Surah Al-Hijr, yang berarti "Batu" atau "Tempat yang Berbatu," adalah surah ke-15 dalam urutan Mushaf Utsmani. Surah ini kaya akan pelajaran tentang keesaan Allah, kisah para nabi terdahulu, dan peringatan bagi mereka yang menolak kebenaran. Salah satu ayat penutupnya, yaitu ayat ke-46, memberikan gambaran yang sangat indah dan menenangkan tentang balasan bagi hamba-hamba yang saleh.
Memahami ayat ini sangat penting karena ia berfungsi sebagai janji dan motivasi tertinggi bagi setiap Muslim yang berusaha menjalani hidup sesuai ajaran Ilahi. Ayat ini adalah puncak dari harapan seorang mukmin: yaitu mendapatkan kediaman yang paling mulia di sisi Allah SWT.
Ayat ini secara eksplisit menggambarkan keadaan mereka yang berhasil masuk ke dalam surga. Berikut adalah lafaz dan terjemahannya:
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "بِسَلَامٍ آمِنِينَ" (bisalamin aaminin), yang mengandung dua makna mendalam:
Kontras antara dunia dan akhirat sangat jelas tergambar di sini. Di dunia, kita hidup dalam ketidakpastian (khauf) dan harus selalu waspada. Tetapi di akhirat, di dalam surga, predikat utama adalah kedamaian mutlak dan rasa aman yang kekal. Allah memberikan karunia ini sebagai balasan atas ketekunan mereka dalam beriman dan beramal saleh di tengah tantangan hidup.
Al Hijr ayat 46 tidak berdiri sendiri. Ia adalah kesimpulan dari dialog antara Allah dan para penghuni surga (atau malaikat yang menyambut mereka). Beberapa ayat sebelumnya, Allah menggambarkan sifat-sifat hamba-Nya yang berhak mendapatkan kedudukan mulia ini. Mereka adalah hamba-hamba yang:
Ketika amal mereka telah selesai dihisab dan mereka diizinkan memasuki surga, sambutan yang mereka terima adalah "Masuklah ke dalamnya dengan selamat dan tenteram." Ini adalah klimaks dari perjalanan iman seseorang. Ayat berikutnya (Al Hijr 47) bahkan menambahkan bahwa Allah akan mencabut rasa dengki dari hati mereka, menegaskan bahwa kedamaian yang mereka rasakan benar-benar paripurna, tanpa sisa-sisa emosi negatif duniawi.
Ayat 46 Surah Al-Hijr berfungsi sebagai cermin refleksi bagi kita yang masih hidup. Jika tujuan akhir yang dijanjikan adalah kedamaian dan keamanan abadi, maka segala kesulitan yang kita hadapi saat ini dalam menjaga ketaatan kepada Allah haruslah kita terima dengan lapang dada.
Perjuangan melawan hawa nafsu, godaan dunia, dan tekanan sosial adalah harga kecil yang harus dibayar untuk mendapatkan janji yang agung ini. Ketika kita merasa lelah dalam beribadah atau tergoda untuk melakukan kemaksiatan, mengingat kata "آمنين" (aman) seharusnya memberikan suntikan semangat baru. Karena sungguh, ketenangan yang kita cari di dunia ini hanyalah bayangan samar dari keamanan hakiki yang telah disiapkan Allah di Jannah. Marilah kita terus beramal, memohon ampun, dan berharap agar kita semua termasuk di antara mereka yang disambut dengan ucapan mulia tersebut.