Memahami Surah Al-Isra Ayat 110: Kedudukan Allah Yang Maha Esa

الله Keesaan Allah (Tauhid)

Ilustrasi simbolis keesaan Allah SWT

Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah salah satu surah Makkiyah yang kaya akan pelajaran penting mengenai akidah, akhlak, dan kisah-kisah terdahulu. Di antara ayat-ayatnya yang fundamental, terdapat ayat ke-110 yang sering dijadikan landasan utama dalam menegaskan tauhid atau keesaan Allah SWT. Ayat ini memberikan perintah tegas dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW mengenai cara merespons keraguan atau tuntutan musyrikin terkait cara beribadah dan pengagungan nama Tuhan.

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
(Q.S. Al-Isra: 110)

Kontekstualisasi Ayat 110 Al-Isra

Ayat ini turun dalam konteks di mana Nabi Muhammad SAW menghadapi tekanan luar biasa dari kaum Quraisy Mekkah. Mereka melihat praktik shalat Nabi dan para sahabatnya yang baru memeluk Islam. Metode shalat—baik volume suara saat membaca doa maupun waktu pelaksanaannya—menjadi sorotan. Ada kalanya kaum musyrikin merasa terganggu oleh bacaan keras Nabi di siang hari, dan ada pula kecenderungan bagi Nabi untuk merendahkan suaranya agar terhindar dari ejekan dan gangguan mereka.

Allah SWT memberikan panduan yang sangat bijaksana melalui ayat ini. Inti dari perintah ini adalah mencari jalan tengah (wasath) dalam melaksanakan ibadah ritual terpenting, yaitu shalat. Allah melarang dua ekstrem: mengeraskan suara hingga mengganggu, dan merendahkan suara hingga tidak terdengar (bahkan oleh diri sendiri dalam konteks makna yang lebih luas).

Makna Hakiki: Jalan Tengah dalam Ibadah

Perintah "wa la tajhar bi shalatik" (janganlah engkau mengeraskan shalatmu) dan "wa la tukhafit biha" (dan jangan pula engkau merendahkannya) bukan hanya berkaitan dengan volume suara saat membaca Al-Qur'an dalam shalat. Lebih dari itu, ia mengajarkan sebuah prinsip universal dalam beragama: moderasi dan keseimbangan.

Dalam ranah teologis, ayat ini menegaskan bahwa ibadah harus dilakukan dengan khusyuk dan penuh penghayatan, tanpa menjadi riya' (pamer) dengan suara yang terlalu keras, namun juga tanpa menghilangkan esensi penyampaian pesan ilahi. Jalan tengah yang diperintahkan, "w-abtaghi baina dhalika sabila" (dan carilah jalan tengah di antara keduanya), adalah jalan yang paling utama dan diridhai. Ini mencerminkan karakter Islam secara keseluruhan—umat pertengahan (ummatan wasathan) sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah.

Keesaan Allah dalam Kesempurnaan Aturan

Meskipun ayat ini fokus pada tata cara shalat, keberadaannya dalam surah Al-Isra (yang juga banyak membahas tentang tauhid) menyoroti kesempurnaan syariat Allah. Allah tidak hanya menetapkan apa yang harus disembah (yaitu Dia semata, yang dilanjutkan pada ayat 111), tetapi juga bagaimana cara mendekat kepada-Nya. Cara ini tidak berdasarkan hawa nafsu atau tekanan sosial, melainkan berdasarkan ketetapan Ilahi yang seimbang dan proporsional.

Mengapa ini penting? Karena ketika seseorang tunduk pada aturan yang seimbang, ia menunjukkan pengakuan tertinggi atas kekuasaan Allah yang Mahabijaksana. Kebijaksanaan Allah terbukti dalam memberikan pedoman yang dapat dijalankan oleh semua umat manusia dalam segala kondisi, tanpa memberatkan atau terlalu membebaskan.

Relevansi Ayat 110 di Era Modern

Prinsip mencari jalan tengah dalam Al-Isra 110 sangat relevan hingga kini. Dalam interaksi sosial dan dakwah, kita diingatkan untuk tidak bersikap ekstremis. Dalam beribadah, kita diingatkan untuk menjaga keseimbangan antara formalitas ritual dan kedalaman spiritual. Keseimbangan ini memastikan bahwa ibadah yang dilakukan murni karena ketaatan kepada Allah, bukan untuk mencari perhatian manusia atau karena rasa takut berlebihan terhadap pandangan mereka.

Dengan menjaga keseimbangan ini, seorang mukmin mengamalkan dua aspek penting dari tauhid: pertama, meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah, dan kedua, mematuhi cara penyembahan yang telah Dia tetapkan, yaitu cara yang paling moderat dan bijaksana. Inilah inti dari ketaatan yang sempurna yang diharapkan dari umat Islam.

🏠 Homepage