Dalam lembaran Al-Qur'an, setiap ayat menyimpan hikmah dan janji ketenangan bagi orang-orang yang merenunginya. Salah satu ayat yang menekankan betapa Allah Maha Pemelihara dan Maha Pemberi Rezeki adalah Surah Al Hijr ayat 20. Ayat ini secara eksplisit menegaskan jaminan ilahi atas kebutuhan dasar makhluk-Nya, memberikan kedamaian bagi jiwa yang bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Ayat ini menjadi pengingat universal bahwa segala sumber kehidupan—terutama makanan dan minuman—berasal dari karunia Allah semata.
"Dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu." (QS. Al Hijr: 20)
Surah Al Hijr, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah di wilayah Hijaz yang pernah dihuni oleh kaum Tsamud, sebagian besar membahas tentang keesaan Allah, kebenaran Al-Qur'an, dan peringatan bagi mereka yang ingkar. Ayat 20 ini muncul setelah ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, serta penugasan gunung-gunung sebagai penopang bumi. Konteks ini menunjukkan bahwa keteraturan kosmos—dari planet hingga tetesan air—semuanya berada di bawah perencanaan ilahi yang sempurna.
Ayat ini secara spesifik merujuk pada air hujan yang diturunkan Allah. Hujan adalah sumber utama kehidupan di bumi. Tanpa air, tidak akan ada tumbuhan, tidak ada hewan, dan tentunya tidak ada manusia. Janji Allah di sini bukan sekadar bahwa Ia menurunkan hujan, tetapi bahwa Ia menurunkannya "dengan ukuran yang tertentu" (bi-qadar ma'lum).
Frasa "ukuran yang tertentu" mengandung beberapa lapisan makna yang sangat penting bagi kehidupan seorang Muslim:
Memahami Al Hijr ayat 20 mengajarkan kita untuk melepaskan diri dari kecemasan berlebihan terhadap masa depan, khususnya terkait kebutuhan materi. Dalam banyak ayat lain, Allah memerintahkan kita untuk bertawakal, dan ayat ini memberikan dasar logis mengapa tawakal itu harus dilakukan: karena sistem pendukung kehidupan (rizq) dikelola oleh Dzat yang Maha Tahu takaran yang paling tepat.
Ayat ini mendorong umat manusia untuk melihat lebih jauh dari sekadar sumber-sumber duniawi yang tampak. Kita mungkin bekerja keras di ladang, tetapi sumber air yang menyuburkannya adalah dari langit yang dikendalikan Allah. Ketergantungan kita harus selalu terpusat kepada-Nya. Jika kita melihat keindahan dan keteraturan dalam siklus air, kita akan semakin yakin akan kekuasaan Allah dalam mengatur kehidupan pribadi kita, bahkan dalam hal terkecil sekalipun.
Dalam konteks global, ketika terjadi perubahan iklim atau krisis pangan, ayat ini mengingatkan bahwa meskipun manusia mencoba memanipulasi alam, pada hakikatnya, Allah-lah yang memegang kunci takaran mutlak. Oleh karena itu, respons kita harus selalu diiringi dengan peningkatan kualitas ibadah dan permohonan ampun, memohon agar Allah senantiasa menjaga keseimbangan rezeki yang telah Dia janjikan.
Intinya, Al Hijr ayat 20 adalah surat kepercayaan dari Sang Pemelihara alam semesta. Ia menjamin bahwa selama kita hidup di bumi ini, kebutuhan esensial kita akan disediakan, bukan secara kebetulan, melainkan melalui pengaturan yang teliti dan bijaksana yang tak terjangkau oleh pemahaman manusia seutuhnya. Iman yang kokoh akan tumbuh subur seperti bumi yang disirami oleh hujan yang terukur itu.