Al-Qur'anul Karim adalah petunjuk utama bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan yang benar sesuai kehendak Allah SWT. Di antara ayat-ayat yang memiliki penekanan fundamental adalah yang berkaitan dengan prinsip tauhid—meng-esakan Allah—dan larangan keras terhadap segala bentuk kesyirikan (syirik). Ayat yang secara eksplisit membahas hal ini adalah **Surah Al-Isra, ayat 39**.
Teks dan Terjemahan Al Isra Ayat 39
Terjemahan: "Itu sebagian dari hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu jadikan di samping Allah tuhan yang lain, karena (jika kamu melakukannya) kamu akan dicampakkan ke dalam Jahannam dalam keadaan tercela lagi diusir."
Ayat ini merupakan penutup dari serangkaian instruksi penting yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, setelah sebelumnya Allah SWT juga menegaskan larangan membunuh anak karena takut kefakiran (ayat 31) dan larangan mendekati zina (ayat 32). Ayat 39 ini menegaskan pilar utama ajaran Islam: tauhid mutlak.
Peringatan Keras Terhadap Syirik
Inti dari ayat 39 adalah larangan tegas untuk mempersekutukan Allah dengan apa pun juga. Dalam konteks tauhid, syirik adalah dosa terbesar yang tidak terampuni jika pelakunya meninggal dunia tanpa sempat bertaubat. Ayat ini tidak hanya melarang penyembahan berhala secara fisik (seperti yang umum terjadi pada masa Jahiliyah), tetapi juga mencakup segala bentuk persekutuan dalam ketaatan, pengharapan, dan ketakutan kepada selain Allah.
Allah SWT menggunakan redaksi yang sangat keras untuk menggambarkan konsekuensi dari perbuatan tersebut: "maka kamu akan dicampakkan ke dalam Jahannam dalam keadaan tercela lagi diusir." Kata "tercela" (mahluman) menunjukkan kehinaan dan rasa malu yang amat sangat, sementara "diusir" (madhmuuman) menyiratkan pengusiran total dari rahmat dan kebaikan Allah SWT.
Hikmah di Balik Larangan
Ayat ini diawali dengan penegasan bahwa perintah-perintah sebelumnya, termasuk larangan syirik ini, adalah "sebagian dari hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu." Mengapa tauhid menjadi inti hikmah? Karena hanya dengan mengakui Keesaan Allah, manusia dapat menempatkan segala sesuatu pada proporsinya yang benar.
Ketika seseorang menyekutukan Allah, ia menempatkan makhluk lemah—baik itu berupa benda mati, hawa nafsu, atau bahkan manusia lain—sejajar dengan Pencipta alam semesta. Hal ini mengakibatkan kekacauan mental, spiritual, dan sosial. Kehidupan yang dibangun di atas syirik adalah kehidupan yang rapuh, karena fondasinya tidak kokoh.
Aplikasi Kontemporer Larangan Syirik
Meskipun praktik penyembahan patung mungkin tidak lagi menjadi dominasi di banyak masyarakat, bentuk-bentuk syirik modern perlu diwaspadai. Syirik zaman sekarang bisa berbentuk:
- Syirik dalam Ibadah: Melakukan ritual keagamaan yang ditujukan kepada selain Allah (misalnya, meminta pertolongan kepada kuburan atau wali yang sudah wafat seolah-olah mereka memiliki kuasa ilahi).
- Syirik dalam Ketaatan (Syirkut Taqleed): Mengikuti aturan atau pandangan manusia (tokoh agama, pemimpin politik) secara mutlak tanpa peduli jika aturan tersebut bertentangan dengan hukum Allah yang jelas.
- Syirik dalam Motivasi (Riya'): Melakukan amal saleh bukan murni karena mencari keridhaan Allah, melainkan untuk mendapatkan pujian atau pandangan baik dari manusia.
Al Isra ayat 39 mengingatkan bahwa kemuliaan sejati seorang hamba hanya dapat dicapai melalui pemurnian total niat dan ibadahnya kepada Allah SWT. Mencari kemuliaan di tempat lain selain dari sumber kemuliaan itu sendiri (Allah) hanya akan berakhir pada kehinaan dan pengusiran dari surga-Nya.
Penutup
Memahami dan mengamalkan makna Al Isra ayat 39 adalah kunci keselamatan abadi. Ia menuntut seorang Muslim untuk terus-menerus memeriksa hatinya agar tidak ada sekutu bagi Allah di dalamnya. Jalan menuju kebahagiaan sejati adalah jalan yang lurus, yaitu jalan yang hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, tanpa kompromi terhadap prinsip tauhid.