Memahami Kedudukan Allah dalam Ayat Al-Isra Ayat 110 dan 111

ALLAH Ketuhanan Yang Maha Agung

Gambar simbolis keagungan Ilahi.

Al-Qur'an Al-Karim menyimpan banyak mutiara hikmah dalam setiap ayatnya. Di antara ayat-ayat yang menyoroti kemahaesaan dan keagungan Allah SWT adalah firman-Nya dalam Surat Al-Isra ayat 110 dan 111. Dua ayat ini seringkali dibahas bersama karena membahas topik sentral dalam akidah Islam: cara terbaik untuk memanggil dan mengakui Allah, serta penegasan tentang otoritas tunggal-Nya atas segala sesuatu.

Pelajaran dari Al-Isra Ayat 110: Etika dalam Berdoa

"Katakanlah: 'Serulah (nama) Allah atau serulah (nama) Yang Maha Pemurah (Ar-Rahman). Dengan nama manapun kamu menyeru, Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik). Dan janganlah kamu mengeraskan shalatmu dan janganlah pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya.'" (QS. Al-Isra: 110)

Ayat ke-110 ini memberikan panduan penting mengenai tata krama spiritualitas seorang hamba kepada Tuhannya. Ayat ini dibuka dengan perintah langsung kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan bahwa dalam memanggil atau berdoa kepada Allah, tidak ada batasan nama yang harus digunakan selama nama tersebut merujuk kepada Zat yang Maha Benar. Allah dapat dipanggil dengan nama 'Allah', atau dengan sifat-Nya yang agung, 'Ar-Rahman' (Yang Maha Pengasih). Inti dari pernyataan ini adalah bahwa Allah memiliki Asmaul Husna, nama-nama terbaik yang mencerminkan kesempurnaan-Nya.

Lebih lanjut, ayat ini memberikan nasihat praktis tentang cara melaksanakan ibadah shalat, yang secara luas dimaknai sebagai doa yang terstruktur. Dilarang mengeraskan bacaan shalat hingga mengganggu orang lain, namun juga dilarang merendahkan suara hingga tidak terdengar atau tidak khusyuk. Filosofi di balik ini adalah mencari keseimbangan (jalan tengah). Dalam konteks yang lebih luas, prinsip keseimbangan ini berlaku dalam seluruh aspek kehidupan seorang Muslim—tidak berlebihan dalam praktik keagamaan (ghuluw) namun juga tidak lalai dan bermalas-malasan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menuntun umatnya menuju moderasi dan keselarasan.

Penegasan Otoritas Tunggal dalam Al-Isra Ayat 111

Setelah membahas etika spiritualitas, ayat selanjutnya (Al-Isra ayat 111) mengukuhkan kemahaesaan dan kekuasaan mutlak Allah SWT, sekaligus menjadi penutup rangkaian pengajaran dalam surat tersebut.

"Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak, Yang tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan Dia bukan pula memerlukan penolong untuk (menghadapi) kehinaan.' Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya." (QS. Al-Isra: 111)

Ayat ini adalah penegasan akidah (tauhid) yang sangat kuat. Tiga poin utama ditekankan di sini:

  1. Penolakan Terhadap Konsep Ketuhanan yang Diperanakkan: Allah ditegaskan tidak memiliki anak. Hal ini secara tegas menolak keyakinan politeistik atau klaim sebagian kelompok yang menganggap ada makhluk yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Tuhan. Keunikan Allah dalam dzat-Nya mutlak.
  2. Ketiadaan Sekutu dalam Kerajaan-Nya: Allah adalah Penguasa Tunggal alam semesta. Tidak ada entitas lain yang memiliki hak untuk berbagi kekuasaan, menetapkan hukum, atau mengatur alam raya bersama-Nya. Ini meniadakan segala bentuk kesyirikan dalam rububiyah (penguasaan).
  3. Kemahakayaan dan Kemandirian Mutlak: Frasa "Dia bukan pula memerlukan penolong untuk (menghadapi) kehinaan" menegaskan bahwa Allah Maha Kuat dan tidak memerlukan bantuan dari siapapun. Semua makhluk membutuhkan-Nya, sementara Dia tidak membutuhkan apapun.

Sebagai penutup, ayat ini memerintahkan umat manusia untuk senantiasa mengagungkan Allah (bertakbir) dengan pengagungan yang paling besar. Keagungan ini harus diakui bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam perbuatan dan keyakinan hati. Pemahaman mendalam terhadap Al-Isra ayat 110 dan 111 mengajarkan umat Islam untuk berdoa dengan penuh adab, menjaga keseimbangan dalam ibadah, dan yang paling fundamental, memahami bahwa tidak ada satu pun yang layak disembah dan diagungkan selain Allah Yang Maha Esa. Kedua ayat ini berfungsi sebagai pilar penguatan tauhid dan etika beribadah.

šŸ  Homepage