Ilustrasi simbolis peringatan ayat suci.
Pengenalan Surah Al-Maidah
Surah Al-Maidah (terkadang disebut juga Surah Al-Hafrah) adalah surah kelima dalam Al-Qur'an. Surah ini tergolong Madaniyah dan kaya akan kandungan hukum-hukum syariat, perjanjian-perjanjian, serta kisah-kisah penting. Ayat-ayat dalam surah ini membahas berbagai aspek kehidupan seorang Muslim, mulai dari etika makanan, hukum pidana, hingga hubungan sosial dan spiritual.
Di tengah pembahasan yang luas tersebut, terdapat satu ayat yang memegang peranan krusial dalam membentuk karakter sosial dan spiritual umat Islam, yaitu Surah Al-Maidah ayat 58. Ayat ini memberikan instruksi eksplisit mengenai sikap terhadap ritual keagamaan lain dan pentingnya menjaga identitas keimanan.
Teks Arab dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 58
Arab:
Terjemahan (Kemenag RI):
Dan apabila kamu (wahai orang-orang mukmin) menyeru (orang-orang kafir) untuk melaksanakan salat, mereka memperlakukannya sebagai ejekan dan permainan. Hal itu (mereka lakukan) karena mereka adalah kaum yang tidak mau mempergunakan akal.
Konteks dan Tafsir Surah Al-Maidah Ayat 58
Ayat 58 ini berbicara secara spesifik mengenai reaksi orang-orang yang menolak seruan untuk melaksanakan salat (ibadah). Dalam konteks turunnya ayat ini, seruan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam, terutama mereka yang meremehkan syiar-syiar agama.
Kritik Terhadap Sikap Meremehkan Ibadah
Poin utama dalam ayat ini adalah kecaman terhadap mereka yang menganggap ibadah salat sebagai sesuatu yang remeh, objek lelucon, atau permainan. Salat adalah tiang agama dan merupakan bentuk komunikasi tertinggi antara seorang hamba dengan Penciptanya. Meremehkan atau mengejek ibadah ini menunjukkan adanya kekosongan spiritual dan kegagalan dalam menggunakan akal sehat.
Allah SWT menjelaskan alasan di balik sikap tersebut: "Hal itu (mereka lakukan) karena mereka adalah kaum yang tidak mau mempergunakan akal." Ini adalah kritik tajam dari Al-Qur'an. Tidak menggunakan akal di sini bukan berarti tidak berpendidikan, tetapi lebih kepada penolakan untuk merenungkan nilai hakiki dari ibadah dan kebenaran risalah kenabian. Akal yang sehat akan membawa seseorang pada pengakuan akan kebesaran Allah dan pentingnya ketaatan.
Pentingnya Keseriusan dalam Ibadah
Meskipun ayat ini secara eksplisit ditujukan kepada pihak yang mengejek, pesan moralnya sangat relevan bagi kaum Muslimin sendiri. Ayat ini menjadi pengingat agar umat Islam menyikapi salat dengan penghormatan tertinggi. Jika orang luar saja bisa mencela ketika melihat ibadah, betapa ironisnya jika seorang Muslim yang melakukannya dengan lalai, tergesa-gesa, atau tanpa kekhusyukan.
Ayat 58 ini menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan secara serius, penuh pemahaman, dan kesungguhan adalah ciri khas orang yang berakal. Kesungguhan ini mencerminkan kedalaman keyakinan (iman) dan ketaatan pada perintah Allah. Kehidupan seorang Muslim harus mencerminkan pengagungan terhadap ritual-ritual yang telah ditetapkan, termasuk shalat lima waktu.
Konteks Ayat Sebelumnya (Ayat 57)
Untuk memahami Al-Maidah 58 secara utuh, perlu dilihat ayat sebelumnya (Ayat 57), yang sering kali membahas mengenai larangan menjadikan orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan tertawaan atau permainan sebagai pemimpin atau sekutu dekat:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang menjadikan agamamu sebagai bahan ejekan dan permainan (di antara orang-orang yang diberi kitab sebelummu), dan orang-orang kafir sebagai teman pelindung dan penolong..." (QS. Al-Maidah: 57)
Ketika ayat 57 melarang menjalin ikatan erat dengan mereka yang menghina agama, ayat 58 memberikan alasan mengapa penghinaan itu terjadi: karena mereka tidak menggunakan akal untuk memahami nilai ibadah. Ini menciptakan sebuah kesatuan tematik yang kuat: Jauhi mereka yang tidak menghargai agama, karena mereka memang tidak berakal sehat dalam memandang kebenaran.
Implikasi Pendidikan Karakter
Implikasi dari Surah Al-Maidah ayat 58 dalam pendidikan karakter sangatlah besar. Ia mengajarkan bahwa integritas keagamaan tidak hanya diukur dari seberapa sering kita beribadah, tetapi juga dari seberapa besar kita menghargai ibadah itu sendiri—baik ibadah kita maupun ibadah orang lain yang dilakukan sesuai syariat.
Orang yang berakal akan melihat bahwa ibadah adalah kebutuhan spiritual, bukan beban atau pertunjukan. Ketika seorang mukmin melaksanakan salat dengan khusyuk, ia sedang menunjukkan kepada dunia bahwa ada nilai transenden yang lebih tinggi daripada urusan duniawi yang fana. Sebaliknya, ketika ia melihat orang lain mengejek ibadah tersebut, hal itu menegaskan kembali bahwa perbedaan pandangan duniawi sering kali berakar pada perbedaan cara pandang terhadap akal dan realitas hakiki.
Oleh karena itu, Surah Al-Maidah ayat 58 berfungsi sebagai cermin introspeksi bagi umat Islam agar senantiasa menjaga kesungguhan dan kehormatan dalam menjalankan ritual keagamaan mereka, agar tidak termasuk dalam kategori kaum yang disifati sebagai tidak menggunakan akal.