Memahami Al-Isra Ayat 25: Fondasi Keikhlasan

Simbol Hati dan Cahaya Ikhlas Niat

Ilustrasi Konsep Ketulusan Niat

Teks Ayat dan Terjemahannya

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Isra (atau Al-Israa') ayat ke-25, yang menjadi landasan utama dalam beribadah dan beramal saleh:

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِن نَّكُن نُّؤْمِنُهُمْ بَعْضَ الَّذِينَ يُؤْفَكُونَ

Terjemahan: "Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Kami telah melebihkan sebagian dari para nabi atas sebagian yang lain, di antaranya ada yang Allah ajak bicara langsung, dan ada pula yang ditinggikan derajatnya beberapa tingkat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa bukti yang nyata dan Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya orang-orang (sesudah mereka) tidak akan saling membunuh, setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) yang kafir. Sekiranya Allah menghendaki, mereka tidak akan saling membunuh, tetapi Allah Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki."

Fokus Utama Al-Isra Ayat 25: Berbakti dengan Hati yang Ikhlas

Ayat 25 Surah Al-Isra (QS. 17:25) sebenarnya membahas tentang ketaatan dan bakti kepada kedua orang tua, sebuah amalan fundamental dalam Islam. Bunyi ayat tersebut adalah:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Terjemahan (QS. 17:25): "Dan Tuhanmu telah menetapkan bahwa kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut (tua) dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu menghardik keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."

Implikasi Keikhlasan dalam Berbakti

Meskipun ayat ini berbicara spesifik tentang berbakti kepada orang tua, makna "ikhlas" tetap menjadi pondasi. Mengapa? Karena perintah berbuat baik (ihsan) kepada orang tua ditempatkan segera setelah perintah tauhid (mentauhidkan Allah). Hal ini menunjukkan bahwa kualitas amal kita, termasuk bakti kita, diukur dari kualitas niatnya. Melayani orang tua yang sudah renta membutuhkan kesabaran luar biasa. Tanpa keikhlasan, kesabaran tersebut akan cepat habis, dan perkataan "ah" atau hardikan bisa terucap secara tidak sadar.

Keikhlasan di sini berarti melakukan bakti tersebut semata-mata karena perintah Allah, bukan karena mengharapkan imbalan duniawi seperti pujian dari kerabat, warisan, atau sekadar menghindari celaan sosial. Ketika seorang anak menaati perintah ini dengan ketulusan hati, maka amalan tersebut menjadi sempurna di sisi Allah. Rasa berat dalam melayani orang tua yang membutuhkan justru menjadi penimbang amal yang sangat besar, asalkan didasari oleh niat yang murni (ikhlas).

Keselarasan Tauhid dan Ihsan

Ayat ini mengajarkan integrasi sempurna antara ritual vertikal (hubungan dengan Tuhan) dan hubungan horizontal (hubungan antar sesama manusia). Allah tidak hanya menuntut ibadah ritual (shalat, puasa), tetapi juga perilaku etis yang mendalam. Jika seorang Muslim rajin shalat namun kasar kepada orang tuanya, maka kesempurnaan tauhidnya belum terwujud secara utuh dalam praktik kehidupan.

Oleh karena itu, memahami Al-Isra ayat 25 adalah memahami bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apa pun—bahkan sekadar menahan lidah agar tidak mengucapkan kata yang menyakitkan kepada orang tua—akan bernilai ibadah setara dengan ketaatan tertinggi jika dilandasi keikhlasan. Keikhlasan ini berfungsi sebagai filter yang memisahkan antara perbuatan yang hanya dilihat manusia dan amal yang diterima oleh Sang Pencipta semesta alam. Tanpa filter ini, amal saleh bisa terdegradasi menjadi sekadar formalitas sosial.

Pentingnya Kata yang Mulia (Qawlan Kariman)

Perintah untuk mengucapkan "perkataan yang mulia" (qawlan kariman) melengkapi dimensi keikhlasan. Ini bukan hanya tentang tindakan fisik, tetapi juga tentang cara penyampaian. Keikhlasan harus tercermin dalam kelembutan tutur kata. Dalam menghadapi usia senja orang tua, di mana daya ingat dan fisik mereka mungkin menurun, kata-kata yang mulia adalah manifestasi tertinggi dari rasa hormat dan syukur atas jasa mereka membesarkan kita. Ini adalah ujian keikhlasan yang paling nyata, menguji apakah kita mencintai mereka karena diri mereka atau karena manfaat yang pernah mereka berikan saat kita muda. Jika hanya karena manfaat masa lalu, pelayanan saat mereka lemah akan terasa berat dan tidak tulus.

🏠 Homepage