Tafsir Singkat: Al-Hijr Ayat 96

Peringatan Terakhir dari Allah SWT

Surah Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran penting mengenai tauhid, kisah para nabi, dan peringatan keras bagi mereka yang menolak kebenaran. Di antara ayat-ayat yang sarat makna tersebut, terdapat ayat ke-96 yang seringkali menjadi sorotan utama karena berisi perintah tegas dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat ini menjadi landasan penting mengenai cara menghadapi penolakan keras dari kaum musyrikin.

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (95) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (96)

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (95) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (96)

"Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka katakan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan termasuklah orang-orang yang bersujud." (QS. Al-Hijr: 96)

Ayat 96 ini merupakan kelanjutan langsung dari ayat 95 yang menegaskan pemahaman Allah terhadap perasaan Nabi Muhammad SAW. Ketika dakwah dilakukan, tidak jarang Nabi menghadapi cacian, tuduhan dusta, dan penolakan yang menyakitkan hati. Perasaan "dada sempit" atau kegelisahan adalah reaksi manusiawi seorang rasul yang sangat mencintai umatnya namun terus-menerus ditentang.

Ketenangan melalui Ibadah

Solusi Psikologis dan Spiritual

Respon yang diperintahkan Allah kepada Nabi SAW bukanlah balasan verbal atau reaksi emosional yang terburu-buru, melainkan tindakan spiritual yang mendalam: "Fasabbih bihamdi Rabbika wa kun minas saajidin." (Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan termasuklah orang-orang yang bersujud).

Tiga perintah utama dalam ayat ini memberikan kerangka kerja yang kuat bagi seorang Muslim saat menghadapi kesulitan:

  1. Tasbih (Subhanallah): Mengagungkan kesucian Allah dari segala kekurangan atau tuduhan yang dilontarkan oleh musuh. Ini mengalihkan fokus dari kegagalan interaksi duniawi menuju kesempurnaan Ilahi.
  2. Tahmid (Alhamdulillah): Mengucapkan pujian kepada Allah atas segala nikmat, bahkan di tengah kesulitan. Pengakuan bahwa segala sesuatu berada dalam kendali dan kebijaksanaan-Nya.
  3. Sujud (Bersujud): Tindakan kerendahan hati tertinggi. Sujud adalah pengakuan bahwa hanya kepada Allah tempat berlindung dan memohon pertolongan. Dalam sujud, seorang mukmin melepaskan beban duniawi dan menyambungkan diri langsung kepada Sang Pencipta.

Pelajaran Universal dari Al-Hijr 96

Ayat ini tidak hanya relevan bagi Nabi Muhammad SAW pada masa itu, tetapi juga menjadi pedoman abadi bagi umat Islam di setiap zaman. Ketika kita merasa tertekan oleh kritik, kegagalan dalam berdakwah, atau perlakuan tidak adil dari masyarakat, jalan keluarnya tetap sama: kembali kepada ibadah yang tulus.

Dunia sering kali menuntut reaksi cepat dan konfrontatif. Namun, Al-Hijr ayat 96 mengajarkan nilai dari menahan diri dan memilih jalan spiritual. Dengan memuji dan bersujud, seorang Muslim memulihkan keseimbangan batin. Beban yang tadinya terasa menekan dada (sempit) perlahan akan terangkat karena jiwa telah menemukan jangkar kekuatannya dalam hubungan langsung dengan Allah.

Oleh karena itu, Al-Hijr 96 berfungsi sebagai pengingat bahwa kekuatan sejati seorang mukmin tidak terletak pada kemampuan membalas perkataan buruk, melainkan pada keteguhan hati untuk terus beribadah, memuji, dan bersujud, karena di dalam ketaatan itulah terletak ketenangan sejati (sakinah) yang tidak bisa digoyahkan oleh badai ujian apa pun. Ayat ini menegaskan bahwa penawar atas kesempitan hati adalah kedekatan yang diperbarui dengan Sang Pencipta.

Memahami dan mengamalkan petunjuk dalam ayat ini memastikan bahwa perjuangan dakwah atau bahkan perjuangan hidup sehari-hari tetap berada di jalur yang diridhai Allah, terlepas dari validasi atau penolakan dari lingkungan sekitar.

🏠 Homepage