Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan sebuah perjalanan panjang dalam tubuh manusia. Tahap awal infeksi mungkin tidak menunjukkan gejala yang jelas, namun seiring waktu, jika tidak diobati, virus ini akan terus bereplikasi dan secara sistematis menyerang sistem kekebalan tubuh. Ketika kerusakan pada sistem imun sudah mencapai titik kritis, kondisi ini didefinisikan sebagai Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).
Transisi dari HIV positif menuju AIDS menandai kegagalan signifikan dari pertahanan alami tubuh. Perubahan utama yang mendasari kondisi ini adalah penurunan drastis jumlah sel T CD4+. Sel CD4+ adalah jenis sel darah putih yang vital dalam mengoordinasikan respons imun terhadap patogen seperti bakteri, virus, dan jamur. HIV menargetkan dan menghancurkan sel-sel ini, membuat tubuh rentan.
Secara klinis, seseorang didiagnosis mengidap AIDS ketika jumlah sel CD4+ mereka turun di bawah ambang batas kritis (umumnya di bawah 200 sel per milimeter kubik darah) atau ketika mereka mengembangkan satu atau lebih Infeksi Oportunistik (IO) yang parah.
Kondisi yang dialami penderita AIDS secara fundamental disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk melawan infeksi atau kanker tertentu. Ini berbeda dengan orang yang hidup dengan HIV yang masih dalam tahap awal atau yang sedang menjalani terapi antiretroviral (ARV) efektif, di mana sistem imun mereka masih cukup kuat.
Berikut adalah beberapa dampak utama yang diakibatkan oleh perkembangan HIV menjadi AIDS:
Penting untuk ditekankan bahwa diagnosis AIDS tidak lagi merupakan vonis akhir yang mutlak seperti di masa lalu. Berkat kemajuan ilmu kedokteran, Terapi Antiretroviral (ARV) modern sangat efektif. ARV bekerja dengan menekan replikasi virus HIV, sehingga jumlah virus dalam darah menurun drastis (menjadi tidak terdeteksi).
Ketika viral load menjadi tidak terdeteksi, sistem imun penderita memiliki kesempatan untuk pulih dan membangun kembali jumlah sel CD4+. Banyak orang yang didiagnosis AIDS namun memulai pengobatan ARV secara teratur dapat meningkatkan jumlah CD4 mereka ke tingkat yang aman dan mencegah atau bahkan mengatasi infeksi oportunistik yang menyertai.
HIV di dalam penderita AIDS mengakibatkan penderita mengalami kondisi kerentanan imun yang ekstrem, membuka pintu bagi berbagai penyakit parah dan mengancam jiwa yang dikenal sebagai Infeksi Oportunistik dan kanker tertentu. Namun, dengan deteksi dini dan kepatuhan terhadap pengobatan ARV, dampak kerusakan sistem imun dapat diminimalisir, memungkinkan penderita untuk hidup sehat dan produktif.