Ilustrasi Lembah Hijr dan Cahaya Wahyu Gambar abstrak yang menampilkan gurun berpasir (mewakili Al-Hijr) dengan cahaya yang bersinar dari atas (mewakili Al-Qur'an). Tafsir Ayat Suci

Keagungan dan Peringatan: Tafsir Al-Hijr Ayat 1-15

Surah Al-Hijr adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an yang mengandung banyak pelajaran penting mengenai wahyu, kebenaran, dan nasib umat-umat terdahulu. Ayat 1 hingga 15 memberikan penekanan kuat pada keaslian Al-Qur'an serta peringatan bagi mereka yang menolak kebenaran.

Pembukaan dan Sumpah atas Kebenaran Wahyu

1
الٓم ۚ تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱلْكِتَٰبِ وَقُرْءَانٍ مُّبِينٍ

Alif, Laam, Miim. Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) dan (ayat-ayat) Al-Qur'an yang jelas.

Pembukaan surah ini dimulai dengan huruf-huruf terpisah (muqattha'at), sebuah misteri yang hanya diketahui maknanya oleh Allah SWT. Ayat ini segera menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang nyata dan penjelas (mubin) yang terang benderang.

2
رُبَمَا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ كَانُوا۟ مُسْلِمِينَ

Boleh jadi orang-orang yang kafir itu akan ingin seandainya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).

Ayat kedua mengandung peringatan yang mengharukan. Pada Hari Kiamat, penyesalan akan meliputi orang-orang yang ingkar, ketika mereka menyadari betapa damai dan menyelamatkannya jika mereka memilih Islam saat masih diberi kesempatan.

3
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا۟ وَيَتَمَتَّعُوا۟ وَيُلْهِهِمُ ٱلْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senanglah dan biarlah (panjang) angan-angan mereka melalaikan mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).

Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk membiarkan orang-orang kafir menikmati kesenangan duniawi mereka yang sementara. Kenikmatan itu bersifat melalaikan, dan kesadaran akan konsekuensinya akan datang di akhirat.

Kisah Pemusnahan Kota-Kota yang Mendustakan

Allah SWT kemudian memberikan contoh-contoh historis sebagai bukti kekuasaan-Nya dan konsekuensi mendustakan rasul.

4
وَمَآ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٌ مَّعْلُومٌ

Dan Kami tidak membinasakan suatu negeripun kecuali telah ditetapkan baginya waktu yang tertentu.

Kehancuran tidak terjadi sembarangan. Setiap kehancuran memiliki batas waktu yang telah ditetapkan dan dicatat oleh Allah.

5
مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَـْٔخِرُونَ

Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak pula mereka dapat mengundurkannya.

Ketentuan waktu kehancuran itu mutlak dan tidak dapat diubah oleh siapa pun.

6
وَقَالُوا۟ يَآ أَيُّهَا ٱلَّذِى نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

Dan mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al-Qur'an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.

7
لَوْ مَا تَأْتِينَا بِٱلْمَلَٰٓئِكَةِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Mengapakah kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami (untuk membenarkanmu) jika kamu termasuk orang-orang yang benar?

Ini adalah respons klasik dari kaum yang menolak wahyu: menuduh Nabi gila dan menuntut bukti yang melampaui batas kenabian, yaitu mendatangkan malaikat secara langsung.

Tantangan Keras Kepala dan Balasan Allah

Allah menegaskan bahwa mendatangkan malaikat bukanlah solusi bagi hati yang keras.

8
مَا نُنَزِّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةَ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَمَا كَانُوٓا۟ إِذًا مُّنظَرِينَ

Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan kebenaran (petunjuk dan azab), dan jika demikian (jika mereka melihat malaikat), mereka tidak akan diberi tangguh.

9
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami pula yang benar-benar menjaganya.

Ayat 9 adalah salah satu janji agung Allah mengenai pemeliharaan Al-Qur'an dari perubahan dan distorsi, sebuah jaminan keaslian yang tidak dimiliki kitab suci lainnya.

10-11
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ رُسُلًا فِى فِرَقِ ٱلْأَوَّلِينَ ۝ وَمَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِئُونَ

Dan sungguh telah Kami utus (para rasul) sebelum kamu kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak datang kepada mereka seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.

Ini menunjukkan bahwa penolakan dan ejekan terhadap rasul adalah pola perilaku umat-umat terdahulu yang pasti terulang.

12-14
كَذَٰلِكَ نَسْلُكُهُۥ فِى قُلُوبِ ٱلْمُجْرِمِينَ ۝ لَا يُؤْمِنُونَ بِهِۦ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ ٱلْأَوَّلِينَ ۝ وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فَظَلُّوا۟ فِيهِ يَعْرُجُونَ ۝ لَقَالُوا۟ إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَٰرُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَّسْحُورُونَ

Demikianlah Kami memasukkan keingkaran itu ke dalam hati orang-orang yang berdosa. Mereka tidak beriman kepadanya, padahal telah berlalu ketetapan (hukum) orang-orang yang terdahulu. Dan seandainya Kami bukakan kepada mereka sebuah pintu dari langit, lalu mereka naik melaluinya, niscaya mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikelabui, bahkan barangkali kami telah disihir."

Poin krusialnya di sini adalah: jika pun Allah memberikan mukjizat yang sangat nyata—seperti terbukanya pintu langit dan kemampuan naik ke sana—hati yang tertutup oleh kesombongan dan taklid buta akan tetap menolak kebenaran, mencari alasan supernatural lain seperti sihir.

15
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّـٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ

Dan sungguh, telah Kami jadikan pada langit gugusan bintang-bintang (burbuj) dan Kami perindah bagi orang yang memandang.

Ayat penutup bagian ini mengalihkan fokus dari penolakan manusia kepada keindahan dan keteraturan ciptaan Allah di jagat raya (buruj/rasi bintang), sebagai salah satu bukti lain atas keagungan Sang Pencipta.

Refleksi Penting

Al-Hijr ayat 1-15 mengajarkan bahwa penolakan terhadap kebenaran sering kali bukan disebabkan kurangnya bukti, melainkan karena adanya penyakit hati. Allah telah menjaga kebenaran-Nya (Al-Qur'an), dan bagi mereka yang keras kepala, tidak ada mukjizat fisik yang dapat mengubah hati mereka jika mereka tidak mau menerima kebenaran yang jelas.

🏠 Homepage