Dalam Al-Qur'an, terdapat ayat-ayat yang secara spesifik menegaskan keesaan Allah SWT, salah satunya adalah Surah Al-Isra ayat 55. Ayat ini memiliki posisi penting dalam rangkaian perintah dan penjelasan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW mengenai tauhid dan penolakan terhadap kemusyrikan yang dibawa oleh kaum musyrikin Makkah.
Ilustrasi konsep penegasan Keesaan Allah.
Ayat ini merupakan perintah langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengucapkan pujian (Tahmid) yang mencakup tiga pilar utama dalam Aqidah Islam. Dalam konteks turunnya ayat ini, di mana kaum musyrikin seringkali melemparkan tuduhan bahwa Allah memiliki anak (seperti pandangan sebagian kalangan terhadap Isa AS atau Uzair AS) atau menyekutukan-Nya dengan berhala-berhala mereka, ayat 55 menjadi bantahan telak dan penegasan fondasi iman.
Poin pertama: "Yang tidak mempunyai anak" (لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا). Ini adalah penolakan terhadap anggapan bahwa Allah memiliki keturunan. Dalam keagungan-Nya, Allah Maha Suci dari segala bentuk kebutuhan, termasuk kebutuhan untuk mewariskan atau menurunkan zat-Nya. Keberadaan anak menyiratkan adanya keterbatasan atau kebutuhan untuk melanjutkan eksistensi, hal yang mustahil bagi Al-Khaliq (Sang Pencipta).
Poin kedua: "Dan tidak mempunyai sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya" (وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ). Kekuasaan (Al-Mulk) adalah mutlak milik Allah. Tidak ada entitas lain, baik malaikat, nabi, dewa, maupun benda mati, yang berhak atau mampu berbagi dalam pengaturan alam semesta ini. Kemahaesaan Allah dalam kekuasaan adalah inti dari konsep tauhid rububiyah.
Poin ketiga: "Dan sekali-kali tidak mempunyai penolong (yang menghinakan-Nya) dari kehinaan" (وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ وَلِىٌّ مِّنَ ٱلذُّلِّ). Frasa "minadh-dhulli" (dari kehinaan) ini sangat penting. Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak memerlukan sekutu sebagai pembantu karena Dia Mahakuasa dan tidak pernah mengalami kehinaan atau kelemahan. Penolong dibutuhkan oleh pihak yang lemah atau terbatas kekuatannya. Karena Allah adalah Al-Ghani (Maha Kaya) dan Al-Qadir (Maha Kuasa), Dia tidak membutuhkan wali (pelindung/penolong) yang berasal dari kelemahan.
Setelah menegaskan tiga poin fundamental tentang keesaan dan kesempurnaan Allah, ayat ini ditutup dengan perintah: "Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya" (وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا). Kata Takbir (Allahu Akbar) adalah bentuk pengakuan tertinggi atas kebesaran Allah yang melampaui segala sesuatu.
Pengagungan ini bukan hanya sekadar ucapan lisan, melainkan harus tercermin dalam seluruh penghidupan seorang Muslim. Mengagungkan Allah berarti meyakini bahwa tidak ada yang lebih besar, lebih mulia, atau lebih layak dipuji selain Dia. Hal ini menuntut seorang Mukmin untuk selalu mengukur segala urusan dunianya—kesenangan, kesedihan, kekayaan, atau kesulitan—dengan standar kebesaran Allah.
Ayat Al-Isra 55 memberikan landasan psikologis yang kuat bagi seorang Muslim. Ketika seseorang benar-benar memahami bahwa Tuhannya Maha Sempurna, tidak bersekutu, tidak membutuhkan bantuan, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka ketakutan terhadap makhluk akan berkurang, dan harapannya hanya tertuju kepada Sang Pencipta.
Fokus pada tauhid ini berfungsi sebagai filter untuk menolak segala bentuk subordinasi spiritual kepada selain Allah. Ini mendorong umat Islam untuk memurnikan ibadah, menjauhi segala bentuk takhayul atau pemujaan yang dapat merusak keikhlasan, dan mengisi hari-hari dengan dzikir dan pengakuan akan keagungan-Nya. Dengan demikian, ayat ini adalah pilar ketenangan batin, karena menyandarkan diri pada kekuatan yang tidak terbatas dan kekuasaan yang absolut.
Ayat ini mengajarkan bahwa pujian sejati hanya layak diberikan kepada Dzat yang memiliki kesempurnaan mutlak, yang tanpa cacat, dan yang kemuliaannya tidak dapat dijangkau oleh pemikiran makhluk fana. Oleh karena itu, mengucapkan "Alhamdulillah" dan "Allahu Akbar" secara sadar adalah bentuk respons paling benar terhadap realitas Ilahiyah yang termaktub dalam ayat ini.