Renungan Mendalam Tentang Al-Isra Ayat 18

Simbol Perjalanan Dunia dan Akhirat Akhirat Dunia

Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak ayat yang memberikan petunjuk mengenai prioritas hidup seorang mukmin. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah Surah Al-Isra (Bani Israil) ayat ke-18. Ayat ini secara tegas membedakan antara tujuan sementara duniawi dan tujuan abadi ukhrawi.

"Barangsiapa menghendaki kehidupan duniawi, maka Kami segerakan baginya di dunia sekehendak Kami kepada siapa yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." (QS. Al-Isra: 18)

Mengapa Dunia Dijanjikan Kesegerakan?

Ayat ini dimulai dengan premis yang sangat jelas: Keinginan manusia akan kehidupan duniawi. Allah SWT menyatakan bahwa jika seseorang menjadikan dunia sebagai fokus utama—mencari kemuliaan, kekayaan, atau kenikmatan sesaat—maka Allah akan menunjukkannya. Namun, penunjukan ini bukan berarti penghargaan, melainkan bagian dari ujian dan penangguhan.

Kesegeraan (al-'ajalah) di sini seringkali dimaknai sebagai pemenuhan hasrat duniawi yang cepat terwujud. Orang yang mengejar dunia mungkin meraih kesuksesan materi dalam waktu singkat. Ini adalah bentuk kemurahan yang tampak, namun tersembunyi di baliknya adalah sebuah konsekuensi besar. Dalam banyak kasus, kenikmatan duniawi yang dikejar tanpa landasan iman justru menjauhkan diri dari rahmat Allah yang sejati. Duniawi adalah hal yang fana; ia datang dan pergi sesuai kehendak-Nya, bukan hak mutlak yang dijamin kekal.

Kontras: Ancaman Akhirat yang Kekal

Poin kritis dari ayat 18 Al-Isra terletak pada kalimat penutupnya. Setelah kenikmatan dunia yang cepat berlalu itu dinikmati, Allah SWT menetapkan konsekuensi yang tidak dapat dihindari bagi mereka yang hanya berorientasi duniawi: "Kemudian Kami sediakan baginya Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir."

Jahannam bukan sekadar tempat hukuman, tetapi tempat yang disiapkan (disediakan) sebagai destinasi akhir bagi mereka yang salah memilih prioritas. Kata "tercela" (madhmuuman) dan "terusir" (madhruuran) memberikan gambaran tentang kehinaan total. Mereka yang di dunia mungkin dihormati karena harta atau kekuasaan, akan menghadapi kehinaan abadi di akhirat. Ini adalah gambaran paling gamblang mengenai kerugian terbesar—menukar kebahagiaan abadi dengan kesenangan sementara.

Prioritas Seorang Mukmin

Ayat 18 ini seringkali dipasangkan dengan ayat 19 dari surah yang sama, yang menjelaskan jalan alternatif bagi mereka yang mengutamakan akhirat:

"Dan barangsiapa yang menghendaki akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia beriman, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (QS. Al-Isra: 19)

Perbandingan antara ayat 18 dan 19 menunjukkan keseimbangan yang diajarkan Islam. Islam tidak melarang menikmati dunia, tetapi melarang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Seorang mukmin harus bersikap pragmatis: menggunakan dunia sebagai sarana untuk meraih akhirat. Jika motivasi amal adalah keridhaan Allah dan persiapan untuk hari perhitungan, maka kenikmatan duniawi yang diperoleh (rezeki) dianggap sebagai pelengkap yang membantu perjalanan spiritual, bukan sebagai tujuan utama yang mendominasi hati.

Oleh karena itu, merenungi Al-Isra ayat 18 adalah pengingat vital bahwa waktu kita di bumi sangat terbatas. Setiap pilihan, setiap ambisi, harus dievaluasi kembali: Apakah ini akan membawaku mendekat kepada tujuan akhir yang mulia, ataukah hanya mempersiapkan tempat di neraka yang tercela? Jalan yang kita tempuh hari ini menentukan tempat persinggahan kita yang abadi. Memperlambat langkah mengejar dunia yang sementara dan mempercepat langkah menuju akhirat yang kekal adalah inti dari kebijaksanaan ilahiah ini.

Penekanan pada pilihan prioritas ini menuntut introspeksi diri yang jujur. Apakah ambisi kita saat ini lebih didominasi oleh pencapaian duniawi yang cepat hilang, ataukah oleh amal jariyah dan ketaatan yang pahalanya tidak akan pernah habis? Kehidupan dunia hanyalah ladang. Jika ladang itu ditanami dengan kejar-kejaran fana, maka panennya adalah penyesalan abadi, sebagaimana diperingatkan dalam firman Allah pada ayat ke-18 ini.

🏠 Homepage