Ilustrasi konsep waktu dan pembalasan dalam keadilan Ilahi.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Surah ini sarat dengan kisah-kisah penting, pelajaran moral, dan penetapan prinsip-prinsip dasar akidah. Salah satu peristiwa paling monumental yang diceritakan dalam surah ini adalah Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Namun, di antara kisah-kisah tersebut, terdapat ayat-ayat yang secara spesifik membahas tentang takdir, janji, dan pembalasan dari Allah SWT terhadap umat manusia.
Fokus utama kajian kita kali ini adalah pada **Al-Isra ayat 6**, sebuah ayat yang seringkali dibaca bersamaan dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang kebangkitan kembali (ba'ts) setelah kematian. Pemahaman mendalam terhadap ayat ini memberikan perspektif penting mengenai siklus kehidupan, kematian, dan pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.
"Dan Kami jadikan mereka sebagai bahan perbandingan bagi yang kemudian, dan Kami jadikan bagi mereka pembalasan yang besar." (QS. Al-Isra: 6)
Ayat ini merupakan kelanjutan dari konteks ayat-ayat sebelumnya (ayat 4 dan 5) yang berbicara tentang kehancuran umat-umat terdahulu yang durhaka, seperti kaum Bani Israil yang telah diutus kepada mereka para hamba Allah yang kuat untuk menghancurkan negeri mereka sebagai pembalasan atas perbuatan mereka.
Poin utama dalam Al-Isra ayat 6 adalah dua fungsi utama yang diberikan Allah kepada kehancuran umat-umat pendahulu tersebut.
Kata "bahan perbandingan" (لِنَجْعَلَهُمْ آيَةً لِلْآخِرِينَ - li-naj'alahum āyatan lil-ākhirīn) menekankan bahwa kisah kehancuran mereka bukanlah sekadar catatan sejarah yang berlalu. Sebaliknya, itu adalah pelajaran hidup (ibrah) yang harus diperhatikan oleh generasi setelah mereka. Allah sengaja membiarkan jejak kehancuran itu, atau menceritakannya melalui wahyu, agar umat-umat yang datang kemudian tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Ini adalah bentuk rahmat ilahi. Allah tidak ingin umat manusia jatuh ke dalam lubang yang sama. Dengan melihat konsekuensi nyata dari kesombongan, kekufuran, dan kezaliman Bani Israil (dalam konteks ayat tersebut), generasi berikutnya—termasuk umat Nabi Muhammad SAW—dapat menarik kesimpulan bahwa pola perilaku yang sama akan menghasilkan konsekuensi yang serupa. Kisah masa lalu menjadi cermin bagi masa kini.
Bagian kedua ayat menyebutkan, "dan Kami jadikan bagi mereka pembalasan yang besar" (وَعَجَّلْنَا لَهُمْ مَوْعِدًا - wa 'ajjalnā lahum maw'idan). Meskipun terjemahan harfiahnya bisa berarti 'menjadikan bagi mereka janji yang disegerakan', dalam konteks ayat 5, ini merujuk pada pembalasan yang pasti dan besar yang menimpa mereka di dunia, sebelum atau sebagai pendahuluan dari pembalasan akhirat.
Pembalasan ini mencakup hilangnya kekuasaan, kehancuran fisik negeri, dan terpecahnya belah mereka. Ini adalah manifestasi dari keadilan absolut Allah. Tidak ada kejahatan yang luput dari perhitungan-Nya, dan setiap pelanggaran memiliki konsekuensi yang proporsional. "Pembalasan yang besar" ini adalah teguran keras dari Yang Maha Kuasa atas penyelewengan mereka dari perjanjian yang telah diberikan.
Pesan Al-Isra ayat 6 sangat relevan bagi setiap zaman. Dalam era modern yang penuh dengan kemajuan teknologi namun seringkali diwarnai oleh kerusakan moral, kesombongan, dan ketidakadilan, ayat ini berfungsi sebagai pengingat tegas.
Setiap peradaban yang membangun kejayaannya di atas penindasan, pengabaian nilai-nilai spiritual, atau pengkhianatan terhadap amanah ilahi, pada akhirnya akan menghadapi hukum sebab akibat. Allah SWT memberikan waktu dan kesempatan untuk bertaubat, namun ketika batas kesabaran-Nya terlampaui, pembalasan pasti akan datang.
Oleh karena itu, umat Islam didorong untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu. Bukan untuk mencela, melainkan untuk menginsafi bahwa ketetapan Allah berlaku universal dan abadi. Janji pertanggungjawaban dan pembalasan adalah bagian integral dari sistem alam semesta yang diciptakan oleh Allah SWT. Dengan merenungkan Al-Isra ayat 6, kita diingatkan untuk selalu hidup dalam kesadaran akan pengawasan Ilahi, agar kita tidak menjadi bagian dari kisah perbandingan yang menyedihkan di masa mendatang.