Kisah-kisah kenabian dan peringatan dalam Al-Qur'an sering kali memberikan pelajaran mendalam tentang keadilan, rahmat, dan waktu keputusan Ilahi. Salah satu ayat yang menyoroti aspek ini adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Isra ayat 59. Ayat ini secara spesifik membahas mengenai penundaan azab terhadap kaum-kaum pendahulu yang telah diingatkan namun tetap membangkang.
Teks dan Konteks Al-Isra Ayat 59
Ayat ini merupakan lanjutan dari pembahasan mengenai permintaan kaum musyrikin Mekah terhadap mukjizat-mukjizat yang spesifik, layaknya yang diberikan kepada rasul-rasul terdahulu. Ketika kaum musyrikin meminta tanda (mukjizat), Allah menjelaskan bahwa penundaan pengiriman tanda-tanda yang lebih dahsyat bukan karena Allah tidak mampu, tetapi karena adanya pelajaran historis yang sangat penting.
Pelajarannya dari Kaum Terdahulu
Poin krusial dalam Al-Isra 59 adalah referensi langsung kepada umat terdahulu. Allah SWT menyebutkan bahwa kaum-kaum sebelum mereka, ketika disajikan mukjizat yang nyata—seperti unta betina yang menjadi mukjizat bagi kaum Tsamud—justru menyikapinya dengan kedustaan dan kezaliman. Kaum Tsamud diperlihatkan mukjizat yang jelas (al-naqah), namun mereka memilih untuk menyakiti dan akhirnya membunuh unta tersebut.
Inilah pelajaran utamanya: Ketika tanda-tanda kebenaran telah disajikan secara jelas dan gamblang, namun manusia tetap memilih untuk mendustakannya dan bahkan bertindak zalim terhadap apa yang seharusnya menjadi bukti keesaan Tuhan, maka penundaan azab berikutnya adalah bentuk rahmat, bukan kelemahan. Penundaan ini memberi kesempatan terakhir bagi mereka untuk bertaubat.
Fungsi Mukjizat: Bukan Hiburan, Melainkan Peringatan
Ayat ini ditutup dengan penegasan fungsi sebenarnya dari mukjizat: "Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti (atau memberi peringatan)." Mukjizat bukanlah alat hiburan yang bisa diminta sesuka hati ketika nafsu duniawi menuntut. Mukjizat adalah sarana peringatan keras. Tujuannya adalah membuat hati yang keras menjadi lunak dan mendorong manusia untuk kembali kepada ketaatan sebelum azab yang sesungguhnya datang.
Ketika kaum terdahulu, setelah melihat mukjizat besar, justru bereaksi dengan kekafiran dan kezaliman (seperti kasus unta Tsamud), maka Allah menetapkan sunnatullah (hukum alam) bahwa penundaan hukuman tetap diberikan, namun pengingatan akan konsekuensi telah ditegaskan. Bagi Nabi Muhammad SAW dan umatnya, ini menjadi penguatan bahwa tuntutan mukjizat yang terus-menerus harus dipahami dalam konteks hikmah dan peringatan, bukan sebagai pemenuhan tantangan tanpa konsekuensi.
Rahmat dalam Penundaan
Memahami Al-Isra ayat 59 juga membuka perspektif tentang betapa luasnya rahmat Allah. Jika setiap kedustaan langsung dihukum seketika, hampir tidak ada yang tersisa di bumi. Penundaan azab—meski tanda-tanda sudah jelas—adalah jendela kesempatan. Allah memberikan waktu bagi hati manusia untuk merenung, menyesali perbuatan zalim mereka (seperti kaum Tsamud yang menyembelih unta mukjizat), dan kembali kepada jalan yang benar.
Namun, sejarah juga mencatat bahwa ketika kesempatan peringatan ini diabaikan secara kolektif dan kezaliman sudah mencapai puncaknya, maka azab yang menanti adalah azab yang pasti dan final, seperti yang dialami oleh kaum Tsamud. Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah jika kita melakukan kesalahan (selama masih ada waktu), sekaligus mengingatkan bahwa kesombongan dalam menolak kebenaran yang telah terbukti akan berujung pada kehancuran yang telah ditetapkannya.
Oleh karena itu, ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa Al-Qur'an sendiri—wahyu yang berkesinambungan—adalah mukjizat terbesar yang berfungsi sebagai peringatan terus-menerus. Tugas kita adalah meresponsnya dengan iman dan ketaatan, bukan dengan kedustaan atau kezaliman.