Menggali Makna Mendalam: Al-Isra Ayat 77

Surah Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan kisah nabi-nabi terdahulu, peringatan ilahi, dan petunjuk kehidupan. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam bagi umat Islam adalah ayat ke-77, yang secara eksplisit membahas mengenai tradisi umat terdahulu dan ketetapan Allah mengenai perlakuan terhadap para rasul-Nya.

Jalan Kebenaran

Ilustrasi visualisasi jalan petunjuk dan kebenaran.

Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 77

Ayat ini berfungsi sebagai penegasan hukum ilahi yang berlaku universal, bukan hanya untuk masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga untuk umat-umat terdahulu yang menerima risalah dari rasul-rasul Allah. Berikut adalah teks aslinya dan terjemahannya:

(Arab): سُنَّةَ مَنۡ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِن رُّسُلِنَا وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحۡوِيلاً

(Terjemahan): "(Itulah) ketetapan bagi orang-orang yang telah Kami utus sebelum kamu dari rasul-rasul Kami; dan kamu tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan Kami." (QS. Al-Isra: 77)

Ketetapan yang Tidak Berubah: Sunnatullah

Inti dari Al-Isra ayat 77 adalah penegasan mengenai sunnatullah, atau hukum kebiasaan Allah yang berlaku tetap dan tidak dapat diubah. Ayat ini mengingatkan bahwa pola respons umat manusia terhadap risalah kenabian memiliki pola yang konsisten sepanjang sejarah.

Ketika Allah mengutus seorang rasul dengan membawa kebenaran (tauhid), respons yang muncul biasanya terbagi dua: kelompok yang beriman dan mengikuti ajaran tersebut, serta kelompok yang menolak, ingkar, dan bahkan memusuhi rasul tersebut. Ayat 77 menegaskan bahwa pola ini—yaitu bahwa para rasul akan diutus, dan kaum mereka akan merespons dengan iman atau penolakan—adalah ketetapan Allah yang kekal.

Pola Penolakan dan Konsekuensinya

Dalam konteks sebelum ayat ini, Al-Isra ayat 76-77 membahas tentang orang-orang kafir Mekkah yang hampir menggoda Nabi Muhammad SAW untuk meninggalkan ajaran yang diwahyukan kepadanya, dan menggantinya dengan ajaran lain agar mereka bisa hidup tenang bersama. Allah kemudian menjawab dengan menyatakan bahwa jika hal itu terjadi, mereka akan menganggap Nabi Muhammad sebagai bagian dari mereka dalam kesesatan.

Namun, ayat 77 menutup diskusi tersebut dengan pernyataan tegas: pola yang ditetapkan Allah adalah bahwa risalah kebenaran pasti dipertahankan dan tidak akan pernah berubah hanya karena tekanan atau godaan duniawi. Mengubah sunnah ini sama mustahilnya dengan mengubah ketetapan alam semesta.

Pentingnya Konsistensi dalam Dakwah

Bagi umat Islam yang menerima Al-Qur'an sebagai wahyu terakhir, ayat ini memberikan landasan psikologis dan spiritual yang kuat. Ketika menghadapi penolakan atau tekanan sosial yang menyerukan kompromi terhadap prinsip-prinsip dasar agama, seorang Muslim diingatkan bahwa perjuangan untuk menegakkan kebenaran adalah bagian dari warisan kenabian yang tak terputus.

Para rasul terdahulu, mulai dari Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga Nabi Isa, semuanya menghadapi penolakan serupa. Mereka tidak diizinkan oleh Allah untuk mengubah pesan inti risalah mereka hanya demi mendapatkan penerimaan sesaat dari kaum yang durhaka. Konsistensi dalam menyampaikan kebenaran, meskipun harus menghadapi kesulitan, adalah ciri khas para pembawa risalah.

Dengan demikian, Al-Isra ayat 77 bukan sekadar pengulangan sejarah, melainkan sebuah deklarasi bahwa prinsip tauhid dan cara penyampaian risalah adalah jalur yang telah ditetapkan secara ilahiah. Umat Islam diperintahkan untuk meneladani keteguhan hati para pendahulu mereka dalam memegang teguh kebenaran wahyu, karena ketetapan Allah mengenai prinsip-prinsip ini tidak akan pernah berubah.

Memahami ayat ini membantu memperkuat keyakinan bahwa upaya dakwah yang didasarkan pada wahyu, meskipun terasa berat tantangannya, berada di jalur yang benar sesuai dengan hukum abadi yang ditetapkan oleh Sang Pencipta.

🏠 Homepage