Dalam lembaran Al-Qur'an, terdapat kisah-kisah peringatan yang diturunkan sebagai pelajaran berharga bagi umat manusia sepanjang zaman. Salah satu ayat yang mengandung pesan penutup tegas dari Allah SWT mengenai konsekuensi mendustakan risalah-Nya adalah Surah Al-Hijr ayat 95.
وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ
(Ingatlah), sungguh Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung.
Ayat 95 dari Surah Al-Hijr ini datang setelah serangkaian peringatan keras Allah kepada kaum musyrikin yang menolak keras ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat sebelumnya (90-94) berbicara tentang bagaimana umat terdahulu yang zalim dibinasakan akibat perbuatan mereka sendiri.
Ayat 95 ini berfungsi sebagai pengingat substansial: Di tengah penolakan keras itu, Allah SWT mengingatkan Nabi Muhammad SAW—dan otomatis seluruh umatnya—tentang kemuliaan nikmat yang telah diberikan kepadanya. Nikmat yang dimaksud di sini merujuk pada **"Sab'an Minal Matsani"** (tujuh ayat yang berulang-ulang) dan **"Al-Qur'anul 'Azhim"** (Al-Qur'an yang agung).
Para mufassir sepakat bahwa "Sab'an Minal Matsani" (tujuh ayat yang diulang-ulang) merujuk kepada Surah Al-Fatihah. Surah ini istimewa karena dibaca berulang kali dalam setiap rakaat shalat wajib, menjadikannya inti dari ibadah seorang Muslim. Keagungan Al-Fatihah terletak pada cakupannya yang meliputi pujian kepada Allah, pengakuan akan hari pembalasan, serta permohonan petunjuk jalan yang lurus.
Pemberian Al-Fatihah dan Al-Qur'an secara keseluruhan adalah nikmat tertinggi. Dalam konteks ayat ini, Allah seolah berkata, "Wahai Muhammad, betapa bodohnya kaummu menolak ajaran ini, padahal Aku telah menganugerahkan kepadamu wahyu yang sedemikian rupa keagungannya, yang menjadi tiang agama dan petunjuk menuju keselamatan."
Penempatan ayat 95 ini—tepat setelah ancaman kehancuran terhadap kaum yang mendustakan—menekankan bahwa penolakan terhadap Al-Qur'an bukan sekadar penolakan terhadap seorang rasul, melainkan penolakan terhadap rahmat dan petunjuk ilahi yang paripurna. Jika mereka tetap memilih kesesatan setelah menerima karunia agung berupa Al-Fatihah dan Al-Qur'an, maka kehancuran yang dijanjikan dalam ayat-ayat sebelumnya adalah konsekuensi yang tak terhindarkan.
Peringatan ini bersifat universal. Bagi umat Islam, ayat ini menuntut kita untuk senantiasa menghargai dan mengamalkan Al-Qur'an. Ketika kita merasa bahwa peringatan Allah terasa berat atau jauh, kita diingatkan bahwa sumber petunjuk (Al-Fatihah dan Al-Qur'an) sudah ada di tangan kita. Mengabaikannya berarti mengambil jalan yang sama dengan kaum-kaum terdahulu yang berakhir dengan penyesalan.
Al-Hijr ayat 95 mengajarkan beberapa prinsip penting:
Intinya, ayat ini adalah penegasan akan kemuliaan risalah Islam yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Bagi orang yang beriman, ini adalah sumber kebanggaan dan kekuatan. Bagi mereka yang keras kepala, ini menjadi bukti nyata bahwa peringatan telah disampaikan dengan jelas melalui wahyu yang paling agung, sehingga tidak ada lagi alasan untuk menyimpang.