Tantangan Ilahi: Memahami Surah Al-Isra Ayat 93

Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, mengandung banyak pelajaran penting mengenai sejarah kenabian dan tantangan yang dihadapi oleh Rasulullah Muhammad ﷺ dalam menyampaikan risalah Allah. Salah satu ayat yang menyoroti betapa besarnya tantangan tersebut adalah ayat ke-93.

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنتُ إِلاَّ بَشَرًا رَّسُولًا

Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku! Aku ini hanyalah seorang manusia, seorang rasul." (Al-Isra: 93)

Konteks Penyingkapan Ayat

Ayat 93 ini turun sebagai respons langsung terhadap tuntutan kaum Quraisy Mekkah yang menginginkan bukti-bukti mukjizat luar biasa dari Nabi Muhammad ﷺ, seolah-olah mukjizat tersebut harus menyamai standar yang diminta oleh mereka. Kaum musyrikin sering menantang Nabi dengan permintaan yang mustahil dilakukan oleh seorang manusia biasa, seperti meminta agar gunung-gunung di Mekkah dipindahkan, atau agar Allah menurunkan kitab yang tertulis di hadapan mereka.

Dalam ayat-ayat sebelumnya (Al-Isra ayat 90-92), Allah SWT menjelaskan bahwa para nabi terdahulu pun menghadapi tantangan serupa. Nabi Musa AS diminta bukti yang jelas, Nabi Nuh AS disuruh membuat bahtera di tengah padang kering, dan lain sebagainya. Ketika tantangan ini dialamatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, respons yang diperintahkan Allah adalah penegasan identitas dan keterbatasan beliau sebagai utusan Allah.

Makna Inti Ayat 93

Ayat ini memuat dua elemen penting yang harus diucapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ:

  1. "Katakanlah: Maha Suci Tuhanku!" (قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي): Ini adalah pengakuan ketuhanan yang mutlak. Dengan mengucap 'Subhana Rabbi', Nabi menegaskan bahwa kekuasaan untuk melakukan segala hal berada di tangan Allah semata. Ini adalah penolakan halus terhadap pemikiran bahwa Nabi sendiri yang berkuasa menentukan mukjizat atau menurunkan wahyu atas kemauannya sendiri.
  2. "Aku ini hanyalah seorang manusia, seorang rasul." (هَلْ كُنتُ إِلاَّ بَشَرًا رَّسُولًا): Penegasan identitas ini sangat krusial. Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang manusia biasa yang dipilih Allah untuk menerima wahyu. Beliau tidak memiliki kemampuan supranatural seperti malaikat atau Tuhan. Tugasnya adalah menyampaikan risalah, bukan menciptakan mukjizat yang menantang hukum alam sesuai permintaan kaum yang ingkar.

Ayat ini berfungsi sebagai pembelaan sekaligus klarifikasi. Jika mukjizat yang diinginkan kaum Quraisy tidak datang, itu bukan karena Nabi lemah, melainkan karena kenabian beliau adalah untuk menyampaikan kebenaran melalui wahyu (Al-Qur'an) yang merupakan mukjizat terbesar dan abadi, bukan melalui pertunjukan kekuatan fisik yang hanya bersifat sementara.

Ilustrasi Visual Tantangan dan Jawaban

Ilustrasi Tantangan Kaum Musyrikin dan Jawaban Nabi Subhana Rabbi! Basyar Rasuul! Tuntutan Kaum

Pelajaran Penting bagi Umat

Ayat Al-Isra 93 memberikan landasan teologis yang kuat mengenai batasan antara manusia dan Tuhan. Beberapa pelajaran yang dapat diambil:

  1. Menghargai Sifat Manusiawi Nabi: Umat Islam diajarkan untuk tidak mengkultuskan Nabi Muhammad ﷺ hingga menyamakan derajatnya dengan Allah SWT. Beliau adalah manusia yang menerima wahyu.
  2. Fokus pada Mukjizat Utama: Ayat ini mengarahkan perhatian umat dari pencarian mukjizat-mukjizat fisik semata menuju penerimaan Al-Qur'an sebagai mukjizat abadi yang berisi petunjuk hidup.
  3. Kesabaran dalam Dakwah: Ketika menghadapi penolakan atau tuntutan yang tidak masuk akal dari orang yang didakwahi, respons terbaik adalah kembali bertasbih kepada Allah dan menegaskan posisi diri sebagai penyampai pesan, bukan pembuat keajaiban instan.

Oleh karena itu, Surah Al-Isra ayat 93 adalah pengingat abadi bahwa jalan kenabian adalah jalan penyampaian kebenaran dengan kesabaran, didukung oleh keagungan Ilahi, terlepas dari segala bentuk keraguan atau tuntutan yang dilontarkan oleh penentang.

🏠 Homepage