Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 1 hingga 10 dari surah ini memuat beberapa peristiwa penting dan penegasan prinsip dasar keimanan, terutama menyoroti keajaiban perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra’) dan juga memberikan peringatan keras kepada Bani Israil mengenai kesombongan dan kerusakan yang akan mereka timbulkan.
Pembahasan ini akan berfokus pada penafsiran mendalam dari sepuluh ayat pertama, yang membuka lembaran penting dalam sejarah Islam dan juga konteks moralitas ilahiah.
Ilustrasi Konsep Perjalanan Malam
Ayat pembuka ini langsung menegaskan kesempurnaan Allah SWT dengan kata "Subhan" (Mahasuci). Ayat ini mengonfirmasi peristiwa Isra', yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Ka'bah di Mekkah menuju Baitul Maqdis (Al-Aqsa) di Yerusalem. Keberkahan diberikan pada lingkungan sekitar Al-Aqsa. Tujuan utama perjalanan ini bukan sekadar pindah tempat, melainkan untuk menunjukkan sebagian dari keajaiban dan kekuasaan Allah kepada Rasulullah SAW, menguatkan hati beliau sebelum tantangan dakwah yang lebih besar.
Memasuki ayat 2, fokus bergeser memberikan kabar kepada Bani Israil tentang kedudukan mereka di bumi (Palestina) dan peringatan akan konsekuensi perbuatan mereka.
Allah menegaskan bahwa Taurat adalah petunjuk, dan mereka diperintahkan untuk hanya bergantung kepada Allah SWT sebagai pelindung (Wali). Ayat selanjutnya (Ayat 3 dan 4) merinci peringatan keras: larangan menyembah selain-Nya, larangan berbuat baik kepada orang tua, larangan membunuh anak karena kemiskinan, dan larangan mendekati zina atau perbuatan keji lainnya, serta larangan membunuh jiwa tanpa alasan yang benar.
Ayat 4 secara spesifik menyebutkan bahwa mereka akan berbuat kerusakan dua kali di muka bumi dan akan berbuat kezaliman yang besar. Ini adalah ramalan kenabian yang terwujud dalam sejarah Bani Israil setelah penolakan mereka terhadap kebenaran.
Ayat 5 hingga 8 menjelaskan dua periode kehancuran dan kebangkitan Bani Israil sebagai akibat langsung dari kemaksiatan mereka.
Pada kali pertama, Allah mengirimkan hamba-hamba-Nya yang memiliki kekuatan besar (sering ditafsirkan sebagai tentara dari Babilonia di bawah pimpinan Nebukadnezar) untuk menghancurkan rumah-rumah mereka dan melenyapkan jejak kekuasaan mereka. Ini adalah pembalasan atas penindasan mereka.
Kemudian, setelah mereka diizinkan bangkit kembali, mereka kembali berbuat kerusakan. Ayat 8 menyatakan bahwa jika mereka berbuat maksiat lagi, Allah akan mengembalikan hukuman tersebut, bahkan mungkin dengan hukuman yang lebih pedih: "Dan jika kamu berbuat kerusakan (lagi), maka Kami akan mengembalikannya (menimpakan hukuman yang serupa)."
Sepuluh ayat penutup ini menegaskan kedudukan Al-Qur'an sebagai panduan utama bagi umat Islam.
Ayat 9 adalah penegasan bahwa Al-Qur'an memberikan petunjuk menuju jalan yang paling benar dan lurus (*aqwam*). Petunjuk ini tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga ditujukan bagi mereka yang mengamalkan kebaikan (*amal shalih*), yang dijanjikan dengan pahala yang agung.
Ayat 10 melanjutkan konteks peringatan, khususnya mengenai orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir. Mereka yang menolak kebenaran Al-Qur'an akan diancam dengan azab yang pedih. Pesan ini menunjukkan bahwa kebenaran harus diterima dan diamalkan, jika tidak, konsekuensinya adalah kerugian abadi.
Secara keseluruhan, Al-Isra ayat 1-10 berfungsi sebagai fondasi: mengukuhkan mukjizat kenabian (Isra'), memberikan peringatan keras berdasarkan sejarah umat terdahulu (Bani Israil), dan menegaskan otoritas Al-Qur'an sebagai petunjuk paripurna bagi umat Nabi Muhammad SAW.