Kandungan Mulia Al-Isra Ayat 22 dan 23

Ketaatan & Penghormatan

Surah Al-Isra' (atau Al-Isra' wal-Mi'raj) adalah salah satu surah penting dalam Al-Qur'an yang membahas berbagai prinsip akidah, hukum, dan etika kehidupan seorang Muslim. Di antara ayat-ayat yang sangat fundamental dalam pembentukan karakter adalah ayat 22 dan 23. Kedua ayat ini secara berurutan membahas larangan menyekutukan Allah (tauhid) dan perintah untuk berbakti serta menghormati kedua orang tua.

Ayat Inti: Tauhid dan Berbakti

"Janganlah kamu jadikan bersama Allah tuhan yang lain, (karena) nanti kamu menjadi orang yang tercela dan terhina." (QS. Al-Isra' [17]: 22)

QS. Al-Isra' [17]: 22

Ayat ke-22 menetapkan pondasi utama dalam Islam: Tauhid. Allah SWT secara tegas melarang hamba-Nya untuk mempersekutukan-Nya dengan apapun, baik itu berhala, hawa nafsu, harta, maupun kepentingan duniawi yang diagungkan melebihi ketaatan kepada-Nya. Konsekuensi dari pelanggaran ini sangat berat, yaitu menjadi "tercela dan terhina" (mahshuran wa madzmuuman). Kehinaan di sini tidak hanya di dunia, tetapi terutama kehinaan spiritual di hadapan Pencipta alam semesta. Tauhid adalah kunci penerimaan segala amal, dan penyimpangan dari tauhid akan meniadakan nilai perbuatan baik lainnya.

"Dan Tuhanmu telah menetapkan bahwa kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra' [17]: 23)

QS. Al-Isra' [17]: 23

Ayat ke-23 menyandingkan hak Allah (Tauhid) dengan hak makhluk yang paling utama, yaitu hak orang tua. Penyebutan hak orang tua tepat setelah penegasan tauhid menunjukkan betapa agungnya kedudukan mereka dalam ajaran Islam.

Makna Berbakti (Birrul Walidain)

Perintah untuk berbuat baik kepada ibu bapak mencakup segala aspek, mulai dari menyediakan kebutuhan materi, memberikan perhatian emosional, hingga menjaga kehormatan mereka. Al-Qur'an memberikan batasan sangat detail terkait cara berbicara:

Fokus ayat ini adalah pada tahap usia lanjut orang tua, yaitu ketika mereka menjadi paling rentan dan membutuhkan kasih sayang serta kesabaran ekstra. Ketika keduanya hidup bersama anak di bawah satu atap dan mencapai usia renta, ujian kesabaran seorang anak menjadi sangat nyata. Islam mengajarkan bahwa pelayanan ini harus dilakukan dengan kerendahan hati, seolah-olah anak sedang memohon perlindungan, sebagaimana firman Allah, "dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." Ini adalah cerminan bahwa penghormatan kita kepada orang tua adalah manifestasi praktis dari pengakuan kita terhadap keesaan Allah.

Korelasi antara Kedua Ayat

Mengapa Al-Isra ayat 22 (Tauhid) diikuti langsung oleh ayat 23 (Berbakti kepada Orang Tua)? Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah sebuah penekanan bahwa ibadah yang paling tinggi kepada Allah harus tercermin dalam etika sosial yang paling mendasar. Seseorang yang mengaku beriman kepada Allah, namun ia berlaku kasar atau tidak hormat kepada orang yang telah melahirkannya, maka klaim imannya perlu dipertanyakan. Ketaatan vertikal kepada Allah harus paralel dengan ketaatan horizontal kepada orang tua. Dengan demikian, keberbakian kepada orang tua adalah salah satu tolok ukur utama validitas keimanan seseorang di hadapan Tuhan.

🏠 Homepage