Tafsir Singkat Surah Al-Isra Ayat 78 dan 79
Ilustrasi visualisasi waktu salat dan keheningan malam.
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan hikmah, kisah kenabian, serta panduan fundamental bagi kehidupan seorang Muslim. Di antara ayat-ayat penting yang membahas tentang rutinitas ibadah harian, kita menemukan perintah tegas dalam ayat 78 dan 79, yang menekankan pentingnya menjaga shalat pada waktu-waktu yang telah ditentukan serta anjuran kuat untuk melaksanakan salat malam (Tahajjud).
Ayat 78 dimulai dengan perintah langsung kepada Nabi Muhammad SAW, yang juga merupakan pedoman umum bagi umatnya: "Dirikanlah salat...". Kata kunci pertama adalah "lidulukis syamsi", yaitu sejak matahari tergelincir. Ini merujuk pada waktu Dzuhur. Setelah Dzuhur, rentang waktu salat meluas hingga "ghasaqil lail" (gelap malam). Para mufassir mengartikan 'ghasaqil lail' sebagai awal masuknya waktu Isya. Jadi, rentang waktu ini mencakup Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.
Ayat ini menekankan pentingnya tidak menunda salat hingga waktu yang sempit. Salat harus dilaksanakan saat telah tiba waktunya yang syar'i. Setelah menyebut rentang waktu salat fardhu tersebut, Allah SWT secara khusus menambahkan penekanan pada Salat Subuh (qur'anal fajr). Mengapa Subuh disebutkan terpisah? Karena salat ini memiliki kedudukan istimewa, yaitu disaksikan oleh malaikat siang dan malaikat malam. Ini menunjukkan betapa berharganya konsistensi dalam melaksanakan salat sebelum fajar menyingsing.
Setelah mengatur kewajiban salat fardhu, ayat 79 membuka dimensi spiritual yang lebih dalam: "Dan pada sebagian malam, bertahajudlah kamu...". Tahajjud adalah salat sunnah yang dilakukan setelah tidur sejenak di tengah malam. Ayat ini menyebutnya sebagai "nafilatan laka" (tambahan bagimu), menunjukkan bahwa ini adalah ibadah sukarela yang ditingkatkan statusnya menjadi sangat dianjurkan, terutama bagi Rasulullah SAW, namun tetap menjadi amalan sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi umatnya.
Mengapa malam hari dipilih? Malam adalah waktu di mana hiruk pikuk dunia mereda, konsentrasi jiwa menjadi lebih murni, dan kedekatan dengan Sang Pencipta terasa lebih intens. Dalam keheningan malam, hati menjadi lebih mudah terenyuh dan fokus saat berdoa serta berzikir.
Puncak dari amalan Tahajjud dalam ayat ini adalah janji ilahi: "Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (Maqaman Mahmudah)." Maqaman Mahmudah adalah kedudukan agung yang dijanjikan Allah SWT, yang diyakini oleh banyak ulama sebagai kedudukan syafaat universal Rasulullah SAW pada Hari Kiamat. Ini adalah motivasi tertinggi; bahwa pengorbanan kecil berupa bangun dari tidur di malam hari akan dibalas dengan kedudukan kemuliaan yang tak terhingga di hadapan Allah SWT.
Dua ayat ini menawarkan kerangka ibadah yang seimbang. Ayat 78 mengajarkan disiplin waktu (manajemen waktu spiritual) dalam melaksanakan kewajiban harian kita kepada Allah, memastikan bahwa setiap fase siang dan malam telah diisi dengan mengingat-Nya, terutama dalam momen kritis Subuh. Sementara itu, Ayat 79 mendorong kita untuk melampaui batas kewajiban (ikhtiar) melalui Tahajjud.
Menjaga salat lima waktu tepat waktu adalah pondasi, namun menghidupkan malam dengan Tahajjud adalah jalan untuk mencapai kedekatan spiritual yang lebih tinggi dan meraih janji kebahagiaan akhirat. Kombinasi antara disiplin ketat pada waktu fardhu dan kesungguhan dalam ibadah sunnah malam adalah resep keberhasilan spiritual yang ditawarkan Al-Qur'an melalui Surah Al-Isra ayat 78 dan 79.