Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil (Anak-anak Israel), adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang kaya akan kisah-kisah kenabian, hukum-hukum, dan petunjuk moral. Ayat-ayat dalam surat ini sering kali mengajak perenung untuk melihat lebih dalam tentang kekuasaan Allah, tanggung jawab manusia, serta konsekuensi dari setiap perbuatan. Di tengah rangkaian ayat tersebut, terdapat sebuah ayat yang memiliki kedalaman makna tersendiri, yaitu Al-Isra ayat 57.
Ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah penegasan prinsip ilahiah tentang bagaimana interaksi antara manusia dengan Tuhan dan bagaimana upaya mendekatkan diri kepada-Nya harus dilakukan. Mempelajari ayat ini membantu kita memahami prioritas spiritual dalam kehidupan seorang Muslim.
Fokus utama dari Al-Isra ayat 57 adalah konsep at-taqarrub (mendekat) kepada Allah SWT. Ayat ini merujuk pada entitas-entitas atau sembahan-sembahan lain yang dipuja oleh kaum musyrik (seperti malaikat, orang saleh yang telah wafat, atau idola lainnya). Ayat ini menegaskan bahwa objek-objek pemujaan tersebut, alih-alih memberikan pertolongan, mereka sendiri sedang berlomba-lomba mencari jalan untuk menjadi lebih dekat kepada Allah.
Ini adalah kritik tajam terhadap praktik syirk (menyekutukan Allah). Jika yang dijadikan perantara atau tandingan itu sendiri membutuhkan kedekatan dengan Sang Pencipta, maka logikanya, seorang hamba seharusnya langsung menuju sumber segala kekuasaan, yaitu Allah SWT. Tidak ada perantara yang lebih mulia daripada usaha pribadi seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada-Nya melalui ketaatan.
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan dua komponen penting dalam ibadah dan spiritualitas yang benar: harapan akan rahmat-Nya (raja’) dan rasa takut akan azab-Nya (khauf). Keseimbangan antara kedua hal ini sangat vital dalam perjalanan keimanan.
Ayat diakhiri dengan penekanan bahwa azab Allah adalah sesuatu yang harus ditakuti. Ini bukan sekadar ancaman kosong, melainkan konsekuensi nyata dari pelanggaran terhadap perintah-Nya. Rasa takut yang dimaksud di sini adalah rasa takut yang disertai dengan pengagungan (takzim), yang mendorong ketaatan total.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, Al-Isra ayat 57 relevan sebagai pengingat untuk memfokuskan energi spiritual kita. Kita sering kali mencari validasi, kesuksesan, atau perlindungan dari hal-hal duniawi yang fana—jabatan, kekayaan, atau bahkan figur publik. Ayat ini mengingatkan bahwa semua entitas tersebut, jika diposisikan sebagai tujuan utama, tidak akan pernah memberikan keamanan sejati.
Pendekatan yang benar adalah menjadikan keridhaan Allah sebagai tujuan tertinggi. Segala upaya yang kita lakukan—dalam ibadah ritual maupun interaksi sosial—harus dilandasi motivasi untuk mendekatkan diri kepada-Nya, selalu menimbang antara harapan akan pahala dan kewaspadaan akan murka-Nya. Mencari "jalan" yang paling dekat kepada Tuhan berarti menyucikan niat dan mengikuti petunjuk yang telah ditetapkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Ayat ini mengajarkan bahwa kedekatan sejati hanya bisa dicapai melalui ketaatan langsung kepada Sang Maha Pencipta.