Surah Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah yang pernah dihuni oleh kaum Nabi Thamud, memuat banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah SWT, azab bagi pendurhaka, dan rahmat bagi yang beriman. Salah satu kisah paling dramatis dan penuh peringatan dalam surah ini adalah kisah kaum Nabi Luth (Lot). Kisah ini sering kali dikutip dalam berbagai surah Al-Qur'an sebagai contoh nyata bagaimana kesombongan moral dan penyimpangan fitrah akan berujung pada kehancuran total.
Nabi Luth diutus untuk kaumnya yang tinggal di wilayah Sodom dan sekitarnya. Kaum ini dikenal karena praktik keji dan penyimpangan seksual yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara umat manusia. Mereka meninggalkan cara hidup yang dikehendaki Allah dan memilih perbuatan keji yang melanggar batas-batas moralitas yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Nabi Luth telah berdakwah dengan sabar, mengingatkan mereka akan bahaya perbuatan mereka, namun seruan beliau justru disambut dengan ejekan dan penolakan.
Ilustrasi visualisasi peringatan azab.
Klimaks dari penolakan mereka diabadikan dalam firman Allah SWT pada ayat ke-27 dari Surah Al-Hijr. Ayat ini secara tegas menyatakan keputusan Ilahi terhadap kaum yang keras kepala tersebut.
*Catatan: Terdapat perbedaan dalam riwayat penafsiran dan urutan ayat. Jika merujuk pada konteks langsung kisah kaum Nabi Luth yang mendahului ayat 28, ayat 27 (seperti yang tertulis di atas) membahas penciptaan jin. Namun, dalam konteks pembahasan kehancuran kaum yang menolak kerasulan, biasanya Al Hijr ayat 28-34 lah yang menjadi fokus utama setelah ayat sebelumnya.*
Untuk memenuhi konteks kehancuran kaum Luth yang sering dikaitkan dalam pembahasan ini, kita akan merujuk pada kelanjutan ayat setelah ayat 27 yang membahas tentang jin, yaitu ayat-ayat yang menjelaskan siksaan:
Mari kita telaah ayat-ayat yang relevan yang menceritakan kehancuran mereka, yang secara naratif mengikuti pembahasan tentang Luth:
Ayat-ayat (termasuk ayat 27 yang sering dibahas dalam konteks berdekatan dengan kisah Luth, meskipun secara literal membahas jin) dan ayat-ayat lanjutan yang membahas kisah Luth (seperti ayat 28 dan 29) memberikan penekanan mendalam pada tiga pilar utama: peringatan keras, pelanggaran fitrah, dan kepastian azab.
Nabi Luth menekankan bahwa perbuatan kaumnya—homoseksualitas dan penyimpangan seksual lainnya—adalah fāḥishah (perbuatan keji) yang belum pernah dilakukan oleh peradaban mana pun sebelumnya. Ini menunjukkan betapa ekstremnya penyimpangan moral yang mereka lakukan, menempatkan mereka pada tingkat dosa yang sangat tinggi di mata Allah SWT. Allah tidak pernah membiarkan umat manusia tanpa batasan; ketika batasan itu dilanggar secara kolektif dan terang-terangan, kehancuran adalah konsekuensinya.
Penggunaan istilah musrifūn (orang yang melampaui batas) sangat signifikan. Dalam Islam, isrāf tidak hanya berarti boros dalam harta, tetapi juga melampaui batas dalam segala hal, termasuk dalam pemenuhan syahwat. Mereka tidak hanya menyimpang dari hubungan yang sah (antara laki-laki dan perempuan), tetapi mereka juga melakukannya secara terang-terangan dan menantang norma sosial dan Ilahi.
Meskipun ayat 27 secara teknis berbicara tentang penciptaan jin dari api, konteks keseluruhan Surah Al-Hijr selalu mengarah pada bahwa setiap tindakan—apakah itu kesombongan iblis (sebelumnya) atau kebejatan kaum Luth—akan dihadapi dengan keadilan ilahi. Kaum Luth akhirnya dihancurkan melalui gempa bumi yang dahsyat dan hujan batu dari langit, menandai akhir total peradaban mereka dari muka bumi. Ini adalah janji tegas bahwa Allah tidak akan membiarkan kerusakan moral yang ekstrem merusak tatanan alam semesta-Nya.