Ilustrasi dampak pembalikan kota sebagai peringatan.
Al-Qur'an penuh dengan kisah-kisah peringatan yang ditujukan untuk menguatkan iman orang beriman dan menjadi pelajaran bagi generasi yang akan datang. Salah satu kisah yang paling dramatis dan tegas adalah kisah kaum Nabi Luth AS. Dalam Surah Al-Hijr, Allah SWT memberikan narasi singkat namun padat mengenai azab yang menimpa kaum tersebut, terutama terangkum dalam Al Hijr ayat 74.
فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ
Artinya: "Maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu terbalik (atas ke bawah) dan Kami hujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang keras (sijjil)."
Ayat ini adalah puncak dari rangkaian ancaman dan peringatan yang telah diberikan kepada kaum Nabi Luth di Sadum (Sodom) dan sekitarnya. Ayat ini menjelaskan dua jenis azab yang ditimpakan Allah SWT secara simultan: pembalikan negeri dan hujan batu.
Frasa "Kami jadikan negeri kaum Luth itu terbalik (atas ke bawah)" menunjukkan skala kehancuran yang total dan fisik. Ini bukan sekadar gempa bumi biasa, melainkan pembalikan struktur geografis kota secara keseluruhan. Para mufassir menjelaskan bahwa kota mereka diangkat tinggi-tinggi oleh malaikat Jibril hingga langit, kemudian dibalikkan sedemikian rupa sehingga bagian bawahnya menjadi di atas, dan sebaliknya.
Bentuk azab ini mengandung pelajaran mendalam. Ia menunjukkan bahwa ketika suatu kaum melampaui batas moralitas dan menolak ajaran tauhid, bahkan fondasi kehidupan duniawi mereka—tanah yang mereka pijak—dapat berubah menjadi sumber malapetaka. Ini adalah penegasan bahwa kekuatan Allah SWT meliputi segala aspek, termasuk hukum alam itu sendiri. Pembalikan ini adalah cerminan dari **pembalikan nilai-nilai** yang telah mereka anut. Mereka membalikkan fitrah dan norma kemanusiaan, maka Allah membalikkan realitas fisik mereka.
Azab kedua yang menyertai adalah hujan batu yang sangat spesifik. Kata "sijjil" (سِجِّيلٍ) sering ditafsirkan sebagai batu yang terbuat dari tanah liat yang dipanggang atau telah dibakar keras. Dalam ayat lain (seperti Hud ayat 82), Allah menjelaskan batu-batu tersebut ditandai dari sisi Tuhannya.
Batu-batu ini memiliki daya hancur luar biasa, mampu menembus dan menghancurkan struktur apa pun. Ini menunjukkan ketepatan dan kekhususan azab ilahi. Azab ini tidak bersifat acak, melainkan ditujukan tepat sasaran sebagai konsekuensi langsung dari perbuatan maksiat mereka yang terang-terangan.
Kisah kaum Nabi Luth AS, yang disimpulkan tegas dalam Al Hijr ayat 74, memberikan beberapa pelajaran vital bagi umat Islam hingga akhir zaman:
Membaca dan merenungkan Al Hijr ayat 74 seharusnya memotivasi setiap Muslim untuk selalu menjaga integritas moral, menjauhi perbuatan keji, dan bersyukur atas nikmat keamanan dan kesucian ajaran yang mereka terima. Kota yang tadinya makmur bisa menjadi puing dalam sekejap mata jika berpaling dari jalan kebenaran.