Tadabbur: Keagungan Allah dalam Al Hijr Ayat 98

(Gambar Ilustrasi: Simbol Keagungan dan Keabadian)

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ

Teks dan Terjemahan

Ayat 98 dari Surah Al-Hijr (Surah ke-15) adalah penutup yang kuat bagi bab ini, yang sebelumnya telah membahas kisah kaum Nabi Saleh (Tsamud) dan pentingnya bersabar dalam menghadapi tantangan dakwah. Ayat ini secara langsung ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, namun maknanya berlaku universal bagi seluruh umat Islam sebagai perintah penting dalam kehidupan spiritual.

"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan (masuklah) golongan orang-orang yang bersujud." (QS. Al-Hijr: 98)

Perintah Utama: Tasbih dan Sujud

Perintah dalam Al Hijr ayat 98 ini merangkum dua pilar utama ibadah penghambaan kepada Allah SWT: Tasbih (penyucian) dan Sujud (ketundukan total). Setelah menyaksikan berbagai kisah umat terdahulu, peringatan tentang azab, dan penegasan kebenaran Al-Qur'an, Allah memerintahkan penutupnya dengan penegasan bahwa jalan keselamatan dan kedekatan adalah melalui pengakuan akan kesempurnaan-Nya.

1. Faszabbih Bi Hamdi Rabbika (Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu)

Kata "Tasbih" (فَسَبِّحْ) berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan, kelemahan, atau sifat yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Ketika digabungkan dengan "Bi Hamdihi" (dengan memuji-Nya), maknanya menjadi lebih mendalam. Ini bukan sekadar pengakuan bahwa Allah Maha Suci, tetapi juga manifestasi rasa syukur atas segala nikmat yang telah Dia berikan. Seorang mukmin diperintahkan untuk selalu menjadikan pujian dan pengakuan keesaan Allah sebagai nafas kehidupan sehari-hari, terutama setelah mengalami kesulitan atau menyaksikan kekuasaan-Nya. Hal ini berfungsi sebagai penyeimbang mental dan spiritual agar hati tidak tenggelam dalam kesombongan saat diberi kemenangan, atau putus asa saat diuji.

2. Wa Kun Minal Sajidin (Dan masuklah golongan orang-orang yang bersujud)

Perintah "bersujud" adalah puncak dari ketundukan fisik dan spiritual. Sujud dalam salat adalah momen ketika dahi, yang merupakan bagian tertinggi dari tubuh manusia, diletakkan di atas bumi sebagai tanda kerendahan hati mutlak di hadapan Sang Pencipta. Dalam konteks ayat ini, menjadi golongan orang yang bersujud berarti menjadi orang-orang yang secara konsisten menjalankan salat dengan khusyuk dan menjadikan kerendahan hati sebagai ciri khas perilaku mereka. Sujud adalah penolakan total terhadap kesombongan yang menjadi penyebab utama kejatuhan Iblis.

Implikasi Spiritual Al Hijr Ayat 98

Ayat ini memberikan panduan praktis bagi seorang Muslim dalam menghadapi dinamika kehidupan. Ketika menghadapi kebohongan kaumnya, Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk kembali kepada sumber kekuatan, yaitu Allah. Ini mengajarkan bahwa solusi terbaik untuk setiap krisis—baik krisis pribadi, sosial, maupun dakwah—adalah kembali melakukan pembersihan jiwa (tasbih) dan penyerahan diri total (sujud).

Keindahan ayat ini terletak pada susunannya. Tasbih adalah upaya aktif lisan dan hati untuk mengakui kebesaran Allah, sedangkan sujud adalah manifestasi pasif dari penerimaan total atas kehendak-Nya. Keduanya harus berjalan beriringan. Tanpa pujian dan pengakuan akan kebesaran-Nya, sujud akan terasa hampa; tanpa kerendahan hati yang diwujudkan dalam sujud, pujian hanyalah kata-kata kosong.

Para mufassir juga menyoroti bahwa ayat ini merupakan penegasan keunggulan umat Nabi Muhammad ﷺ. Sementara nabi-nabi sebelumnya kadang diperintahkan untuk melaksanakan ibadah tertentu dalam konteks spesifik, umat Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk menjadikan tasbih dan sujud sebagai cara hidup secara terus-menerus, sebagai puncak dari serangkaian ajaran yang telah ditekankan dalam surah ini. Ayat penutup ini menegaskan bahwa kekal abadi dalam rahmat Allah hanya dapat diraih oleh mereka yang menjadikan keagungan-Nya sebagai pusat eksistensi mereka.

🏠 Homepage