Makna Mendalam Al-Hijr Ayat 94

Ilustrasi Penegasan dan Perintah Gambar abstrak yang menampilkan garis-garis tegas yang memisahkan dua area, melambangkan ketegasan perintah.

Surah Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran penting mengenai ketauhidan, kisah para nabi, dan perintah ilahi. Salah satu ayat yang memiliki penekanan kuat mengenai sikap seorang Muslim dalam berdakwah dan berinteraksi adalah ayat ke-94. Ayat ini merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah ﷺ yang juga menjadi pedoman bagi umatnya hingga akhir zaman.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ
Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilahlah di antara orang-orang yang bersujud.

Konteks Historis dan Kedalaman Makna

Ayat 94 Surah Al-Hijr turun dalam konteks dakwah Nabi Muhammad ﷺ yang seringkali menghadapi penolakan keras dan ejekan dari kaum kafir Quraisy. Ketika tekanan dakwah semakin berat, dan ketika tantangan terhadap kenabian semakin menguat, Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya untuk tidak terpancing emosi atau merasa putus asa. Sebaliknya, jalan keluar dan penguatan spiritual ditunjukkan melalui tiga pilar utama: tasbih, tahmid, dan sujud.

Perintah "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu" (فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ) mengandung makna yang sangat mendalam. Tasbih (Subhanallah) berarti mensucikan Allah dari segala kekurangan dan sifat yang tidak layak bagi-Nya. Ini adalah pengakuan bahwa Allah Maha Sempurna. Sementara Tahmid (Alhamdulillah) adalah pujian yang mengakui bahwa segala bentuk kebaikan, nikmat, dan kesempurnaan hanya bersumber dari-Nya. Ketika seorang hamba menghadapi kesulitan atau penolakan, penguatan spiritual dimulai dengan menyadari keagungan dan kesempurnaan Pencipta, sehingga masalah duniawi menjadi relatif kecil.

Pentingnya Sujud (Kepatuhan Total)

Pilar ketiga dalam ayat ini adalah perintah untuk "jadilah di antara orang-orang yang bersujud" (وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ). Sujud adalah puncak kerendahan hati seorang hamba di hadapan Rabbnya. Dalam konteks dakwah dan menghadapi kesulitan, sujud menjadi pelarian terbaik, tempat berlindung, dan sumber kekuatan sejati.

Sujud bukan hanya gerakan fisik dalam shalat, namun juga manifestasi kepatuhan total dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Dengan bersujud, seorang Muslim menegaskan bahwa dialah hamba, dan Allah adalah Tuhannya. Dalam keadaan tertekan, sujud mengingatkan bahwa kekuatan penentu akhir segala urusan ada di tangan Allah, bukan pada kekuatan musuh atau opini publik. Ini adalah perintah untuk kembali ke sumber kekuatan utama setiap kali merasa lemah.

Aplikasi dalam Kehidupan Modern

Al-Hijr ayat 94 relevan hingga hari ini. Dalam era informasi yang penuh gejolak, di mana kritik dan tekanan sosial bisa datang dari mana saja, ayat ini memberikan resep ketenangan: ketika Anda merasa terpojok, ketika upaya Anda dihambat, atau ketika Anda melihat kemaksiatan merajalela, jangan sibuk membalas dengan kemarahan atau keputusasaan. Sebaliknya, kembalilah kepada Allah melalui tiga langkah konkret yang diajarkan dalam ayat ini.

Pertama, bersihkan pandangan Anda dari segala negatifitas duniawi dan sucikan Allah (Tasbih). Kedua, sadari dan syukuri segala nikmat yang telah diberikan (Tahmid). Ketiga, tundukkan ego dan hadapi kesulitan dengan ketenangan melalui ibadah dan kepasrahan (Sujud).

Sujud yang konsisten membangun ketahanan spiritual. Rasulullah ﷺ seringkali menjadikan shalat dan sujud sebagai penenang hati beliau ketika menghadapi persoalan besar. Dengan menjadikan diri bagian dari "orang-orang yang bersujud," seorang Muslim menunjukkan bahwa prioritas hidupnya adalah ketaatan kepada Sang Pencipta, bukan mencari validasi dari makhluk. Ayat ini adalah pengingat bahwa ketenangan sejati hanya ditemukan dalam ketaatan yang teguh dan bersujud kepada Allah SWT.

🏠 Homepage