Kekuatan Penciptaan dan Keagungan Ilahi (Al-Hijr: 26)

Keseimbangan Materi dan Roh Representasi Simbolis Proses Penciptaan Manusia dari Tanah Liat yang Diubah
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk."

Konteks dan Kedalaman Ayat Al-Hijr Ayat 26

Surah Al-Hijr, ayat ke-26, merupakan salah satu penegasan mendasar dalam Al-Qur'an mengenai asal-usul penciptaan manusia. Ayat ini secara spesifik merujuk pada penciptaan Nabi Adam AS, bapak seluruh umat manusia. Frasa kunci dalam ayat ini adalah "shalṣālin min ḥamāʾin masnūn" (tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk). Pemilihan diksi ini sangat kaya akan makna filosofis dan ilmiah.

Kata "shalṣāl" merujuk pada tanah liat yang telah mengalami proses pengeringan, yang membuatnya keras dan mengeluarkan bunyi denting jika dipukul. Ini mengindikasikan bahwa materi dasar penciptaan—tanah—telah melalui tahap pemrosesan alamiah. Sementara itu, "ḥamāʾin masnūn", yang berarti lumpur hitam yang berubah bentuk atau telah melalui proses pelumpuran dan perubahan warna, menunjuk pada kondisi awal materi yang masih mentah dan lentur. Allah SWT menunjukkan bahwa proses penciptaan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan yang terukur.

Perintah dan Penegasan Kuasa Allah

Ayat ini diawali dengan penegasan "Wa laqad khalaqnā" (Dan sungguh, Kami telah menciptakan), yang berfungsi sebagai sumpah atau penekanan kuat. Penekanan ini relevan karena ayat-ayat sebelumnya dalam Surah Al-Hijr membahas tentang penolakan kaum musyrik terhadap hari kebangkitan dan kisah kaum Nabi Luth. Dengan mengingatkan mereka tentang asal-usul fisik mereka yang sederhana—berasal dari debu dan lumpur—Allah SWT sedang menunjukkan dua hal utama: pertama, betapa luar biasanya transformasi materi tersebut menjadi makhluk berakal (manusia), dan kedua, bahwa Zat yang mampu melakukan transformasi tersebut pasti berkuasa atas segala sesuatu, termasuk menghidupkan kembali setelah kematian.

Kontras antara materi awal yang rendah (lumpur) dengan kemuliaan akhir penciptaan (manusia dengan akal, ruh, dan kapasitas moral) adalah poin sentral. Hal ini seringkali menjadi dalil untuk merenungkan kesombongan manusia. Jika materi dasar penciptaan kita begitu sederhana dan diperoleh melalui proses pematangan (pengeringan dan pembentukan), maka kesombongan terhadap sesama atau terhadap pencipta adalah hal yang tidak berdasar.

Implikasi Filosofis dan Spiritual

Al-Hijr ayat 26 menjadi pengingat akan konsep tauhid dalam penciptaan. Proses pembentukan yang detail—dari tanah menjadi lumpur, dari lumpur menjadi bentuk yang sempurna—menunjukkan ketelitian dan kebijaksanaan Ilahi. Ini berbeda dengan konsep penciptaan dalam mitologi lain yang mungkin hanya melibatkan 'bentuk' atau 'cetakan' tanpa proses material yang bertahap.

Selain itu, ayat ini memberikan landasan bagi pemahaman tentang kesetaraan antarmanusia. Jika semua manusia, terlepas dari ras, status, atau kekayaan, memiliki sumber material yang sama, maka perbedaan yang muncul hanyalah akibat dari pembentukan akhir (akhlak, amal, dan ketakwaan). Ayat ini menggarisbawahi bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada asal materialnya, melainkan pada ruh yang ditiupkan dan pilihan hidup yang diambil setelah proses penciptaan selesai.

Tantangan untuk Merenungkan

Para mufasir seringkali mengaitkan ayat ini dengan tantangan yang dihadapi oleh Iblis ketika menolak bersujud kepada Adam. Iblis berargumen, "Engkau menciptakan aku dari api, dan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah." Penekanan Al-Hijr 26 pada sifat fisik Adam (tanah liat kering) memperkuat otoritas perintah Allah. Api mungkin tampak lebih mulia daripada tanah, tetapi dalam skala kehendak Allah, tanah yang diproses dengan sempurna menjadi media bagi kehormatan yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, Al-Hijr ayat 26 berfungsi sebagai fondasi historis dan spiritual. Ia mengajak setiap pembaca untuk meninjau kembali dari mana mereka berasal, menghargai proses pembentukan yang kompleks dan terencana dalam kehidupan, serta merendahkan hati di hadapan Kuasa Yang Maha Pencipta yang mampu mengubah lumpur hitam menjadi makhluk yang memegang tanggung jawab khalifah di bumi.

🏠 Homepage