(Qul kafā billāhi shahīdan bainī wa bainakum, innahu kāna bi'ibādihī khabīran baṣīrā)
Terjemahan:
"Katakanlah: 'Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.'" (QS. Al-Isra: 96)
Ayat 96 dari Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil) memiliki posisi yang sangat signifikan dalam narasi Al-Qur'an. Ayat ini muncul setelah serangkaian tantangan dan keraguan yang diajukan oleh kaum musyrikin Mekah terhadap kebenaran kenabian Muhammad SAW. Keraguan tersebut seringkali berupa permintaan akan mukjizat yang kasat mata, atau penolakan terhadap wahyu yang dibawa Nabi.
Dalam konteks ini, Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya untuk memberikan jawaban tegas, namun jawaban tersebut bukan berupa pembuktian fisik yang dipaksakan, melainkan penyerahan total kepada otoritas tertinggi: Allah SWT sendiri.
Frasa sentral dalam ayat ini adalah "Katakanlah: Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian." Ini adalah bentuk penegasan yang sangat kuat. Ketika manusia saling bersaksi, kesaksian itu bisa bias, dipengaruhi kepentingan, atau bahkan dipalsukan. Namun, kesaksian Allah SWT bersifat mutlak, sempurna, dan adil.
Nabi Muhammad SAW, dalam menyampaikan risalah tauhid, tidak memerlukan saksi tambahan dari manusia yang mungkin belum beriman. Keabsahan risalahnya telah dijamin oleh Sang Pencipta. Ini memberikan ketenangan batin kepada Nabi dan sekaligus menunjukkan kepada para penentang bahwa mereka sedang berhadapan bukan hanya dengan seorang manusia, tetapi dengan risalah yang di bawah naungan Ilahi.
Ayat ini berfungsi sebagai penutup pembelaan diri Nabi. Jika mereka meragukan kejujuran dan kebenaran dakwahnya, maka biarlah Yang Maha Tahu menjadi penentu.
Bagian kedua dari ayat ini memberikan alasan mengapa kesaksian Allah itu cukup: "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (Khabīran) lagi Maha Melihat (Baṣīran) akan hamba-hamba-Nya."
Al-Khabīr (Maha Mengetahui) merujuk pada pengetahuan Allah yang meliputi segala hal yang tersembunyi, niat tersembunyi dalam hati, masa lalu, dan masa depan. Allah mengetahui niat Nabi dalam berdakwah—yakni ketulusan dan kejujuran semata-mata mencari ridha-Nya.
Sementara itu, Al-Baṣīr (Maha Melihat) merujuk pada kemampuan Allah untuk melihat segala sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi dengan penglihatan yang sempurna. Allah melihat bagaimana para penentang berbuat makar, bagaimana mereka menyembunyikan kekafiran mereka, dan bagaimana mereka memperlakukan Nabi.
Dengan menggabungkan kedua sifat ini, ayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada satu pun perbuatan, baik yang baik maupun yang buruk, yang luput dari catatan dan penghakiman Allah. Ini adalah peringatan keras bagi mereka yang menolak, sekaligus penghiburan bagi Nabi yang berdakwah dengan kesabaran.
Meskipun ayat ini ditujukan kepada Nabi dalam konteks tantangan kaum Quraisy, dampaknya bersifat universal bagi umat Islam:
Pada akhirnya, Al-Isra ayat 96 adalah manifestasi dari keadilan dan kemahakuasaan Allah. Ia menutup pintu bagi pembuktian yang bersifat duniawi dan mengarahkan pandangan kepada bukti tertinggi: pengawasan dan pengetahuan absolut dari Sang Pencipta alam semesta.