Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat keempat dari surah ini memegang peranan penting dalam menceritakan perjalanan sejarah Bani Israil, khususnya mengenai janji dan peringatan yang Allah berikan kepada mereka. Ayat ini sering dikutip untuk mengingatkan umat Islam tentang siklus peradaban dan konsekuensi dari perbuatan, baik buruk maupun baik.
Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu:
وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
Artinya: Dan telah Kami wahyukan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar."
Ayat Al-Isra ayat 4 ini merupakan bagian dari serangkaian ayat yang membahas tentang sejarah kaum Bani Israil setelah diwahyukan Taurat kepada mereka. Allah memberitahukan (meramalkan) dua kali kehancuran besar yang akan menimpa mereka sebagai akibat dari perbuatan mereka sendiri. Ramalan ini bukan hukuman yang sewenang-wenang, melainkan konsekuensi logis dari pelanggaran janji suci dan penyimpangan moral.
Kerusakan pertama yang dimaksud oleh banyak mufassir terjadi ketika bangsa Romawi di bawah pimpinan Titus menghancurkan Baitul Maqdis (Yerusalem) pada tahun 70 Masehi. Peristiwa ini menandai kehancuran total kekuasaan politik mereka dan pembantaian massal. Ini adalah pemenuhan dari peringatan Allah atas kemaksiatan yang mereka lakukan.
Frasa "melampaui batas dengan kesombongan besar" ('uluwwan kabira) merujuk pada puncak keangkuhan dan penolakan terhadap kebenaran. Kesombongan ini termanifestasi dalam beberapa bentuk: pengkhianatan terhadap perjanjian dengan Allah, membunuh nabi-nabi yang datang membawa petunjuk, dan merusak tatanan sosial dengan menindas yang lemah.
Ketika kesombongan mencapai puncaknya, Allah menurunkan azab-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa peradaban yang dibangun di atas kezaliman dan kesombongan, sekokoh apa pun pilar-pilarnya, pada akhirnya akan runtuh karena hukum sebab akibat ilahiah.
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan dua kali kerusakan. Kerusakan kedua terjadi setelah mereka mendapatkan kekuasaan kembali, di mana mereka kembali mengulangi kesalahan yang sama, bahkan lebih parah. Dalam penafsiran sejarah, kehancuran kedua sering dikaitkan dengan penaklukan kembali oleh kekuatan asing, seperti penaklukan oleh Nebukadnezar atau periode penindasan yang lebih panjang dan mendalam setelah kegagalan mereka dalam merespons ajaran para nabi.
Pesan fundamental dari Al-Isra ayat 4 adalah bahwa kemuliaan dan kehormatan tidak didasarkan pada keturunan atau status, melainkan pada kepatuhan terhadap perintah ilahi. Bani Israil, meskipun merupakan umat pilihan pada waktu tertentu, kehilangan status tersebut karena penyimpangan mereka.
Meskipun ayat ini ditujukan kepada Bani Israil, ia mengandung pelajaran universal yang sangat relevan bagi umat Islam saat ini. Allah SWT melalui ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga integritas moral dan spiritual. Jika sebuah komunitas mencapai puncak kekuasaan, kekayaan, atau pengaruh, mereka harus waspada terhadap jebakan kesombongan.
Kesombongan bisa mematikan hati nurani, membuat seseorang merasa kebal hukum, dan mengabaikan keadilan. Al-Isra ayat 4 berfungsi sebagai cermin sejarah: sejarah akan berulang bagi mereka yang gagal belajar dari kesalahan masa lalu. Keadilan ilahi selalu mengawasi, dan perbuatan melampaui batas pasti akan menuai konsekuensinya, baik secara individual maupun kolektif.
Memahami ayat ini adalah memahami bahwa Allah memberi peringatan jauh sebelum azab diturunkan. Peringatan ini datang dalam bentuk wahyu dan melalui peristiwa-peristiwa dalam sejarah. Kehancuran yang datang adalah hasil akhir dari akumulasi dosa dan kesombongan yang mereka pilih sendiri.