Ayat ketujuh dari Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Surah Bani Israil) adalah bagian penting dari rentetan ayat yang membahas tentang janji Allah SWT kepada Bani Israil, baik janji kebaikan maupun hukuman atas perbuatan mereka.
Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri.
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَاAyat ini secara tegas menyatakan prinsip dasar keadilan ilahi: setiap perbuatan, baik atau buruk, akan kembali kepada pelakunya. Ini adalah penegasan bahwa amal perbuatan manusia tidak sia-sia dan bahwa pertanggungjawaban bersifat personal.
Surat Al-Isra ayat 7 ini adalah bagian dari serangkaian ayat (ayat 4 hingga 8) yang menjelaskan tentang dua kali kerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil di muka bumi. Ayat sebelumnya (ayat 6) berbicara tentang pengutusan mereka kembali setelah kerusakan pertama. Ayat 7 ini berfungsi sebagai peringatan dan penekanan bahwa konsekuensi dari perbuatan mereka adalah mutlak dan langsung.
Konsep utama dalam ayat ini adalah 'ihsan (berbuat baik) dan 'isa'ah (berbuat jahat). Allah tidak mengambil keuntungan dari kebaikan kita, juga tidak dirugikan oleh kejahatan kita. Ini mengajarkan tentang akuntabilitas diri. Ketika seseorang melakukan kebaikan, manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri, baik di dunia ini dalam bentuk ketenangan dan balasan positif, maupun di akhirat dalam bentuk pahala.
Sebaliknya, ketika seseorang melakukan kejahatan, kerugiannya akan kembali padanya. Ayat ini menghilangkan ilusi bahwa perbuatan buruk dapat disembunyikan atau dibebankan sepenuhnya kepada orang lain. Ini adalah panggilan untuk introspeksi dan kesadaran diri yang tinggi dalam setiap tindakan yang dilakukan.
Dalam Islam, kebaikan tidak hanya dilihat dari hasil akhir, tetapi juga dari niat yang menyertainya. Ayat ini menekankan bahwa ketika niat itu baik dan tindakan yang menyertainya adalah baik, maka buahnya akan dinikmati oleh pelakunya. Ini memotivasi umat Islam untuk senantiasa berusaha memperbaiki diri dan lingkungan di sekitar mereka, karena mereka sedang menanam benih bagi masa depan spiritual mereka sendiri.
Bagi Bani Israil pada konteks historisnya, ayat ini menjadi peringatan keras. Meskipun mereka mengklaim memiliki ikatan khusus dengan Allah, ayat ini menegaskan bahwa janji ilahi itu bersyarat pada kepatuhan dan moralitas. Jika mereka kembali berbuat kerusakan (seperti yang diisyaratkan pada ayat 4), maka mereka akan menerima konsekuensi yang setimpal sesuai dengan firman-Nya.
Meskipun berbicara secara spesifik mengenai Bani Israil, pesan Surat Al-Isra ayat 7 ini bersifat universal dan relevan bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Ini adalah hukum kausalitas spiritual yang fundamental. Dalam kehidupan sehari-hari, ini mengajarkan bahwa integritas diri adalah aset terbesar. Membangun reputasi yang baik, menjaga hubungan sosial, dan menjalani ibadah dengan tulus adalah investasi untuk diri sendiri.
Misalnya, ketika seseorang berbuat jujur dalam berdagang, ia membangun kepercayaan pasar. Ketika seseorang bersikap sabar dalam menghadapi musibah, ia menguatkan jiwanya sendiri. Semua tindakan positif tersebut membentuk karakter dan nasib pelakunya.
Sebaliknya, kebohongan, pengkhianatan, atau ketidakadilan akan menggerogoti kepercayaan dan kedamaian batin pelakunya. Pada akhirnya, ayat ini adalah pengingat yang kuat bahwa kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri di bawah pengawasan dan ketetapan Allah SWT. Kebaikan yang kita lakukan adalah untuk "diri kita sendiri" (li anfusikum), dan kejahatan yang kita lakukan adalah "milik kita" (fa laha).