Memahami Kekuasaan Mutlak Allah: Surat Al-Maidah Ayat 120

Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak sekali pelajaran penting mengenai syariat, sejarah kenabian, dan penguatan tauhid. Di antara ayat-ayatnya, terdapat satu ayat yang secara tegas menekankan keagungan dan kekuasaan tunggal Allah SWT, yaitu Surat Al-Maidah ayat 120.

Ayat ini berfungsi sebagai pengingat fundamental bahwa segala kendali langit dan bumi sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta, dan manusia hanyalah hamba yang tunduk pada kehendak-Nya. Memahami ayat ini berarti menempatkan segala urusan, kekhawatiran, dan harapan kita pada posisi yang benar.

Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 120

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Hanya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Kandungan Utama Ayat: Kepemilikan Mutlak

Fokus utama dari ayat 120 ini adalah penegasan kepemilikan (mulk). Frasa "Lillah mulkus samawati wal ardh" (Hanya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi) bukanlah sekadar klaim retoris, melainkan sebuah realitas ontologis yang harus diyakini setiap Muslim.

Langit, dengan segala galaksi dan bintangnya yang tak terhitung, bumi, dengan seluruh ekosistem dan sumber dayanya, serta segala yang ada di antara keduanya—semua itu adalah milik Allah. Ini mencakup benda-benda fisik, energi, hukum alam, bahkan kehidupan dan kematian itu sendiri. Tidak ada entitas lain, baik itu dewa, berhala, penguasa duniawi, atau kekuatan gaib, yang memiliki bagian dari kepemilikan tersebut.

Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, implikasinya sangat besar terhadap cara kita menjalani hidup. Ini menghilangkan ketergantungan yang berlebihan kepada makhluk ciptaan-Nya. Dunia seisinya adalah titipan, bukan hak milik permanen kita. Kesadaran ini mendorong sifat qana'ah (merasa cukup) dan zuhud (tidak terikat duniawi).

Penutup Ayat: Kekuatan Yang Tak Terbatas

Ayat ditutup dengan penegasan sifat Allah yang kedua, yaitu "Wahuwa 'ala kulli syai'in qadir" (Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Kekuasaan-Nya (Qudrah) tidak dibatasi oleh ruang, waktu, atau materi. Jika Allah memiliki seluruh kerajaan, maka secara logis, kuasa-Nya haruslah mutlak dan tak terbatas.

Kemahakuasaan ini memberikan harapan terbesar bagi orang yang beriman. Ketika seorang hamba menghadapi kesulitan yang tampaknya tidak mungkin diatasi oleh kekuatan manusia—penyakit parah, krisis ekonomi, atau ketidakadilan besar—mengingat ayat ini menenangkan hati. Apa yang mustahil bagi manusia, menjadi mungkin bagi Allah yang Maha Kuasa.

Ayat ini menjadi penawar bagi kesombongan. Penguasa duniawi mungkin merasa memegang kekuasaan absolut, namun kekuasaan mereka hanyalah delegasi sementara dan terbatas. Suatu saat, kekuasaan itu akan berakhir, dan mereka akan kembali kepada Pemilik Sejati alam semesta.

Relevansi di Era Modern

Di tengah perkembangan sains dan teknologi yang membuat manusia merasa semakin superior, Al-Maidah 120 adalah koreksi ilahiah. Manusia mungkin dapat merekayasa genetik atau menjelajahi luar angkasa, namun semua kemampuan itu berasal dari izin dan pemeliharaan Allah. Sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, tetapi Al-Qur'an menjelaskan siapa yang menjadikan alam itu ada dan memeliharanya.

Oleh karena itu, ayat ini menuntut introspeksi: apakah tindakan kita sehari-hari mencerminkan pengakuan kita bahwa kita hidup di bawah kekuasaan Yang Maha Agung? Dalam pengambilan keputusan, apakah kita mendahulukan hasrat duniawi atau mencari keridhaan Pemilik Langit dan Bumi?

Ilustrasi Kekuasaan Allah atas Langit dan Bumi Allah Kekuasaan Mutlak (Mulk)

Kesimpulannya, Surat Al-Maidah ayat 120 adalah pilar akidah yang mengingatkan kita bahwa Allah adalah Raja, pemilik, dan penguasa tunggal atas segala sesuatu yang ada. Pengakuan ini menumbuhkan ketawakkalan sejati, karena hanya kepada Yang Maha Kuasa, segala permohonan dan ketakutan harus ditujukan.

🏠 Homepage