Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan hikmah, peringatan, dan janji ilahi. Di antara ayat-ayat yang sangat fundamental dalam surat ini adalah ayat ke-9 dan ke-10, yang memberikan gambaran jelas mengenai konsekuensi dari perbuatan manusia, baik itu kebaikan maupun keburukan. Kedua ayat ini sering dikutip sebagai dasar penegasan mengenai jalan mana yang akan dipilih oleh seorang mukmin.
Teks dan Makna Al-Isra Ayat 9
Ayat ke-9 dibuka dengan penegasan bahwa Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama. Kata "lurus" (أَقْوَمَ - aqwama) di sini mengandung makna yang paling benar, paling kokoh, dan paling ideal, baik dalam hal akidah, moral, maupun tata cara kehidupan. Al-Qur'an tidak hanya memberi teori, tetapi juga arahan praktis untuk mencapai keridhaan Allah.
Lebih lanjut, ayat ini memberikan kabar gembira (tabsyīr) khusus bagi dua kelompok: pertama, mereka yang membenarkan petunjuk Al-Qur'an (iman), dan kedua, mereka yang mengaplikasikan kebenaran tersebut dalam tindakan nyata (amal saleh). Balasan yang dijanjikan adalah "pahala yang besar" (أَجْرًا كَبِيرًا - ajran kabīran). Ini menunjukkan bahwa antara iman dan amal harus berjalan seiring; keimanan tanpa bukti perbuatan dianggap kurang sempurna dalam pandangan Al-Qur'an.
Peringatan Keras dalam Al-Isra Ayat 10
Kontras yang tajam disajikan pada ayat ke-10. Jika ayat sebelumnya menjanjikan surga bagi yang beramal saleh berdasarkan petunjuk, ayat ini memberikan peringatan keras bagi mereka yang menolak konsep fundamental kehidupan setelah kematian, yaitu hari akhirat.
Penekanan pada "tidak beriman kepada hari akhirat" sangat penting. Banyak manusia mungkin melakukan perbuatan baik di dunia (seperti bersedekah atau membangun infrastruktur), namun jika motivasi utamanya adalah pujian duniawi dan mereka mengingkari adanya pertanggungjawaban akhirat, maka seluruh amal tersebut tidak bernilai di sisi Allah. Penolakan terhadap Hari Kebangkitan menghilangkan landasan moralitas sejati. Akibatnya, Allah telah menyiapkan "azab yang pedih" (عَذَابًا أَلِيمًا - 'adzāban alīman) bagi mereka. Kepedihan azab ini mengimplikasikan konsekuensi yang jauh lebih berat daripada sekadar hukuman duniawi.
Integrasi Dua Ayat: Konsekuensi Pilihan Hidup
Al-Isra ayat 9 dan 10 sejatinya adalah dua sisi mata uang yang sama: sistem konsekuensi ilahi. Ayat ini secara efektif membagi manusia menjadi dua jalur utama. Jalur pertama adalah jalan yang diterangi oleh Al-Qur'an, yang menjanjikan kedamaian dan pahala abadi bagi mereka yang mengikuti cahayanya dengan perbuatan nyata. Jalur kedua adalah jalan kegelapan, ditandai dengan pengabaian terhadap hari perhitungan, yang berujung pada siksa yang menyakitkan.
Bagi seorang Muslim, ayat ini berfungsi sebagai pengingat konstan bahwa setiap keputusan—mulai dari bagaimana menggunakan waktu, mengelola harta, hingga interaksi sosial—sedang dicatat dan dievaluasi. Pemahaman bahwa kita sedang berjalan menuju salah satu dari dua destinasi abadi ini seharusnya memotivasi kita untuk selalu memilih jalan yang lurus, yaitu jalan yang diridhai oleh Al-Qur'an. Kehidupan di dunia ini adalah masa penanaman; Al-Isra 9-10 adalah pengumuman hasil panen yang akan datang. Oleh karena itu, optimisme harus dibarengi dengan kerja keras dalam amal saleh, dan peringatan harus dijawab dengan peningkatan ketakwaan dan penghidupan iman akan hari perhitungan.