Visualisasi Metaforis Ketetapan Ilahi.
Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang banyak membahas tentang perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dan juga berisi peringatan serta janji-janji Allah SWT. Salah satu ayat yang mengandung peringatan keras dan menjelaskan hukum kausalitas ilahi adalah ayat ke-58.
Ayat ini, Al Isra 58, menegaskan sebuah prinsip fundamental dalam cara Allah SWT mengatur alam semesta dan interaksi-Nya dengan peradaban manusia. Ayat ini menjelaskan bahwa setiap komunitas atau peradaban yang ada di bumi ini berada di bawah pengawasan ketat Ilahi. Tidak ada satu pun entitas yang dikecualikan dari ketetapan dan pertanggungjawaban akhir.
Allah SWT dalam ayat ini membagi ketetapan bagi kaum yang mendustakan atau zalim menjadi dua kategori utama sebelum datangnya Hari Kiamat:
Poin krusial lainnya dari Al Isra ayat 58 adalah penegasan bahwa semua rencana, hukum, dan ketetapan ini sudah tercatat rapi dalam "Kitab" (Lauh Mahfuzh). Ini memberikan rasa kepastian bahwa keadilan Allah SWT tidak bersifat sewenang-wenang atau terjadi secara kebetulan. Setiap peristiwa, baik kehancuran maupun azab, memiliki dasar hukum yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Bagi umat manusia saat ini, ayat ini berfungsi sebagai pengingat serius. Sejarah peradaban penuh dengan pelajaran tentang bangsa-bangsa yang dulunya besar dan makmur, namun kemudian runtuh karena penyimpangan moral, kesombongan, dan penindasan terhadap sesama. Meskipun kita hidup di era modern, prinsip bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi tetap berlaku. Peringatan ini mendorong umat Islam untuk selalu menjaga integritas sosial dan spiritual.
Dalam konteks modern, di mana berbagai isu global seperti ketidakadilan sosial, korupsi merajalela, dan kerusakan lingkungan semakin parah, pemahaman akan Al Isra 58 menjadi sangat relevan. Jika sebuah masyarakat secara kolektif meninggalkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan demi kesenangan sesaat atau kekuasaan, maka ayat ini mengingatkan bahwa mekanisme tegaknya keadilan—baik melalui kerusakan internal maupun tekanan eksternal—selalu ada dan telah tertulis.
Kesimpulannya, Al Isra 58 bukan sekadar catatan sejarah masa lalu, melainkan sebuah hukum universal yang menjelaskan bahwa kemakmuran duniawi tidak menjamin kekekalan. Kehancuran adalah konsekuensi logis (dalam kerangka ketetapan Ilahi) bagi peradaban yang gagal memenuhi standar moral dan ketuhanan. Oleh karena itu, umat beriman harus menjadikannya sebagai motivasi untuk selalu berbuat baik, menegakkan keadilan, dan waspada terhadap tanda-tanda penyimpangan kolektif.