Gambar ilustrasi untuk merepresentasikan pesan wahyu dan peringatan.
Surah Al-Hijr, yang memiliki arti "Batu Karang," adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-10 dari surah ini merupakan bagian krusial dalam rangkaian ayat-ayat yang membantah penolakan kaum musyrikin Makkah terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW dan wahyu yang dibawanya. Pemahaman mendalam terhadap ayat ini memberikan perspektif tentang bagaimana tantangan terhadap kebenaran selalu dihadapi dengan respons ilahi.
Wa kadzalika naslukuhu fii quluubil mujrimiina.
Terjemahan: "Dan demikianlah Kami masukkan (kecurigaan dan keingkaran itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa."
Ayat 10 ini datang setelah Allah SWT memberikan teguran keras kepada orang-orang kafir yang meminta agar Nabi Muhammad SAW digantikan dengan malaikat atau diturunkan ayat yang berbeda. Mereka merasa Al-Qur'an terlalu sederhana atau tidak sesuai dengan ekspektasi duniawi mereka.
Ayat sebelumnya (Ayat 9) menegaskan bahwa Allah SWT adalah yang menurunkan Al-Qur'an dan Dia pula yang akan menjaganya. Kemudian, Ayat 10 menjadi konsekuensi logis dari penolakan mereka yang terus-menerus. Frasa "Wa kadzalika" (Dan demikianlah) merujuk pada cara penolakan dan kekerasan hati yang mereka tunjukkan sebelumnya.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "nasluhu" yang berasal dari akar kata salaka, yang berarti memasukkan sesuatu secara bertahap, mengalirkan, atau menyalurkan. Dalam konteks ayat ini, makna yang paling kuat adalah bahwa Allah SWT membiarkan atau menanamkan rasa ingkar, keraguan, dan penolakan itu sendiri ke dalam hati mereka sebagai akibat dari pilihan sadar mereka.
Ini bukanlah bentuk Allah memaksa mereka berbuat salah, melainkan sebuah konsekuensi alami. Ketika seseorang berulang kali menolak kebenaran yang jelas, hati mereka menjadi terkunci (shaqa). Allah tidak lagi memberikan hidayah yang lebih terang karena penolakan mereka sebelumnya telah menutup pintu hati mereka sendiri. Ini adalah bentuk istidraj spiritual—membiarkan mereka terus berada dalam kesesatan yang mereka pilih sendiri hingga tiba masanya pertanggungjawaban.
Penting untuk membedakan antara upaya Allah memberikan hidayah dan pembiaran terhadap kekufuran. Allah selalu mengirimkan rasul, menurunkan kitab, dan menunjukkan tanda-tanda (ayat-ayat). Namun, hidayah sejati hanya akan diterima oleh hati yang terbuka. Bagi mereka yang hatinya sudah tertutup oleh kesombongan dan penolakan berulang, maka balasan berupa "dimasukkannya keingkaran ke dalam hati" adalah bentuk keadilan-Nya.
Bagi orang-orang yang beriman, ayat-ayat ini berfungsi sebagai peringatan. Jika mereka pernah merasakan sedikit keraguan atau godaan untuk menolak kebenaran, mereka harus segera kembali kepada Allah, karena proses "dimasukkannya keingkaran" adalah ancaman serius bagi setiap Muslim. Al Hijr ayat 10 menegaskan bahwa penolakan terhadap wahyu memiliki konsekuensi yang meresap hingga ke inti keberadaan seseorang, yaitu hatinya.