Ikon Keadilan dan Kedermawanan Simbol timbangan keadilan yang seimbang di satu sisi dan tangan yang memberi sedekah di sisi lain.

Makna Mendalam Surah Al-Isra Ayat 26 Sampai 30

Surah Al-Isra (atau Al-Isra' wal-Mi'raj) adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran moral, sosial, dan spiritual. Ayat 26 hingga 30 secara spesifik membahas prinsip fundamental dalam Islam mengenai hubungan sosial, ekonomi, dan tanggung jawab individu terhadap keluarga serta masyarakat.

Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pedoman praktis tentang etika bermuamalah, yang meliputi hak kerabat, larangan pemborosan, dan sikap terhadap orang yang membutuhkan.

Ayat 26: Menjaga Hak Kerabat dan Menjauhi Pemborosan

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
"Dan berikanlah kepada kerabat dekat haknya, kepada orang miskin dan ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal). Dan janganlah kamu membuang-buang hartamu secara boros."

Ayat ini memulai dengan perintah yang sangat tegas: menunaikan hak-hak sosial. Prioritas pertama diberikan kepada kerabat dekat (Dzul Qurbā). Ini menegaskan bahwa tanggung jawab sosial dimulai dari lingkaran terdekat. Setelah itu, diperintahkan untuk memperhatikan orang miskin (al-Miskīn) dan ibnu sabil (musafir yang terputus)**. Ketiganya adalah kelompok yang membutuhkan perhatian utama dalam distribusi kekayaan.

Bagian penutup ayat ini melarang pemborosan (tabdzīr). Tabdzir bukan sekadar pengeluaran berlebihan, tetapi juga penggunaan harta pada hal-hal yang sia-sia atau maksiat, yang berarti menyia-nyiakan anugerah Allah SWT. Keseimbangan antara memberi dan menjaga harta adalah inti ajaran ini.

Ayat 27: Peringatan Keras Terhadap Tabdzir

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
"Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan; dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."

Ayat selanjutnya memberikan peringatan yang sangat keras mengenai bahaya pemborosan. Allah SWT menyamakannya dengan persaudaraan setan. Hubungan ini ditekankan karena setan pada dasarnya adalah makhluk yang kufur (ingkar) terhadap nikmat Tuhannya. Dengan memboroskan harta, seseorang menunjukkan sifat tamak, tidak bersyukur, dan mengabaikan pertanggungjawaban atas titipan Allah tersebut. Ini adalah teguran keras bagi gaya hidup hedonis yang mengabaikan kebutuhan sesama.

Ayat 28: Kelembutan dalam Memberi dan Antisipasi Kesulitan

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِّن رَّبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُل لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُورًا
"Dan jika kamu berpaling dari mereka karena mengharapkan rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang santun (yang mudah didengar)."

Ayat ini menunjukkan tingginya tingkat etika komunikasi dalam Islam, bahkan dalam kondisi finansial yang sulit. Terkadang, keadaan memaksa seseorang untuk tidak bisa memberi secara materi saat itu juga. Dalam situasi tersebut, perintahnya adalah "katakanlah kepada mereka ucapan yang santun (ma’isūran)". Ucapan santun ini berarti janji yang baik, kata-kata penenang, atau penjelasan lembut tanpa menghina atau meremehkan peminta. Ini mengajarkan bahwa menjaga harga diri orang lain sama pentingnya dengan memberi bantuan itu sendiri.

Ayat 29: Larangan Kekikiran dan Prinsip Keseimbangan

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا
"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir), dan jangan pula kamu mengulurkannya terlalu lebar (boros), sehingga kamu menjadi tercela dan menyesal."

Ayat 29 menyempurnakan prinsip ekonomi sosial dengan melarang dua ekstrem perilaku: kikir (tangan terbelenggu) dan boros (tangan terulur terlalu lebar). Kekikiran akan membuat seseorang tercela di mata Allah dan manusia, sementara pemborosan akan menyebabkan penyesalan (mahsur) ketika harta habis dan kebutuhan mendesak datang tanpa ada persediaan. Kunci suksesnya adalah moderasi (tawassuth) dan keseimbangan dalam mengatur keuangan.

Ayat 30: Luasnya Rahmat Allah dan Kelapangan Rezeki

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya."

Sebagai penutup rangkaian ayat ini, Allah SWT mengingatkan bahwa Dialah yang mengendalikan rezeki (rizq). Dia bisa melapangkannya atau menyempitkannya sesuai kehendak-Nya. Poin krusialnya adalah bahwa pembatasan atau peluasan rezeki bukanlah indikasi keimanan atau kekufuran seseorang, melainkan bagian dari ilmu dan kebijaksanaan Allah SWT. Dengan memahami hal ini, seorang mukmin harus senantiasa bersyukur saat lapang dan bersabar saat sempit, tanpa pernah berhenti beramal baik karena takut rezeki habis. Allah Maha Mengetahui kondisi tersembunyi setiap hamba-Nya.

Secara keseluruhan, Al-Isra ayat 26 sampai 30 adalah kurikulum mini tentang tanggung jawab finansial, empati sosial, etika komunikasi, dan tawakal kepada Allah SWT dalam mengatur kekayaan duniawi.

🏠 Homepage