Perintah Ilahi

Ilustrasi Konsep Penerimaan Wahyu dan Malaikat.

Kisah Malaikat dan Tunduknya Iblis: Tafsir Al-Hijr Ayat 28-29

Surat Al-Hijr, yang juga dikenal sebagai Surah Al-Hijr, memuat kisah-kisah penting mengenai penciptaan manusia, dialog para nabi, dan peringatan keras bagi mereka yang menolak kebenaran. Di tengah kisah tersebut, terdapat ayat yang sangat mendalam mengenai perintah Allah kepada para malaikat-Nya, khususnya yang berkaitan dengan penghormatan terhadap Nabi Adam AS. Ayat 28 dan 29 dari surat ini menjadi landasan utama bagi doktrin keutamaan manusia yang diciptakan Allah, serta penolakan Iblis (Syaitan) yang berujung pada pengusirannya dari rahmat Ilahi.

Teks Al-Hijr Ayat 28

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ

(28) Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk."

Ayat ini membuka dialog penting antara Sang Pencipta dan para malaikat-Nya. Allah SWT mengumumkan rencana-Nya untuk menciptakan makhluk baru, yaitu manusia (Basyar). Yang menarik adalah deskripsi bahan dasar penciptaan Adam AS: "shalshal min hama'in masnun." Ini mengacu pada tanah liat yang sudah mengering (shalshal) yang berasal dari lumpur hitam yang sudah diolah (hama'in masnun). Kontras antara tanah liat yang awalnya dianggap rendah dengan status mulia yang akan diemban manusia kelak adalah pelajaran pertama dari ayat ini. Allah tidak hanya menciptakan dari debu, tetapi dari elemen yang memiliki substansi.

Reaksi para malaikat dalam ayat sebelumnya (Al-Baqarah: 30) menunjukkan bahwa mereka memahami bahwa makhluk baru ini akan membawa potensi kebaikan dan juga potensi kerusakan di bumi. Namun, pengumuman ini adalah bentuk penetapan kehendak mutlak Allah SWT.

Teks Al-Hijr Ayat 29

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

(29) Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan roh (ciptaan-Ku) ke dalamnya, maka tundukkanlah diri kalian dengan bersujud kepadanya."

Ayat ke-29 melanjutkan perintah tersebut dengan penekanan pada dua tahap kesempurnaan penciptaan Adam: penyempurnaan bentuk fisik (*sawwaytuhu*) dan peniupan ruh (*nafakhtu fihi min ruhi*). Peniupan ruh adalah titik balik yang membedakan manusia dari makhluk lain. Ruh yang ditiupkan adalah bagian dari rahasia dan keistimewaan penciptaan Allah, yang memberikan manusia akal, kehendak bebas, dan potensi spiritual yang tidak dimiliki entitas lain.

Perintah Sujud dan Keistimewaan Adam

Perintah untuk bersujud (*saajidin*) adalah puncak dari keistimewaan yang diberikan kepada Adam. Sujud di sini bukan berarti penyembahan (karena penyembahan hanya mutlak milik Allah), melainkan penghormatan dan pengakuan atas keunggulan derajat yang telah Allah anugerahkan kepada Adam setelah ditiupkan ruh. Para malaikat, yang notabene lebih dahulu ada dan lebih patuh, diperintahkan untuk tunduk kepada Adam.

Kisah ini menegaskan prinsip tauhid dalam interaksi makhluk. Kepatuhan para malaikat kepada perintah bersujud ini menunjukkan kesempurnaan ketaatan mereka. Namun, ayat-ayat berikutnya dalam surat Al-Hijr (Ayat 30-35) akan menceritakan bagaimana Iblis menolak mentaati perintah yang sama, sehingga ia dicabut dari barisan malaikat dan dilaknat.

Implikasi Teologis dari Ayat 28 dan 29

  1. Kehormatan Manusia (Insaniyyah): Ayat-ayat ini adalah dalil utama mengenai kemuliaan penciptaan manusia. Meskipun berasal dari tanah, manusia memiliki aspek ilahiah melalui ruh yang ditiupkan.
  2. Hierarki Ketaatan: Kisah ini menetapkan bahwa ketaatan harus bersifat total kepada Allah. Penolakan Iblis lahir dari kesombongan karena merasa lebih baik (diciptakan dari api daripada tanah), sebuah penyakit hati yang sangat dilarang dalam Islam.
  3. Fungsi Imamah di Bumi: Perintah bersujud merupakan pengukuhan status Adam sebagai khalifah pertama di bumi, yang ilmu dan kemampuannya dilebihkan oleh Allah, sehingga para malaikat diperintahkan memberi penghormatan.

Al-Hijr ayat 28 dan 29 bukan sekadar narasi sejarah penciptaan, tetapi fondasi teologis yang terus relevan. Ia mengingatkan setiap muslim bahwa nilai sejati seseorang tidak terletak pada asal usul materi, melainkan pada sejauh mana ia menjaga dan mengembangkan amanah ruh dan ilmu yang diembannya sebagai keturunan Adam AS.

🏠 Homepage