Dibalikkannya Kota

Ilustrasi dampak pembalikan kota sebagai peringatan.

Pelajari Sifat Azab: Tafsir Al Hijr Ayat 74

Al-Qur'an penuh dengan kisah-kisah peringatan yang ditujukan untuk menguatkan iman orang beriman dan menjadi pelajaran bagi generasi yang akan datang. Salah satu kisah yang paling dramatis dan tegas adalah kisah kaum Nabi Luth AS. Dalam Surah Al-Hijr, Allah SWT memberikan narasi singkat namun padat mengenai azab yang menimpa kaum tersebut, terutama terangkum dalam Al Hijr ayat 74.

Teks dan Terjemahan Al Hijr Ayat 74

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ

Artinya: "Maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu terbalik (atas ke bawah) dan Kami hujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang keras (sijjil)."

Ayat ini adalah puncak dari rangkaian ancaman dan peringatan yang telah diberikan kepada kaum Nabi Luth di Sadum (Sodom) dan sekitarnya. Ayat ini menjelaskan dua jenis azab yang ditimpakan Allah SWT secara simultan: pembalikan negeri dan hujan batu.

Dua Bentuk Azab yang Menghancurkan

1. Pembalikan Negeri (عَالِيَهَا سَافِلَهَا)

Frasa "Kami jadikan negeri kaum Luth itu terbalik (atas ke bawah)" menunjukkan skala kehancuran yang total dan fisik. Ini bukan sekadar gempa bumi biasa, melainkan pembalikan struktur geografis kota secara keseluruhan. Para mufassir menjelaskan bahwa kota mereka diangkat tinggi-tinggi oleh malaikat Jibril hingga langit, kemudian dibalikkan sedemikian rupa sehingga bagian bawahnya menjadi di atas, dan sebaliknya.

Bentuk azab ini mengandung pelajaran mendalam. Ia menunjukkan bahwa ketika suatu kaum melampaui batas moralitas dan menolak ajaran tauhid, bahkan fondasi kehidupan duniawi mereka—tanah yang mereka pijak—dapat berubah menjadi sumber malapetaka. Ini adalah penegasan bahwa kekuatan Allah SWT meliputi segala aspek, termasuk hukum alam itu sendiri. Pembalikan ini adalah cerminan dari **pembalikan nilai-nilai** yang telah mereka anut. Mereka membalikkan fitrah dan norma kemanusiaan, maka Allah membalikkan realitas fisik mereka.

2. Hujan Batu dari Tanah yang Keras (حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ)

Azab kedua yang menyertai adalah hujan batu yang sangat spesifik. Kata "sijjil" (سِجِّيلٍ) sering ditafsirkan sebagai batu yang terbuat dari tanah liat yang dipanggang atau telah dibakar keras. Dalam ayat lain (seperti Hud ayat 82), Allah menjelaskan batu-batu tersebut ditandai dari sisi Tuhannya.

Batu-batu ini memiliki daya hancur luar biasa, mampu menembus dan menghancurkan struktur apa pun. Ini menunjukkan ketepatan dan kekhususan azab ilahi. Azab ini tidak bersifat acak, melainkan ditujukan tepat sasaran sebagai konsekuensi langsung dari perbuatan maksiat mereka yang terang-terangan.

Pelajaran Penting dari Al Hijr Ayat 74

Kisah kaum Nabi Luth AS, yang disimpulkan tegas dalam Al Hijr ayat 74, memberikan beberapa pelajaran vital bagi umat Islam hingga akhir zaman:

  1. Konsekuensi Dosa Besar yang Nyata: Ayat ini menegaskan bahwa dosa besar, terutama yang melanggar norma dasar kemanusiaan dan fitrah (seperti homoseksualitas yang dilakukan kaum Luth), memiliki konsekuensi di dunia sebelum akhirat.
  2. Kekuasaan Mutlak Allah: Tidak ada yang dapat menghalangi kehendak Allah ketika Ia memutuskan untuk memberikan peringatan keras. Pembalikan sebuah kota besar adalah demonstrasi kekuatan yang tidak tertandingi oleh kekuatan fana mana pun.
  3. Kehancuran Bersama (Kecuali yang Beriman): Dalam banyak kisah azab, hanya orang yang mengikuti nabi yang diselamatkan (dalam kisah Luth, hanya Nabi Luth dan keluarganya, kecuali istrinya yang durhaka). Ini mengajarkan pentingnya mengikuti petunjuk ilahi sebagai satu-satunya benteng keselamatan.
  4. Peringatan bagi Generasi Kemudian: Allah mengabadikan kisah ini bukan tanpa tujuan. Kisah Sadum adalah peringatan abadi bahwa penolakan terhadap wahyu dan penegakan kemaksiatan secara kolektif akan berakhir dengan kehancuran total, baik secara moral maupun fisik.

Membaca dan merenungkan Al Hijr ayat 74 seharusnya memotivasi setiap Muslim untuk selalu menjaga integritas moral, menjauhi perbuatan keji, dan bersyukur atas nikmat keamanan dan kesucian ajaran yang mereka terima. Kota yang tadinya makmur bisa menjadi puing dalam sekejap mata jika berpaling dari jalan kebenaran.

🏠 Homepage