Visualisasi keseimbangan dan petunjuk dalam ayat.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 111 ayat. Ayat penutupnya, ayat 110, memiliki makna yang sangat mendalam, seringkali menjadi penutup diskusi mengenai keesaan Allah, sifat-sifat-Nya, dan pentingnya pengakuan terhadap kebenaran risalah kenabian.
Berikut adalah teks Al Isra ayat 110 dalam format Latin, diikuti dengan teks Arab dan terjemahannya:
Ayat 110 dari Surah Al-Isra ini merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, namun maknanya sangat relevan bagi seluruh umat Islam dalam praktik ibadah, khususnya dalam melaksanakan shalat.
Inti dari ayat ini adalah anjuran untuk mencari jalan tengah (*sabīlā*) dalam melantunkan bacaan shalat. Perintah ini turun pada masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah, ketika beliau dan para sahabat seringkali menghadapi tekanan dan gangguan dari kaum musyrikin Quraisy.
"Dan janganlah kamu mengeraskan shalatmu..." merujuk pada kondisi ketika Nabi SAW, dalam melaksanakan shalat di dekat Ka'bah, membaca Al-Qur'an dengan suara yang keras (lantang) agar didengar oleh kaum Quraisy dan diharapkan mereka mau memeluk Islam. Namun, tindakan ini seringkali memancing reaksi negatif dan gangguan fisik dari kaum kafir yang mengganggu kekhusyukan ibadah dan membahayakan keselamatan Muslim yang baru masuk Islam.
Dalam konteks umum, mengeraskan suara melebihi batas yang dibutuhkan dalam shalat (terutama shalat berjamaah atau shalat sunnah malam) dapat mengganggu orang lain yang sedang shalat, tidur, atau beribadah di sekitarnya.
"...dan janganlah pula merendahkannya..." Larangan ini menegaskan bahwa suara bacaan dalam shalat juga tidak boleh terlalu pelan atau lirih hingga diri sendiri pun sulit mendengarnya, apalagi orang lain yang menjadi makmum atau sedang belajar mendengarkan bacaan tersebut.
Keutamaan membaca Al-Qur'an dalam shalat adalah agar diri sendiri dapat menghayati dan merenungi ayat-ayat yang dibaca. Jika suara terlalu pelan, kekhusyukan dan hafalan pribadi bisa terganggu.
"...dan carilah jalan tengah di antara keduanya." Inilah inti ajaran moderasi (wasatiyah) dalam Islam. Jalan tengah berarti membaca dengan suara yang cukup untuk didengar oleh diri sendiri (agar dapat menghadirkan hati dan pikiran), namun tidak terlalu keras hingga mengganggu orang lain.
Para ulama menafsirkan bahwa ini mengajarkan prinsip keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan, tidak ekstrem dalam perbuatan, baik itu dalam ibadah ritual maupun dalam interaksi sosial. Keseimbangan ini mencerminkan sifat ajaran Islam yang tidak memberatkan pemeluknya.
Meskipun ayat ini turun dalam konteks spesifik di masa kenabian, pelajaran yang dapat dipetik sangat universal. Dalam kehidupan modern, konsep "jalan tengah" ini dapat diterapkan dalam banyak hal:
Ayat ini, bersama dengan ayat-ayat sebelumnya yang menutup Surah Al-Isra, menegaskan bahwa wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah petunjuk paripurna yang mengatur segala aspek kehidupan, menuntut umatnya untuk berpegang teguh pada prinsip keadilan dan moderasi, jauh dari sikap ekstrem.