Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Surat ini mengandung banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah, kekuasaan-Nya, serta kisah-kisah para nabi terdahulu sebagai peringatan bagi umat manusia. Salah satu kisah yang paling mengharukan dan sarat makna dalam surat ini adalah kisah kaum Nabi Luth a.s., yang kisahnya disinggung secara rinci dalam beberapa ayat, termasuk ayat 61.
Kisah Nabi Luth adalah narasi tentang teguran keras terhadap penyimpangan moral yang luar biasa, di mana kaumnya melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelumnya. Melalui kisah ini, Allah SWT menegaskan bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan keburukan dan kemaksiatan merajalela tanpa adanya konsekuensi.
إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ
(Ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada Allah)?"
Ayat ini merupakan inti dari seruan Nabi Luth kepada kaumnya. Setelah serangkaian teguran dan penjelasan tentang kebenaran tauhid, Nabi Luth mengakhiri dakwahnya dengan pertanyaan retoris yang menusuk hati: "Mengapa kamu tidak bertakwa?" Pertanyaan ini mengandung tuntutan moral yang mendasar, yaitu meninggalkan perbuatan keji yang mereka lakukan dan kembali kepada ketaatan kepada Allah SWT.
Kata "تَتَّقُونَ" (tattaquun) berasal dari akar kata "تقوى" (taqwa), yang berarti takut atau menjaga diri dari murka Allah. Dalam konteks ayat ini, seruan Nabi Luth adalah ajakan untuk menyadari konsekuensi dari perbuatan mereka. Kaum Nabi Luth terkenal karena praktik homoseksualitas secara terang-terangan dan menantang norma sosial yang ditetapkan Allah.
Nabi Luth menekankan bahwa perbuatan mereka tidak hanya melanggar etika kemanusiaan, tetapi juga merupakan pengkhianatan terhadap ketakwaan kepada Pencipta alam semesta. Ketika seseorang meninggalkan takwa, ia membuka pintu bagi segala bentuk kemaksiatan. Ayat ini mengajarkan bahwa fondasi dari setiap perbaikan perilaku adalah kesadaran akan kehadiran dan pengawasan Allah.
Penting untuk dicatat bahwa ayat 61 ini terjadi setelah ayat-ayat sebelumnya (Al-Hijr 55-60) yang menjelaskan reaksi kaumnya yang menolak dakwah Nabi Luth dan mengancam akan mengusirnya. Ayat 61 menjadi klimaks di mana Nabi Luth, dalam kesabaran yang hampir habis, mengingatkan mereka akan tanggung jawab spiritual mereka.
Kisah Nabi Luth a.s. adalah salah satu kisah paling gamblang tentang kehancuran akibat penyimpangan moral. Kaumnya, yang tinggal di Sadum (Sodom) dan wilayah sekitarnya, menolak keras ajaran Nabi Luth. Mereka tidak hanya menolak dakwah, tetapi juga secara aktif melakukan praktik yang melampaui batas-batas kewajaran moral dan agama.
Ayat-ayat sebelum ayat 61 (seperti Al-Hijr ayat 58-59) menyebutkan bahwa Nabi Luth telah berdoa agar Allah memberikan keputusan antara dirinya dan kaumnya. Permintaan ini direspons dengan janji bahwa Nabi Luth dan keluarganya (kecuali istrinya) akan diselamatkan, sementara kaumnya akan ditimpakan azab yang pedih. Ayat 61 menjadi jembatan antara peringatan terakhir Nabi Luth dan dimulainya proses penurunan azab tersebut.
Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth. Mereka tidak hanya menantang Nabi, tetapi juga menantang hukum alam dan hukum moral yang diletakkan oleh Allah. Kegagalan mereka untuk bertakwa, seperti yang disoroti dalam ayat ini, adalah akar dari kehancuran total yang mereka alami.
Meskipun kisah ini terjadi ribuan tahun lalu, seruan Nabi Luth untuk bertakwa tetap relevan hingga hari ini. Di era modern, banyak bentuk penyimpangan moral dan sosial yang muncul, seringkali didukung oleh narasi yang mencoba menormalisasi apa yang seharusnya dikecam oleh ajaran agama dan norma kemanusiaan yang luhur.
Al-Hijr ayat 61 adalah pengingat kuat bahwa ketakwaan harus menjadi filter utama dalam setiap tindakan dan keputusan. Ketika seseorang kehilangan rasa takut kepada Allah dan gagal menjaga batasan-batasan-Nya, sangat mudah bagi individu atau masyarakat untuk terjerumus ke dalam kerusakan moral. Pertanyaan Nabi Luth, "Mengapa kamu tidak bertakwa?", harus kita ajukan kepada diri kita sendiri setiap hari:
Kisah Nabi Luth dan seruan takwa dalam ayat 61 ini menegaskan bahwa Allah memberikan kesempatan untuk bertaubat, tetapi jika peringatan diabaikan hingga mencapai titik ekstrem, konsekuensi akan segera menyusul.