الٓر ۚ تِلْكَ ءَايَـٰتُ ٱلْكِتَـٰبِ وَقُرْءَانٍ مُّبِينٍ
(Alif. Laam. Raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab dan Al-Qur'an yang menjelaskan.)Surah Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam urutan mushaf, dibuka dengan rangkaian huruf Arab terpisah (Muqatta'at): Alif, Laam, Raa. Ayat pertama, "Alif. Laam. Raa. Tilka aayati-l-kitaabi wa qur’aanim mubeen", memberikan penekanan kuat pada hakikat Al-Qur'an itu sendiri. Dalam konteks pembukaan surat-surat yang diawali dengan huruf-huruf terpisah—seperti Al-Baqarah, Ali 'Imran, atau Yunus—huruf-huruf ini seringkali menjadi tanda mukjizat dan tantangan bagi kaum musyrik yang meragukan asal-usul risalah Nabi Muhammad SAW.
Para mufassir sepakat bahwa pembukaan ini berfungsi sebagai penarik perhatian sekaligus penegasan otoritas Ilahi di balik wahyu yang diterima Rasulullah. Ayat ini secara langsung menyatakan bahwa ayat-ayat yang akan mengikuti adalah bagian dari "Kitab" (Al-Kitab, yang merujuk pada Taurat dan Injil dalam makna umum kenabian) sekaligus "Al-Qur'an yang menjelaskan" (Qur'anul Mubeen). Kata Mubeen (jelas atau nyata) menyoroti fungsi utama Al-Qur'an: memberikan kejelasan, memisahkan antara hak dan batil, serta menerangi jalan petunjuk.
Secara kronologis, Surah Al-Hijr digolongkan sebagai surat Makkiyah. Hal ini penting karena surat Makkiyah umumnya fokus pada penguatan akidah, penetapan tauhid, deskripsi hari kiamat, dan pembahasan mengenai kerasulan. Ayat pembuka ini sangat relevan dalam periode Mekah, di mana tantangan terbesar adalah meruntuhkan keraguan masyarakat Quraisy terhadap keaslian wahyu yang dibawa Nabi Muhammad. Dengan menyatakan bahwa ayat-ayat ini adalah bagian dari Kitab Agung yang sudah dijanjikan, Allah menegaskan kesinambungan risalah kenabian.
Penegasan sebagai "Al-Qur'an yang menjelaskan" juga mengandung makna bahwa Al-Qur'an tidak meninggalkan ambiguitas. Ia adalah sumber hukum, etika, dan spiritualitas yang gamblang. Berbeda dengan kitab-kitab terdahulu yang mungkin telah mengalami perubahan atau penafsiran yang menyimpang, Al-Qur'an hadir sebagai penjelasan terakhir yang komprehensif.
Meskipun makna pasti dari rangkaian huruf seperti Alif, Laam, Raa masih menjadi misteri yang hanya diketahui secara hakiki oleh Allah SWT, penempatannya di awal surat bukanlah tanpa tujuan. Dalam banyak penafsiran, huruf-huruf ini berfungsi sebagai:
Dalam konteks Al-Hijr ayat 1, rangkaian "Alif. Laam. Raa." diikuti dengan validasi mutlak: "Inilah ayat-ayat Kitab dan Al-Qur'an yang menjelaskan." Ini adalah klaim tertinggi yang menyentuh inti dari misi kenabian. Segala yang datang setelahnya, mulai dari kisah kaum Nabi Saleh, ancaman bagi pendusta, hingga perintah untuk bersabar, berakar pada kebenaran yang ditegaskan dalam ayat pembuka ini. Ayat ini mempersiapkan pendengar untuk menerima wahyu yang bersifat final dan tegas kebenarannya.