Makna Mendalam Al-Isra Ayat 36 dan 37: Menjauhi Keraguan dan Kesombongan

Penyucian Jiwa dan Akal Ilustrasi visualisasi pemahaman dan keadilan

Konteks Wahyu dan Pentingnya Pengetahuan

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, merupakan surat yang kaya akan pelajaran moral, hukum, dan sejarah. Di dalamnya, Allah SWT memberikan pedoman kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya mengenai cara berinteraksi dengan dunia dan sesama. Ayat 36 dan 37 secara spesifik menyoroti dua aspek krusial dalam kehidupan spiritual dan sosial: **penghindaran terhadap informasi tanpa dasar (spekulasi)** dan **penolakan terhadap kesombongan serta keangkuhan**.

Ayat-ayat ini turun dalam konteks di mana berbagai prasangka dan rumor sering beredar, baik di kalangan masyarakat Quraisy maupun Yahudi yang menentang ajaran Islam. Oleh karena itu, penekanan pada kebenaran dan akal sehat menjadi sangat vital.

Memahami Al-Isra Ayat 36: Larangan Mengikuti Dugaan

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui (tentang kebenarannya). Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36)

Ayat ke-36 adalah seruan tegas untuk menolak takhmin (dugaan atau spekulasi) sebagai landasan keyakinan atau tindakan. Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan bukti yang jelas. Allah SWT mengingatkan bahwa indra yang kita miliki—pendengaran (apa yang kita dengar), penglihatan (apa yang kita lihat), dan hati (pemahaman serta perasaan)—adalah amanah besar.

Setiap informasi yang kita terima harus melalui filter validasi. Jika kita mendengar desas-desus, berita bohong, atau teori tanpa dasar, ayat ini melarang kita untuk langsung mempercayainya dan menyebarkannya. Konsekuensi dari penyalahgunaan indra ini sangat serius, karena semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Di era digital saat ini, ayat ini menjadi semakin relevan sebagai benteng pertahanan terhadap berita palsu (hoaks) dan disinformasi. Kehati-hatian dalam menerima informasi adalah bentuk ketaatan yang nyata.

Memahami Al-Isra Ayat 37: Penolakan Terhadap Keangkuhan

"Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Al-Isra: 37)

Setelah membahas pentingnya akal dan indra yang benar, ayat 37 beralih ke aspek perilaku sosial: kesombongan (istikbar). Kesombongan adalah penyakit hati yang memisahkan manusia dari kebenaran dan sesama. Sombong berarti merasa lebih unggul, memandang rendah orang lain, serta mengingkari nikmat dan kebenaran yang datang dari Allah SWT.

Ayat ini menekankan bahwa berjalan di muka bumi harus dilakukan dengan sikap rendah hati (tawadhu). Semua kekayaan, kekuatan, atau ilmu yang dimiliki hanyalah titipan sementara. Ketika seseorang berjalan dengan kesombongan, ia seolah menyatakan bahwa dirinya adalah entitas mandiri yang tidak membutuhkan siapa pun, termasuk Tuhannya. Allah SWT menegaskan bahwa sifat ini sangat dibenci-Nya, karena kesombongan sejatinya adalah tiruan dari sifat Iblis ketika ia menolak sujud kepada Adam karena merasa lebih mulia.

Integrasi Dua Prinsip Kehidupan

Jika kita mengamati kedua ayat ini secara berurutan, kita dapat melihat sebuah kurikulum etika Islam yang utuh. Pertama, **bersihkan sumber pengetahuan Anda (Ayat 36)**; pastikan apa yang Anda yakini dan sebarkan adalah benar dan terverifikasi. Kedua, **bersihkan perilaku Anda (Ayat 37)**; setelah Anda memiliki kebenaran, jangan biarkan kebenaran itu menumbuhkan kesombongan dalam diri Anda.

Seseorang yang berilmu tetapi sombong akan sulit menerima kebenaran baru dan cenderung meremehkan orang lain. Sebaliknya, seseorang yang tawadhu namun mudah percaya pada informasi yang belum teruji akan mudah tersesat. Keseimbangan antara kebenaran informasi (ilmu) dan kerendahan hati (akhlak) adalah kunci untuk mencapai keridhaan Allah SWT dan menjalani hidup yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat. Kedua ayat ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang kritis dalam berpikir dan santun dalam bersikap.

🏠 Homepage