komoditas ekspor utama Indonesia.
Pembangunan Infrastruktur: Karena statusnya sebagai wilayah pemekaran dan pusat industri, pembangunan infrastruktur jalan dan fasilitas publik di Tanbu menjadi prioritas. Keindahan pantainya, seperti Pantai Pagatan, juga menjadi daya tarik wisata lokal. Tanbu adalah representasi modernisasi Kalsel yang sangat didorong oleh investasi pertambangan.
Tanah Laut (Tala) terletak di bagian selatan Kalsel, berbatasan langsung dengan laut Jawa, dan dikenal sebagai gerbang masuk menuju Provinsi Kalsel melalui jalur darat dari Jawa. Pelaihari, ibu kotanya, adalah pusat administrasi yang berkembang dengan baik.
Tanah Laut memiliki keragaman geografis yang memukau, mulai dari pantai berpasir, padang savana, hingga pegunungan rendah. Sektor utama ekonominya adalah pertanian (padi), perkebunan (sawit), dan peternakan (sapi). Tala dikenal sebagai lumbung ternak sapi Kalsel.
Destinasi Wisata Alam: Tala memiliki banyak objek wisata alam yang mudah dijangkau, termasuk Pantai Takisung, Pantai Batakan, dan Pegunungan Meratus bagian selatan yang menawarkan pemandangan savana di musim kemarau, yang jarang ditemukan di Kalimantan. Kabupaten ini sering dijadikan tujuan rekreasi utama bagi penduduk Banjarmasin dan Banjarbaru.
Tapin terletak di antara Kabupaten Banjar dan Hulu Sungai Selatan. Rantau, ibu kotanya, merupakan kota kecil yang berkembang pesat. Tapin dikenal memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, khususnya batu bara, yang kini menjadi motor utama ekonomi lokal.
Meskipun pertambangan mendominasi, Tapin juga tetap menjaga tradisi pertanian Banjar, terutama budidaya padi sawah. Tapin memiliki sistem irigasi yang cukup baik, mendukung aktivitas agraris. Lokasinya yang berada di jalur tengah trans-Kalimantan membuatnya menjadi penghubung logistik yang penting.
Ciri Khas Budaya dan Ritual: Tapin memiliki festival budaya yang unik, seperti Bakalangan, tradisi menangkap ikan secara massal di sungai yang melibatkan seluruh masyarakat. Tradisi ini menunjukkan kuatnya ikatan sosial dan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya air. Selain itu, Tapin juga merupakan lokasi dari beberapa situs bersejarah yang berkaitan dengan masa Kesultanan Banjar.
Dua kota otonom di Kalsel, Banjarmasin dan Banjarbaru, memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi dalam menggerakkan roda pemerintahan, ekonomi, dan budaya provinsi. Keduanya mencerminkan dualisme antara kota tradisional berbasis sungai dan kota modern berbasis daratan.
Banjarmasin adalah ibu kota lama Provinsi Kalsel dan masih berfungsi sebagai pusat niaga, pendidikan, dan kota metropolitan terbesar. Kota ini dijuluki Kota Seribu Sungai, sebuah julukan yang sangat relevan karena seluruh kehidupan kota berpusat pada jaringan sungai (Sungai Martapura dan Sungai Barito) yang menjadi urat nadinya. Banjarmasin adalah kota air, di mana permukiman, transportasi, dan pasar tradisional, seperti Pasar Terapung, terintegrasi dengan sungai.
Peran Ekonomi dan Sejarah: Secara historis, Banjarmasin adalah ibu kota Kesultanan Banjar dan pelabuhan dagang utama sejak abad ke-17. Peran ini diwariskan hingga kini, menjadikannya pusat perdagangan regional. Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin adalah salah satu pelabuhan tersibuk di Kalimantan. Perekonomian didorong oleh sektor jasa, perdagangan, perhotelan, dan industri pengolahan.
Tantangan Urban: Karena lokasinya yang berada di dataran rendah dan rawa, Banjarmasin menghadapi tantangan besar terkait banjir rob (pasang surut air laut) dan penurunan muka tanah. Pembangunan kota harus selalu mempertimbangkan infrastruktur air, termasuk pembangunan siring (dinding penahan sungai) dan optimalisasi kanal. Banjarmasin juga menjadi pusat dialek Banjar Kuala, dialek Banjar yang paling umum dan dikenal secara nasional.
Kota Banjarbaru kini memegang status sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, menggantikan Banjarmasin. Banjarbaru didirikan pada era 1950-an dengan konsep kota taman yang terencana, dirancang untuk menjadi pusat pemerintahan dan pendidikan yang modern dan bebas dari masalah banjir yang dihadapi Banjarmasin.
Fokus Pemerintahan dan Pendidikan: Banjarbaru adalah lokasi kantor-kantor pemerintahan tingkat provinsi, termasuk Kantor Gubernur dan DPRD. Selain itu, kota ini menjadi pusat institusi pendidikan tinggi terkemuka, seperti Universitas Lambung Mangkurat. Struktur kota yang lebih teratur, dengan jalan-jalan lebar dan kawasan hijau, mencerminkan perencanaannya sebagai kota administrasi.
Iklim Ekonomi: Meskipun bukan pusat pelabuhan seperti Banjarmasin, Banjarbaru memiliki Bandara Internasional Syamsudin Noor, menjadikannya gerbang udara utama Kalsel. Perekonomian didukung oleh sektor jasa pemerintahan, pendidikan, dan perdagangan ritel. Lokasinya yang berdekatan dengan Kabupaten Banjar dan Martapura membuatnya menjadi simpul penting di kawasan Banjar Bakula (Banjarmasin, Banjarbaru, dan Banjar).
Struktur administratif Kalsel yang terdiri dari 11 kabupaten dan 2 kota bukanlah pembagian yang statis, melainkan hasil dari evolusi historis dan kebijakan regional. Proses pemekaran wilayah (otonomi daerah) memainkan peran krusial dalam mencapai jumlah 13 wilayah ini.
Pada masa Kesultanan Banjar, wilayah kekuasaan dibagi berdasarkan Sungai Barito dan anak-anak sungainya. Setelah masuknya kolonial Belanda, pembagian administrasi di Kalimantan Selatan mengalami perubahan signifikan, dengan pembentukan afdeeling dan onderafdeeling. Setelah kemerdekaan, Kalsel ditetapkan sebagai provinsi yang meliputi seluruh wilayah Banjar historis.
Pada awal kemerdekaan, pembagian wilayah administrasi masih sangat sederhana. Wilayah Hulu Sungai secara kolektif dikenal sebagai daerah yang padat penduduknya dan menjadi pusat perjuangan. Banjarmasin sudah menjadi kota besar dan pusat pemerintahan.
Peningkatan jumlah kabupaten dari yang awalnya hanya beberapa di era Orde Lama dan Orde Baru, menjadi 11 kabupaten, sebagian besar terjadi pada periode otonomi daerah pasca-1999.
Proses pemekaran ini memastikan bahwa sumber daya alam dan potensi ekonomi di daerah pinggiran dapat dimaksimalkan untuk kesejahteraan lokal, alih-alih hanya terpusat di ibu kota provinsi yang lama. Setiap kabupaten kini memiliki kewenangan otonom untuk merencanakan pembangunan sesuai dengan karakteristik spesifik wilayahnya (rawa, pegunungan Meratus, atau pesisir).
Geografi Kalsel sangat unik dan menjadi faktor utama yang membedakan satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Kalsel dapat dibagi menjadi tiga zona geografis utama yang masing-masing melahirkan ciri khas budaya dan ekonomi:
Zona ini mencakup HSS, HST, HSU, Balangan, dan sebagian Banjar. Wilayah ini ditandai dengan Pegunungan Meratus yang membentang di bagian timur Kalsel. Kawasan ini kaya akan hutan hujan tropis, sumber mata air, dan mineral. Kehidupan masyarakat di zona ini sering disebut Banjar Pahuluan (orang Banjar pedalaman) dan komunitas Dayak Meratus.
Ciri Khas: Wilayah ini adalah pusat tradisi agraris Banjar, dengan fokus pada padi, karet, dan durian. Ekowisata berbasis alam dan budaya tradisional (seperti Loksado) sangat dominan di sini. Tantangan utama di zona ini adalah konflik antara konservasi hutan Meratus dan ekspansi pertambangan.
Zona ini meliputi Barito Kuala, Banjarmasin, dan sebagian besar Kabupaten Banjar. Wilayah ini didominasi oleh dataran aluvial, rawa, dan sistem sungai yang kompleks (Barito, Martapura, Negara). Inilah wilayah di mana budaya sungai mencapai puncaknya.
Ciri Khas: Zona ini adalah lumbung pangan padi pasang surut. Kehidupan masyarakat sangat bergantung pada kelotok (perahu bermotor tradisional) sebagai sarana transportasi. Sistem kanal dan anjir menjadi teknologi adaptasi utama. Wilayah ini juga merupakan pusat dialek Banjar Kuala dan Batang Banyu.
Zona ini mencakup Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru. Wilayah ini memiliki garis pantai yang panjang, berbatasan dengan Laut Jawa dan Selat Makassar. Geografisnya bervariasi dari pantai landai hingga perbukitan dekat laut.
Ciri Khas: Zona ini merupakan pusat pertumbuhan industri modern, pertambangan batu bara, dan perkebunan kelapa sawit berskala besar. Infrastruktur pelabuhan menjadi sangat penting di sini. Kabupaten-kabupaten di zona ini, khususnya Tanbu dan Kotabaru, memiliki pertumbuhan ekonomi yang cepat namun juga menghadapi tantangan lingkungan akibat aktivitas industri berat.
Tidak mungkin membahas pembagian wilayah Kalsel tanpa menyoroti peran sentral sungai. Sungai, terutama Sungai Barito dan anak-anak sungainya (Martapura, Negara, Balangan, Tabalong), berfungsi sebagai arteri yang mengintegrasikan 13 wilayah administratif. Sebelum adanya jalan darat modern, sungai adalah satu-satunya jalur logistik dan transportasi yang menghubungkan Hulu Sungai dengan Banjarmasin.
Integrasi 13 wilayah melalui sungai menciptakan kesatuan ekonomi pada masa lampau. Produk pertanian dari HSU (perikanan), HSS (dodol), dan HST (sayuran) diangkut menggunakan perahu menuju Pasar Terapung di Banjarmasin atau Martapura (Kabupaten Banjar), kemudian didistribusikan ke seluruh wilayah lain.
Hari ini, meskipun jaringan jalan darat telah membaik, sungai tetap penting, terutama di Barito Kuala dan Hulu Sungai Utara. Kebudayaan Banjar—yang melekat pada seluruh 13 wilayah—adalah budaya sungai. Rumah adat (Rumah Banjar Bubungan Tinggi) bahkan dirancang untuk menghadapi pasang surut air sungai.
Dengan adanya 13 wilayah otonom, Pemerintah Provinsi Kalsel dan pemerintah pusat dapat lebih fokus dalam pembangunan proyek strategis yang spesifik per daerah, seperti:
Meskipun mayoritas penduduk Kalsel adalah suku Banjar, ekspresi budaya dan dialek mereka berbeda-beda di 13 wilayah ini, mencerminkan adaptasi terhadap lingkungan sungai, rawa, atau pegunungan.
Wilayah Hulu Sungai (HSS, HST, HSU, Balangan, Tapin) memiliki identitas yang kuat dengan Banjar Pahuluan. Mereka cenderung lebih tradisional, agraris, dan memiliki kedekatan dengan Pegunungan Meratus serta budaya Dayak. Contohnya adalah seni Lamut (cerita lisan) yang masih kuat di HSU dan tradisi aruh Gawi yang ada di HSS.
Banjarmasin dan Barito Kuala merepresentasikan Banjar Kuala. Identitas ini lebih terbuka terhadap pengaruh luar (perdagangan) dan didominasi oleh kehidupan sungai. Bahasa Banjar Kuala menjadi bahasa standar dan pusat seni pertunjukan (Mamanda, Tarian Baksa Kembang).
Kabupaten kepulauan dan pesisir ini, meskipun dihuni oleh suku Banjar, memiliki sentuhan budaya maritim yang kuat, bercampur dengan pengaruh Bugis dan Melayu (terutama di Kotabaru). Hal ini terlihat dari mata pencaharian utama (nelayan) dan jenis kapal yang digunakan.
Jumlah 13 wilayah administrasi di Kalimantan Selatan—terdiri dari 11 Kabupaten dan 2 Kota—merefleksikan upaya berkelanjutan pemerintah dalam mencapai pemerataan pembangunan di seluruh penjuru provinsi. Dari pusat metropolitan Banjarmasin yang padat air, pusat industri batu bara di Tanah Bumbu dan Tabalong, hingga jantung budaya Islam di Kabupaten Banjar dan konservasi hutan di Hulu Sungai Tengah, setiap wilayah memegang peranan krusial.
Angka 13 ini menjadi penanda batas-batas otonomi yang memungkinkan setiap daerah fokus pada keunggulan komparatifnya, baik itu sebagai lumbung padi (Barito Kuala), pusat pertambangan (Tanah Bumbu), atau destinasi ekowisata (Hulu Sungai Selatan). Pembagian ini juga memastikan bahwa suara dan kebutuhan masyarakat di daerah terpencil, seperti di perbatasan Kalimantan Timur (Tabalong) atau di pulau (Kotabaru), dapat terwakili secara efektif dalam kerangka pemerintahan daerah.
Secara keseluruhan, Kalimantan Selatan adalah provinsi yang dibentuk oleh interaksi unik antara tiga elemen utama: Pegunungan Meratus, sistem sungai besar Barito, dan Selat Makassar. Pembagian administratif menjadi 11 kabupaten dan 2 kota ini adalah manifestasi konkret dari upaya adaptasi manusia Banjar dan Dayak terhadap lanskap alam yang kaya namun menantang, menjadikannya salah satu provinsi paling dinamis di Kalimantan.