Kekuatan Kesabaran dan Ketetapan Ilahi

Ketetapan
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونِ الْأُولَىٰ بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٨٥)
"Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) setelah Kami membinasakan generasi-generasi yang terdahulu, sebagai petunjuk yang jelas bagi manusia, rahmat, dan peringatan agar mereka selalu ingat." (QS. Al-Hijr: 85)

Konteks Penurunan dan Hikmah Utama

Surah Al-Hijr, yang dikenal juga sebagai Lembah Nabi Saleh, mengandung banyak pelajaran tentang keteguhan iman dan akibat dari penolakan terhadap kebenaran. Ayat 85 ini muncul setelah Allah SWT memberikan peringatan keras kepada kaum yang ingkar dan membangkang. Ayat ini merupakan sebuah penegasan historis bahwa sunnatullah (hukum Allah) selalu berlaku: kebinasaan menanti mereka yang melampaui batas, sementara petunjuk selalu disediakan bagi mereka yang mau menerima.

Fokus utama ayat ini adalah pada penetapan wahyu kepada Nabi Musa AS. Setelah Allah menghancurkan generasi-generasi sebelumnya—mereka yang keras kepala dan menolak ayat-ayat Allah—Dia tidak membiarkan manusia tanpa pedoman. Sebagai gantinya, Dia menurunkan Al-Kitab, yaitu Taurat, kepada Musa. Ini menunjukkan pola dasar intervensi ilahi: ketika kesesatan telah mencapai puncaknya dan hukuman telah dijatuhkan kepada yang zalim, Allah segera menyusun ulang jalan bagi mereka yang mencari kebenaran.

Tiga Pilar Petunjuk Ilahi

Ayat ini dengan jelas menggarisbawahi tiga fungsi utama dari wahyu ilahi (kitab suci) yang diturunkan setelah kehancuran generasi sebelumnya:

  1. Basā'ir (بَصَائِرَ): Petunjuk yang Jelas (Cahaya Mata Batin). Kata basā'ir berasal dari akar kata yang berarti 'melihat' atau 'pandangan mata hati'. Ini lebih dari sekadar informasi; ini adalah kemampuan untuk memahami hakikat segala sesuatu, membedakan antara yang benar dan yang salah, dan melihat konsekuensi jangka panjang dari setiap pilihan. Ini adalah pemahaman yang membuka mata hati manusia.
  2. Hudā (هُدًى): Petunjuk Jalan. Jika basā'ir adalah pandangan batin, maka hudā adalah kompas yang mengarahkan langkah. Ini adalah panduan praktis mengenai bagaimana cara hidup yang benar sesuai kehendak Pencipta.
  3. Rahmah (رَحْمَةً): Rahmat. Wahyu adalah kasih sayang Allah yang terwujud dalam bentuk kemudahan untuk mengikuti kebenaran. Tanpa wahyu, manusia akan tersesat dalam kegelapan aturan buatannya sendiri yang penuh kesulitan dan ketidakadilan.

Pesan untuk Umat Nabi Muhammad SAW

Meskipun konteks historisnya menyebutkan Taurat untuk Bani Israil, ayat ini memiliki relevansi universal dan merupakan penguatan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Taurat adalah rahmat dan peringatan setelah kehancuran umat sebelumnya (seperti kaum Nabi Nuh atau kaum Nabi Luth), Al-Qur'an adalah penyempurnaan dari petunjuk tersebut.

Tujuan akhir dari semua petunjuk ini ditekankan pada frasa terakhir: "la‘allahum yatażakkarūn" (agar mereka selalu ingat). Pengingatan ini bukan sekadar menghafal, tetapi mengingat kembali perjanjian fitrah manusia dengan Tuhannya, mengingat janji-janji-Nya, dan mengingat akibat buruk dari kelalaian. Dalam dunia yang bergerak cepat dan penuh godaan, ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah telah menyediakan sarana yang jelas—Al-Qur'an—sebagai cahaya agar kita tidak tersesat seperti generasi-generasi yang telah lalu. Kesabaran dalam memegang teguh petunjuk ini adalah kunci untuk mendapatkan rahmat-Nya dan terhindar dari kehancuran kolektif.

Oleh karena itu, Surat Al-Hijr ayat 85 menegaskan bahwa setiap kali Allah memberikan teguran keras melalui kehancuran masa lalu, Dia selalu menyediakan jalan kembali berupa wahyu yang lengkap dan komprehensif, yang berfungsi sebagai cahaya, panduan, dan sumber kasih sayang abadi bagi umat manusia yang berakal.

🏠 Homepage