Kajian Mendalam: Al-Maidah Ayat 1 dan 20

Simbol Kepatuhan dan Peringatan Janji

Al-Maidah Ayat 1: Janji dan Kehalalan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah segala janji (akad) itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu (dilarang), dengan tidak menghalalkan memburu ketika kamu sedang ihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang Dia kehendaki.

Ayat pertama dari Surah Al-Maidah ini merupakan pondasi etika dan moralitas dalam Islam. Frasa pembukanya, "Yā ayyuhal-ladhīna āmanū" (Wahai orang-orang yang beriman), segera menarik perhatian komunitas Muslim untuk melaksanakan tanggung jawab ilahiah mereka. Inti dari ayat ini terletak pada perintah tegas: "Aufū bil-'uqūd" (Penuhilah akad/janji). Ini mencakup janji kepada Allah SWT, janji antarmanusia, kontrak bisnis, sumpah pernikahan, hingga komitmen sosial. Kepatuhan terhadap janji adalah tolok ukur keimanan sejati.

Selanjutnya, ayat ini memberikan dispensasi mengenai kehalalan binatang ternak (An'am), dengan pengecualian spesifik, seperti hewan yang disembelih tidak sesuai syariat atau hewan yang diburu saat sedang dalam keadaan ihram haji atau umrah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kemudahan diberikan, batasan syariat harus selalu dihormati. Ayat ini mengukuhkan prinsip bahwa Allah adalah pembuat hukum tertinggi yang Mahabijaksana.

Al-Maidah Ayat 20: Warisan Nabi Musa dan Sikap Umat

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kamu, dan dijadikan-Nya kamu raja-raja (merdeka), dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat (sebelummu)."

Beranjak ke ayat kedua puluh dari surah yang sama, narasi bergeser kepada kisah Nabi Musa AS dan Bani Israil. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat akan nikmat-nikmat besar yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya syukur (QS. Al-Maidah: 20). Nikmat tersebut meliputi tiga poin utama: pengangkatan para nabi di tengah mereka, pemberian status sebagai "raja-raja" atau penguasa yang merdeka, dan pemberian sesuatu yang belum pernah diberikan kepada bangsa lain di dunia pada masa itu.

Fokus ayat ini adalah menanamkan rasa terima kasih dan kesadaran historis. Ketika manusia diingatkan akan keistimewaan yang diterima—seperti kepemimpinan spiritual dan keduniawian—mereka seharusnya termotivasi untuk taat dan tidak mengingkari nikmat tersebut. Perintah Musa kepada kaumnya untuk mengingat nikmat ini sangat relevan bagi umat Nabi Muhammad SAW, agar mereka tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama yaitu kufur nikmat.

Konteks dan Relevansi Kedua Ayat

Meskipun terpisah jarak beberapa ayat, Al-Maidah ayat 1 dan 20 memiliki benang merah yang kuat: Pertanggungjawaban dan Kesadaran Ilahi. Ayat pertama menetapkan standar umum: komitmen total terhadap janji dan akad. Ayat kedua puluh memberikan konteks historis spesifik mengenai bangsa yang pernah menerima anugerah besar namun sering kali gagal memenuhi komitmen mereka (ingkar janji dan kufur nikmat).

Bagi seorang Muslim, menjalani hidup berarti senantiasa menjaga integritas janji (ayat 1) sambil terus menyadari dan mensyukuri karunia Allah yang tiada tara (ayat 20). Kegagalan dalam menjaga janji bisa berujung pada hilangnya keberkahan nikmat yang telah diberikan. Dalam interaksi sosial dan ibadah, dua ayat ini menjadi pengingat bahwa keimanan diukur dari konsistensi antara ucapan dan perbuatan nyata. Ayat 1 adalah perintah, sementara ayat 20 adalah contoh bagaimana sebuah umat yang dimuliakan dapat kehilangan kemuliaannya karena melupakan perintah tersebut. Menghayati kedua ayat ini adalah jalan menuju kehidupan yang seimbang antara pemenuhan hak Allah dan hak sesama manusia.

🏠 Homepage