Pesan Kekuatan dan Keteguhan dalam Surah Al-Hijr Ayat 10

Ilustrasi Cahaya Hikmah Gambar abstrak garis-garis cahaya yang memancar dari sebuah titik pusat, melambangkan petunjuk Ilahi dan keteguhan.

Teks Arab Surah Al-Hijr Ayat 10

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Terjemahan Ayat

"Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka (orang-orang musyrik): 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' niscaya mereka menjawab: 'Allah.' Katakanlah: 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Al-Hijr: 10)

Konteks dan Kedalaman Makna

Surah Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah di Hijaz (Arab Saudi) tempat kaum Tsamud bermukim, diturunkan pada periode Mekkah. Ayat ke-10 dari surah ini menyajikan sebuah dialog retoris yang sangat kuat, menyoroti kontradiksi dalam keyakinan orang-orang musyrik pada masa itu. Ayat ini merupakan salah satu bukti nyata betapa jelasnya kebenaran tauhid (mengesakan Allah) bahkan di tengah penolakan keras.

Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bertanya kepada para penyembah berhala mengenai siapa yang menciptakan alam semesta. Jawabannya, meskipun mereka menyekutukan Allah dalam ibadah sehari-hari, tetap mengarah pada pengakuan bahwa hanya Allah-lah Sang Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya. Alam semesta yang begitu agung, teratur, dan kompleks, secara inheren menunjuk pada keagungan dan keesaan Sang Pencipta.

Ketegasan dalam pengakuan ini lantas diikuti dengan perintah, "Katakanlah: 'Segala puji bagi Allah'". Ini menekankan bahwa pengakuan lisan saja tidak cukup; pengakuan tersebut harus diiringi dengan rasa syukur dan penyerahan diri penuh (ibadah) kepada Zat yang diakui sebagai Pencipta. Pujian adalah bentuk penghormatan tertinggi yang pantas disematkan hanya kepada Allah, bukan kepada berhala atau tandingan-Nya.

Keterbatasan Pemahaman Manusia

Ayat ini ditutup dengan sebuah penegasan yang menyedihkan: "tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." Kata "tidak mengetahui" di sini tidak merujuk pada ketidaktahuan faktual tentang siapa Pencipta, melainkan ketidaktahuan spiritual atau ketidakmauan untuk memahami implikasi dari pengakuan mereka. Mereka mengakui secara akal tetapi menolak secara hati dan amal. Ini adalah penyakit yang seringkali menimpa manusia—mengetahui kebenaran namun tidak mau menerapkannya dalam kehidupan.

Dalam konteks modern, pesan Surah Al-Hijr ayat 10 tetap relevan. Sains modern terus mengungkap keajaiban dan keteraturan alam semesta, yang semakin menguatkan argumen tentang adanya Sang Perancang yang Maha Kuasa. Namun, sebagaimana yang disinggung ayat ini, banyak di antara manusia yang masih memilih menutup mata dari kesimpulan logis tersebut, tenggelam dalam kesibukan duniawi atau ikatan tradisi buta.

Pelajaran Penting: Konsistensi Iman

Ayat ini mengajarkan kita pentingnya konsistensi antara pengakuan lisan (syahadat) dengan keyakinan hati dan tindakan nyata. Pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta harus berujung pada pengakuan bahwa Dia adalah satu-satunya yang berhak disembah (Ma'bud). Untuk seorang Muslim, ayat ini berfungsi sebagai pengingat bahwa iman yang sejati membuahkan syukur dan ketaatan total. Jangan sampai kita seperti kaum musyrik yang mengakui Allah sebagai Tuhan Pencipta alam raya, namun dalam praktiknya kita malah menggantungkan harapan dan menyalurkan ibadah kepada selain-Nya. Keteguhan dalam tauhid adalah inti dari pesan yang disampaikan melalui surah yang mulia ini. Memahami dan meresapi ayat ini membantu memurnikan cara pandang kita terhadap eksistensi dan fungsi hidup di dunia ini.

🏠 Homepage