Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan kisah-kisah kenabian, hukum, dan peringatan ilahi. Salah satu ayat yang menarik perhatian para mufassir adalah ayat ke-66. Ayat ini secara spesifik membahas tentang kemahakuasaan Allah dan bagaimana Dia menciptakan batasan atas segala sesuatu, termasuk interaksi antara manusia dan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
Ayat ini seringkali dibaca dalam konteks bagaimana Allah memberikan kekuasaan dan kemudian mencabutnya, serta bagaimana manusia harus bersyukur atas karunia yang diberikan.
Meskipun ayat ini seringkali disebut sebagai ayat 66 secara keseluruhan, penting untuk memahami konteks ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat 66 secara spesifik menyoroti nikmat Allah berupa kemampuan manusia untuk berlayar di lautan. Lautan, yang secara alami adalah lingkungan yang keras dan berbahaya bagi manusia, dijadikan sarana untuk mencari rezeki dan melakukan perjalanan, berkat karunia dan teknologi yang Dia ajarkan.
Pada masa turunnya ayat ini, kemampuan berlayar adalah puncak teknologi. Ayat ini menekankan bahwa kemampuan ini bukanlah hasil usaha manusia semata, melainkan sebuah karunia (anugerah) dari Allah. Ini mengajarkan konsep tawakkul (berserah diri) yang seimbang dengan ikhtiar. Manusia diizinkan untuk berusaha, berinovasi (membuat kapal), namun hasil akhirnya tetap berada dalam kerangka izin dan kasih sayang Ilahi.
Para ulama tafsir menyoroti frasa "supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya". Ini menggarisbawahi tujuan hidup di dunia: bekerja keras dalam mencari rezeki (ma'isyah) sambil tetap mengingat sumber dari rezeki tersebut. Ia bukan hanya tentang perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan ekonomi dan spiritual.
Bagian akhir ayat, "Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang kepadamu," adalah penutup yang mengharukan. Di tengah potensi bahaya lautan yang tak terduga—badai, ombak besar, atau tersesat—Allah mengingatkan hamba-Nya bahwa di balik semua kemudahan berlayar tersebut, ada Rahmat yang melingkupinya. Rahmat ini yang menahan lautan agar tidak menenggelamkan kapal-kapal tersebut secara tiba-tiba tanpa peringatan.
Dalam konteks modern, "kapal" ini bisa diperluas maknanya menjadi segala bentuk sarana transportasi, teknologi, dan infrastruktur yang memfasilitasi kehidupan kita. Prinsipnya tetap sama: setiap kemudahan yang kita nikmati adalah bukti kasih sayang Allah yang memungkinkan kita menjalani kehidupan yang lebih baik di bumi ini.
Ayat 65 adalah peringatan keras kepada Iblis (setan) bahwa ia tidak memiliki kuasa atas hamba-hamba Allah yang beriman dan bertawakal. Setelah peringatan keras tersebut, Allah langsung menyambungnya dengan ayat 66, yang memberikan contoh nyata atas kekuasaan dan rahmat-Nya—yaitu karunia pelayaran. Kontras ini sangat kuat: Iblis tidak berdaya melawan kehendak Allah, sementara Allah justru memberikan kemudahan kepada hamba-Nya untuk mencari rezeki.
Ayat selanjutnya (67) berbicara tentang ketika musibah datang dan mereka harus mengandalkan pertolongan-Nya semata, menegaskan kembali bahwa kenyamanan yang dirasakan saat berlayar adalah anugerah yang bisa ditarik kembali kapan saja. Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap Al-Isra ayat 66 menumbuhkan rasa syukur yang mendalam terhadap nikmat yang seringkali kita anggap remeh dalam rutinitas harian kita.