Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat akan hikmah dan sejarah umat terdahulu. Di dalamnya, terdapat ayat-ayat yang berfungsi sebagai pengingat dan penegasan janji Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Salah satu ayat yang sering menjadi fokus penafsiran adalah Al-Isra ayat 97.
"Katakanlah: 'Sekiranya ada lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya akan habis (dituliskan) lautan itu sebelum (atau sebelum) habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami tambahkan bahan sebanyak itu padanya (sebagai tambahannya).'" (QS. Al-Isra [17]: 109 - Catatan: Ayat 97 merujuk pada ayat sebelumnya, namun konteks yang sering dibahas adalah ayat 109 yang seringkali dipersepsikan sebagai kelanjutan dari tema janji Ilahi yang sangat luas, atau penekanan pada kebesaran Allah, yang relevan dengan janji balasan).
*Catatan Redaksi: Dalam konteks penekanan pada janji balasan bagi yang beriman (yang sering dikaitkan dengan ayat-ayat penutup surah), kami akan fokus pada makna janji utama yang terdapat dalam rangkaian ayat Al-Isra, khususnya ayat 109 yang menggambarkan keluasan ilmu dan janji Allah, yang merupakan landasan balasan tersebut.*
Meskipun banyak sumber merujuk pada konteks balasan di ayat lain, ayat-ayat penutup surah ini secara kolektif menekankan keagungan Allah dan konsekuensi dari keimanan. Ayat yang sering menjadi penanda janji keberlangsungan adalah apa yang dibahas dalam konteks pengulangan janji Allah. Al-Isra ayat 97, dalam beberapa penafsiran, berbicara tentang ancaman bagi orang yang enggan mengikuti petunjuk Allah, atau penegasan bahwa Rasul adalah pembawa kabar gembira dan peringatan.
Jika kita melihat konteks umum surah Al-Isra, khususnya di bagian akhir, Allah SWT menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan untuk memberikan petunjuk. Janji balasan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh adalah sebuah konsep sentral dalam Islam. Keimanan yang tulus—yaitu membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal—akan mendapatkan imbalan yang melampaui batas pemahaman manusia.
Makna tersirat dalam janji-janji ilahi ini adalah bahwa usaha spiritual manusia, sekecil apapun yang dilakukan karena Allah, tidak akan pernah sia-sia. Lautan yang dijadikan tinta sebagai perumpamaan adalah metafora untuk menunjukkan bahwa keluasan anugerah dan balasan Allah jauh melampaui sumber daya terbesar yang dapat dibayangkan manusia. Ini memberikan penghiburan luar biasa bagi orang-orang beriman yang mungkin merasa perjuangan mereka kecil atau tidak terlihat di dunia.
Konteks Al-Isra seringkali menyoroti kisah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra Mi'raj) dan juga tantangan yang dihadapi Bani Israil. Dalam menghadapi segala bentuk ujian—baik itu penindasan, godaan materi, maupun keraguan iman—komitmen untuk tetap berada di jalan Allah adalah kunci. Ayat-ayat yang berbicara tentang janji balasan berfungsi sebagai penyemangat fundamental.
Seorang mukmin sejati memahami bahwa kehidupan duniawi hanyalah persinggahan sementara. Fokus utama adalah mencapai keridhaan-Nya. Ketika seorang mukmin menghadapi kesulitan, mengingat janji Allah bahwa segala kesabaran akan dibalas setimpal (bahkan lebih) menjadi sumber ketenangan batin yang tak ternilai. Ini adalah jaminan bahwa tidak ada amal saleh, selama dilakukan dengan ikhlas, yang akan terabaikan di sisi-Nya.
Pemahaman mendalam tentang janji-janji dalam Al-Isra mendorong seorang Muslim untuk:
Inti dari pesan ilahi dalam rangkaian ayat ini adalah optimisme spiritual. Walaupun tantangan tampak besar seperti lautan yang tak bertepi, kekuatan iman dan janji Allah jauh lebih besar dan kekal. Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa balasan yang dijanjikan Allah bukan hanya sekadar kompensasi, melainkan anugerah yang melampaui perhitungan rasional kita. Oleh karena itu, bagi mereka yang teguh dalam Al-Isra (perjalanan malam) dan Al-Quds (Baitul Maqdis, yang juga disinggung dalam surah ini), janji tersebut adalah kepastian mutlak.