Simbol Keteguhan dan Keindahan Alam Ilustrasi garis minimalis berupa daun yang tumbuh kokoh dan melengkung lembut menandakan kesabaran.

Menggali Hikmah: Al-Hijr Ayat 97

Dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur'an, terdapat petunjuk dan penegasan yang berfungsi sebagai penyejuk hati bagi mereka yang beriman. Salah satu ayat yang sarat makna penegasan dan penghiburan adalah Surah Al-Hijr ayat 97. Ayat ini turun sebagai respons terhadap tantangan atau mungkin keraguan yang dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW terkait dengan respons masyarakat Makkah saat itu terhadap dakwah tauhid.

Ayat ini sangat singkat namun padat, menegaskan pentingnya kesabaran (sabar) dalam menghadapi kesulitan dan ejekan dalam menyebarkan kebenaran. Ini adalah pengingat abadi bagi setiap Muslim yang membawa risalah, bahwa jalan kebenaran tidak selalu mulus.

Teks Ayat Al-Hijr Ayat 97

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

"Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan."

Kontekstualisasi dan Kedalaman Makna

Ayat ini diawali dengan penegasan "Wa laqad na'lamu" (Dan sungguh Kami mengetahui). Penggunaan kata "sungguh" (laqad) menunjukkan kepastian dan penekanan yang kuat dari Allah SWT. Allah tidak hanya sekadar mendengar, tetapi secara penuh mengetahui apa yang dirasakan oleh Rasulullah SAW di dalam hati beliau. Ini adalah bentuk empati Ilahi yang langsung menyentuh inti masalah: kesempitan dada (dhiqu shadrih).

"Dada yang sempit" (ضِيقُ صَدْرِكَ) adalah metafora kuat dalam bahasa Arab yang menggambarkan kegelisahan, kesedihan mendalam, frustrasi, atau rasa tertekan. Nabi Muhammad SAW, meskipun seorang Rasul yang mulia, tidak kebal dari rasa sakit hati ketika melihat kaumnya menolak kebenaran, bahkan mengejek risalah yang dibawanya. Ini menunjukkan bahwa perjuangan dakwah seringkali dibayar mahal dengan beban emosional.

Mengapa penegasan ini penting? Karena penegasan ini berfungsi ganda: pertama, sebagai penghiburan langsung dari Sang Pencipta. Kedua, sebagai landasan bagi perintah yang akan datang (walaupun tidak terdapat pada ayat 97 ini, namun sangat terkait dengan ayat-ayat setelahnya, yaitu 98 dan 99 yang memerintahkan untuk bertasbih). Mengetahui bahwa setiap rasa sakitnya disaksikan dan dipahami sepenuhnya oleh Allah SWT seharusnya mampu meringankan beban beliau.

Pelajaran Kesabaran dalam Perjuangan

Al-Hijr ayat 97 menjadi cermin bagi umatnya hingga hari ini. Dalam konteks kehidupan modern, kesempitan dada bisa muncul akibat penolakan dalam berbisnis yang berdasarkan syariat, ejekan terhadap praktik ibadah, atau ketika kita menghadapi orang-orang yang sinis terhadap nilai-nilai agama.

Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak membiarkan reaksi negatif orang lain merusak fondasi spiritual kita. Jika Nabi Muhammad SAW saja membutuhkan penegasan ini, apalagi kita. Pemahaman bahwa Allah Maha Tahu adalah jangkar yang menahan kapal iman kita dari diterpa badai cemoohan.

Makna kesabaran di sini bukan pasif menunggu, melainkan kesabaran aktif yang disertai dengan keteguhan (istiqamah) dan penyerahan diri sepenuhnya kepada rencana Ilahi. Setelah pengakuan atas rasa sakit (Ayat 97), Allah seringkali diikuti dengan solusi spiritual. Dalam konteks surat Al-Hijr, solusi itu adalah perintah untuk tetap beribadah dan bersujud (seperti pada ayat 98-99). Jadi, ketika dada terasa sempit karena ucapan manusia, solusinya adalah kembali erat kepada Sang Pencipta.

Kontras dengan Keagungan Allah

Ayat 97 menyoroti kerapuhan emosi manusia, namun secara implisit ia mengingatkan kita akan keagungan Allah yang memiliki kekuatan untuk membalas dan menyelesaikan segala urusan. Kesulitan yang kita hadapi hanyalah setitik debu di hadapan kuasa-Nya. Ketika seseorang merasa terisolasi dalam menyampaikan kebenaran, ayat ini mengingatkan: Anda tidak sendiri; Rabb semesta alam memahami setiap helai rasa sakit yang Anda rasakan.

Oleh karena itu, renungan mendalam atas Al-Hijr ayat 97 membawa ketenangan. Ia memvalidasi perasaan kita yang tertekan, sekaligus mengarahkan kita pada sumber kekuatan sejati. Kesempitan dada karena dakwah atau ketaatan adalah tanda bahwa kita sedang berada di jalan yang benar, jalan yang telah dilalui oleh para Nabi terdahulu, dan jalan yang selalu berada dalam pengawasan dan pengetahuan Allah SWT.

Penutupannya adalah penguatan komitmen: meski terasa sempit, kita harus terus berjalan, karena pertolongan dan pemahaman sejati hanya datang dari sumber yang menegaskan bahwa Dia mengetahui semua yang kita rasakan.

🏠 Homepage