Al-Qur'an adalah sumber petunjuk yang komprehensif bagi umat manusia. Salah satu surat yang kaya akan pesan tauhid dan tanda-tanda kebesaran Allah adalah Surah Al-Hijr. Di antara ayat-ayatnya yang agung, Al-Hijr ayat 23 menyoroti salah satu aspek fundamental dalam keyakinan kita: kekuasaan Allah sebagai pemberi kehidupan dan pembawa rahmat.
"Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan dari langit air (hujan) dengan ukuran tertentu, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa mengembalikannya (menghilangkannya)." (QS. Al-Hijr: 23)
Ayat ini adalah sebuah pengingat yang kuat mengenai siklus hidrologi—sebuah proses alamiah yang sering kita anggap remeh, namun sejatinya merupakan manifestasi nyata dari kehendak dan kemampuan ilahi yang tak terbatas. Ayat ini dibuka dengan penegasan, "Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan dari langit air (hujan)..."
Kata kunci pertama adalah "dengan ukuran tertentu" (bi-qadarin mahdūdin). Ini menunjukkan bahwa hujan tidak turun secara acak atau berlebihan hingga menimbulkan bencana (kecuali sebagai peringatan), melainkan dalam takaran yang telah ditetapkan Allah SWT. Keteraturan ini memastikan bahwa setiap tetes air memiliki tujuan—untuk menumbuhkan tanaman, mengisi sumber air, dan menopang kehidupan flora dan fauna. Ini adalah bentuk rahmat yang terstruktur, bukan sekadar kebetulan kosmik.
Setelah diturunkan, Allah berfirman, "lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi." Air yang turun kemudian diserap oleh tanah, mengalir ke sungai, dan tersimpan di dalam waduk alami, siap untuk dimanfaatkan oleh makhluk hidup. Pengendalian ini menunjukkan penguasaan mutlak Allah atas zat yang paling vital bagi eksistensi kita.
Bagian penutup ayat ini adalah penekanan yang paling menggetarkan: "dan sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa mengembalikannya (menghilangkannya)." Frasa "mengembalikannya" (lāqādirūn) memiliki makna ganda. Pertama, ini bisa berarti kemampuan Allah untuk mengembalikan air tersebut ke atmosfer melalui penguapan, memulai siklus baru. Kedua, dan yang lebih mendalam, ini adalah ancaman sekaligus pengingat bahwa Allah mampu mencabut rahmat-Nya kapan saja. Jika Allah berkehendak, hujan akan berhenti, bumi akan kering kerontang, dan kehidupan akan terancam musnah.
Ayat 23 Al-Hijr mengajarkan kepada kita tentang pentingnya syukur dan tawakkal. Kita bersyukur atas setiap curahan rahmat-Nya, dan kita bertawakal karena menyadari bahwa sumber rahmat tersebut berada di tangan Yang Maha Kuasa.
Untuk merenungkan ayat ini, mari kita bayangkan keindahan dan kekuatan di balik proses ini melalui sebuah representasi visual sederhana mengenai siklus alam yang dikendalikan:
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang meteorologi, tetapi juga tentang manajemen kehidupan. Ketika kita melihat kekeringan panjang atau banjir yang tak terduga, itu adalah pengingat bahwa kontrol penuh berada di tangan-Nya. Manusia berusaha membuat waduk, sistem irigasi, dan prediksi cuaca, namun semua upaya itu hanyalah sarana yang diizinkan Allah untuk berfungsi.
Ketidakmampuan kita untuk memastikan hujan turun saat kita membutuhkannya, atau menghentikannya saat terjadi bencana, menegaskan kembali kebenaran Al-Hijr ayat 23. Dialah Al-Qadir (Maha Kuasa) yang mengatur segala sesuatu di alam semesta ini, mulai dari skala terkecil atom hingga skala sistemik seperti peredaran air. Memahami ayat ini mendorong seorang Muslim untuk selalu memohon pertolongan hanya kepada Allah, karena hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak atas pemberian dan pencabutan nikmat-Nya.